Headlines News :
Home » » DARI PANGGUNG SETENGAH ABAD PRODI TARI: SEJARAH DAN AKU

DARI PANGGUNG SETENGAH ABAD PRODI TARI: SEJARAH DAN AKU

Written By Lpm Daunjati on Kamis, 31 Maret 2016 | 15.30.00

John Heryanto

Aku. Foto: John Heryanto
Di tengah berkembangnya industri dan pasar bebas, Prodi tari membaca kembali sejarah sebagai jalan untuk menghadapi perubahan. Dimana pendidikan seni tak dapat dilepakan dari aestetik need yang memiliki pengaruh bagi perkembangan masyarakat.

Acara milad ini tentunya bukan hanya milik Prodi Tari semata melainkan juga milik masyarakat, maka dari itulah berbagai acara digelar  mulai Workshop Tari Kreasi (9 Februari) yang melibatkan seluruh sekolah SMP dan SMA se –Bandung Raya, Seminar ‘Berpikir Ulang Dunia Tari menjadi Fakultas Tari’ (24 Maret), Bandung Ayo Menari (27 Maret) dengan melibatkan 700 penari dari berbagai sanggar  serta Festival Tari Kreasi Remaja dan Umum (29-30 Maret) dan pucaknya ‘Gelar Karya’ dari mahasiswa, dosen dan alumni (31 maret).

Demi Masa. Foto: John Heryanto
Mengenai sejarah dan apa yang kini dihadapi oleh masyarakat juga hadir dalam pertunjukan di atas pangung bahwa di depan mata seluruhnya sudah tak seperti dulu melebihi apa yang terpikirkan sebelumnya.

Melalui pertunjukan ‘Aku’ Lena Guslina (Alumni) mengungkap apa yang tersimpan dalam kepala selama berabad-abad dan tubuh hanyalah mesin dari pada kehendak. Pada bukulah orang-orang berlindung, lembaran kertas yang menjadi topeng si pememiliknya. Apa yang menjadi kenyakinan yang diperoleh dari buku telah menenggelamkan dirinya menjadi catatan-catatan dimana manusia telah pindah ke dalam buku menjadi mitos. Di sini Guslina menawarkan apa yang berlangsung dalam kenyataan hidup hari ini yang semakin virtual dan sulit lagi menemukan apa yang dinamakan sebagai manusia yang sebenarnya  kecuali kenangan.

Palus Tarung. Foto: John Heryanto
Sedangkan Ine Ariani membaca sejarah dalam ‘Palus Tarung’ sebagai kenyataan yang meyakitkan dan pada sepanjang sejarah itu pula perempuan selalu menjadi korban kekuasaan laki-laki. Ranjang di sini bukan lagi tempat menyimpan kepala di atas bantal yang lantas tidur menelusuri mimipi melainkan di ranjang itulah sesunguhnya kekerasan bermula dan menjadikan perempuan sebagai kelas kedua dan korban dari sejarah yang ditulis laki-laki dan tak ada lagi tempat paling rahasia kecuali kematian itu sendiri.

Di sisi lain Wajiwa- Alfiyanto (Dosen Tari) dengan ‘ Demi Masa’ menghadirkan sejarah sebagai kesatuan waktu dan ruang yang kekal seperti ingatan anak-anak ketika tidur di paha ibu yang lelap, di balik jendela rumah. tubuh anak-anak yang polos dipenuhi lompatan – lompatan. Tubuh yang tanpa curiga menjalani keseharian seakan menegaskan bahwa sejarah adalah yang dijalani dengan bergembira sebagai pemilik seperti pula bebasnya bermain di tanah meski harus basah dan kotor di baju.

Nyangku. Foto: John Heryanto
Dari ketiga karya tersebut perubahan dibaca sebagai aku yang terlibat dalam sejarah atau sejarah dan aku yang berjalan. Selain pertunjukan tersebuat ada juga Oos Koswara (Alumni) ‘Nyangku’ yang mengadopsi kebiasaan upacara membersihkan benda pusaka atau nyangku di Panjalu Ciamis, meski nilainya tak lagi bersipat ritual namun barangkali dengan cara ini pula seni di masyarakat dapat berkembang dan melahirkan berbagai kemungkinan lain.  Selain itu ada juga pertunjukan ‘Badaya Rancaekek’ dari ibu-ibu dosen Tari , KokoDave, Himata serta Juara Festival Tari Kreasi Remaja dan Umum serta berbagai pertunjukan lainnya.


Pada akhirnya gelar karya dosen, mahasiswa dan alumni ini menjadi jawaban baru tentang yang lalu sebagai ruang kontemplatif untuk hari ini dan esok hari menjadi performatif.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger