MENEKAN KEBAHAGIAAN LEWAT SANG NALAR : CARA ACE MENGAYUH BECAK YANG SUSAH PAYAH

Mohamad Chandra Irfan

(Pertunjukan Ke-11 Pada FTR V: Bengkel Sastra, SMAN 1 Majalaya - 'Ambang-Ambang' | Sutradara: Shendy Septiandi)

Foto: Lukman Nurdi
Daunjati, Rabu sore (23/03) – Gong dipukul, gong mengeluarkan suaranya. Satu persatu pemain masuk, kemudian menyanyi “hamba di hati, hamba di jiwa. Kematian adalah kebahagiaan kita yang abadi”. “Ini mimpi buruk. Ini bencana”, teriak Ace. Ace seorang laki-laki bertubuh pendek berbadan ceking, pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Ia selalu berharap kemiskinan yang menimpa dirinya dan keluarganya akan ada yang menuntaskan. Ia berjalan menembus ruang dan waktu, berharap bertemu Sang Nalar. Di hadapan Sang Nalar ia ingin mengadukan keluh-kesahnya. Yani istri Ace sedang dalam keadaan hamil. Ke mana-mana Yani bawa jabang bayi tersebut. Bayi itu lahir. Bayi itu mati. Ace dan Yani berjalan ‘ke atas’, barangkali mereka akan panen keinginan dan cita-citanya: keadilan dan kebahagiaan. Lampu meleleh. Panggung ramai oleh suara tepuk tangan.

Peristiwa "Ambang-Ambang" arahan sutradara Shendy Septiandi di atas adalah upaya menggambarkan perjalanan seorang manusia untuk menemukan keinginan-keinginannya. Penonton dibawa pada berbagai kemungkinan ruang; khayal dan realistik. “Ambang-Ambang” diejawantahkan dalam peristiwa paling murung yang selalu dan akan dialami oleh manusia. Kemiskinan tak bisa disangkal oleh orang-orang yang tidak mampu menanganinya. Impresi yang kemudian muncul dari “Ambang-Ambang” adalah bagaimana seorang manusia hidup dan dituntut survival dalam keadaan perut yang lapar, pakaian yang kucel, barang-barang kebutuhan yang masih terwujud hanya dalam pikiran saja, dan banyak lagi tuntunan yang mesti diselesaikan. Di sini konsepsi dualisme akan terus hadir dan menguntit. Ace sebagai tokoh protagonis menggulirkan cerita dengan menyatakan keberadaan dirinya yang benar-benar miskin—kemiskinan tersebut terus-menerus dibombardir oleh suara-suara kecil-menukik dari istrinya, Yani, di mana naluri perempuan yang selalu menekan balik pada subjek liyan seandainya tubuh dan pikirannya ditekan oleh gejolak perasaannya. Berangkat dari hal itu, Ace justru hanya mengkonfilkkan ketertekanannya dalam bentuk jalan pintas; mencari Sang Nalar. Yang justru Sang Nalar adalah makhluk yang selalu menjadi tuan dalam setiap manusia, dan ironisnya, Ace sama sekali tidak melakukan prosesi interogasi internal; terhadap tubuhnya, bathinya, dan akalnya. 

Vokalisasi Ace dalam setiap adegannya membawa instrumentlisasi yang cukup filosifis-reflektif—ia menjadi suara lain bagi kemayoran suara yang lahir dari masyarakat sekitarnya. Ace menemukan dirinya setelah menegasi yang berada di depan-belakang dan samping kanan-kirinya. Ace yang tukang becak berpretensi keluar dari kubangan kemiskinannya, anehnya, Ace tidak mengutuki profesi tukang becak-nya. Proses dualisme tersebut tidak mewujud dalam laku Ace di atas panggung, justru yang terjadi adalah deklamasi-panjang yang ngayayay. Risiko dari deklamasi-panjang tersebut menyebabkan dinamika dramatik secara keseluruhan menjadi ajek dan resultannya juga pada transisi psikis Ace yang kehilangan tangga emosinya. Sutradara lupa bahwa pemilihan strategi-fonetik adalah tugas sutradara juga. Aktor dibiarkan berjalan sendirian dan kehillangan mata pertamanya ketika latihan, yaitu sutradara.

Keberjarakan proferti dengan tubuh Ace terlihat dari kesusah-payahannya Ace ketika mengayuh becak-nya, Ace seperti bukan tukang becak. Tapi tokoh Ace adalah tukang becak. Jika pun Ace mempunyai postur yang tidak tinggi, dalam hal ini pendek, seharusnya Ace atas koordinasi dengan sutradara dan penata artistik sudah mampu menyiasati keberjarakannya tersebut. Sehingga yang terjadi adalah kenaifan. Penonton dibawa ke medan ketawa yang menyudutkan. Siasat-siasat teknis lagi-lagi nampak telanjang di atas panggung.

Dengan tanpa maksud menyanding-nyandingkan dengan garapan yang sudah menjadi kanon, pilihan bentuk pertunjukan “Ambang-Ambang” banyak mencomot sana-sini, di antaranya; Tengul-nya Arifin C. Noer, Kapai-Kapai-nya Arifin C. Noer, dan Universitas Orang-Orang Mati-nya Irwan Jamal—ketiga bentuk itu diracik sedemikan rupa, tapi tidak menemukan penyegaran atas comotannya tersebut. Masih dibawa dalam bentuk utuh comotannya dan tidak diolah dengan ketat, jika pun demikian setidak-tidaknya menemukan bentuk yang lebih segar bahkan hasilnya jauh melompat dari comotannya. Ini entah disadari atau tidak, tetapi masalah terpengaruh atau tidak terpengaruh, semua orang pasti terpengaruh. Tinggal bagaimana keterpengaruhan tersebut mestinya menjadi bahan diskursus dan pergulatan untuk keluar dari pengaruh.

Foto: Lukman Nurdi
Pada adegan sebelum akhir, Ace memanjat setelah kain putih turun dari atas betten, ia sekuat tenaga memanjat—tapi tidak sampai. Kemudian Yani menjerit sebelum akhirnya ia melahirkan bayinya. Bayi yang akhirnya meninggal. Yang tidak pernah mencecap pahitnya dunia. Ruang imaji itu secara penempatan terbangun. Namun secara simbolik cenderung memaksakan pemaknaan. Lampu banyak menampilkan ruang-ruang filmis, terpisah dan berjarak ke entah. Penata artistik (Turbinstar) cukup-cakap sekaligus mentah. Kecakapannya dalam menempatkan setting sebagai benda yang efisisen. Namun mentahnya adalah ketidak-eksploratifannya bagaimana mengolah juntaian kain putih, akar yang tergantung menjadi puitika-panggung. Sehingga pada beberapa adegan, ada yang memang korelatif, ada yang sama sekali tidak korelatif. Untuk kasus yang tidak korelatif, penata artistik tidak melakukan puitika-jeda untuk menemukan bahasa yang timbul dari penonton ketika pertunjukan berawal sampai berakhir.

Ace dan Yani kemudian membawa bayinya yang mati. Dunia atas adalah sebuah ruang untuk menemukan kebahagiaan. Barangkali kita adalah Ace dan juga Yani yang selalu terus-terusan mendamba kebahagiaan. Setelah Ace dan Yani berjalan ke entah, kebahagiaan macam apa lagi yang kita inginkan?   

Related

Teater 2164734080739667217

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item