MENEMUKAN RUANG DARI MATA ABU

Ganda swarna


(Pertunjukan ke 12  Pada FTR V :  Teater  Kompeni,  SMKN 1 Bogor – Dunia Abu |Karya/ Sutradara: Ahmad Nur Ali)


Foto: Daunjati- Imanuel Derporaz










Daunjati, rabu malam (23/03) Cit...cit..cit...cit ! Suara derap kaki. Suara  yang menggema dari sepatu berbunyi. Abu dan empat orang teman imajinasinya masuk dari arah penonton. Ruang yang di bangun oleh imajinasi. Tiga baris kain. Merah sebelah kiri, biru tengah, hijau kanan. Dan satu pohon dari balon di depan kanan panggung proscenium. Abu dan empat temannya dalam ruang imaji di tandai dengan pakaian Gatot Kaca. Penonton memakai topeng yang di bagikan crew panggung.

Narasi terkesan hadir sebagai teks yang di pindahkan dari mata penonton ke mata Abu. Melayang-layang dalam ruang imajinasi Abu yang mengalami gangguan disleksia (gangguan dalam perkembangan baca dan tulis), ruang representasi yang hubungan antara teks dan gambar di panggung telah diikat pada bagaimana Abu melihat dunia imaji dan bukan imaji. Mereka bermain, menari. Seorang guru imaji datang membagikan hasil ujian. Bahasa muncul  sebagai pengintimidasi ruang abu, muncul sebagai gambar huruf-huruf dari infokus dan aktor yang memainkan cahaya dari bangku penonton dengan suaranya yang meneror. Membangunkan abu dari tidurnya, mengahadapi  ruang realitas yang di stilisasasi dengan gerak tubuh dan setting rumah susun warna-warni.

Teater Kompeni mengawali pertunjukannya ‘Dunia Abu’ dengan melakukan gerak ruang imajinasi keruang nyata sehari-hari yang  di stilisasi. Perpindahan ruang yang dibangun dari imajinasi ke ruang nyata yang di stilisasi, menjadi ruang baru di dalam panggung. Ruang yang dituntun untuk dilihat dengan mata Abu dalam melihat dunia nyatanya.

Strategi artistik yang dihadirkan di dalam panggung dibangun dengan mengolah rumah susun tempat Abu dan tetangganya tinggal, mengolah setting rumah dari merubah tekstur warna dinding rumah dengan bahan-bahan dari kertas minyak berwarna, botol-botol plastik, kepingan CD.

Strategi ruang nyata yang di stilisasi, juga dibangun pada pengolahan kostum dan gestur aktor.  Kostum di perbesar dengan menggunakan pakaian-pakaian tradisi sesuai latar belakang tokoh-tokoh yang dihadirkan, Jawa, Betawi, Minang, dan kultur Urban pada tokoh anak-anak. Pengolahan properti untuk mempertegas ruang juga di hadirkan pada Bobot ukuran tas sekolah, gadged, benda sehari-hari, diatas ukuran normalnya.

Foto: Daunjati -Imanuel Delporaz
Pertunjukan ini menggabungkan antara yang fakta dan imajinasi, memainkan narasi sebagai susunan imajinasinya yang baru yang menumpuk antara fakta dengan imajinasi, sebagai aksi dan kenyataan sudut pandang abu terhadap lingkungan sosialnya.

Abu dan keluarganya selalu menjadi korban dalam lingkungan itu. cara lingkungan memperlakukan abu berimbas pada orang tuanya. Abu yang selalu menjadi objek intimidasi dan orang tua menjadi objek pemerasan dari tingkah abu yang sering menggit temannya untuk membela diri dan merusak gadget temannya. abu hampir selalu berada antara luar dan dalam dunianya itu. ia selalu lari ke ruang imaji di balik pohon depan rumahnya. Ruang yang kusus di bangun dengan imajinasi untuk bersembunyi. Bersembunyi dari intimidasi orang-orang dan pertengkaran orang tua karena masalah keuangan keluarga. Di ruang imaji itu ia bertemu dengan teman imajinya.

Untuk meyakinkan penonton atas Fakta dunia Abu dalam pertunjukan ini, dibangun dari konflik keluarga dan relasi Abu dengan teman-temannya. kemiskinan dan intimidasi dari banyak orang, hadir dengan gaya pengucapan yang cair dekat dengan keseharian para aktor. Seperti kultur urban yang dekat dengan lingkungan mereka, Bogor. Fakta juga terlihat pada propesi yang hadir di dalam pertunjukan. Ada pertemuan antara pedagang sayur, ibu-ibu rumah tangga, anak sekolah, guru, tukang gojek. Atau dari reaksi abu yang ditandai saat dia didalam ruang imajinya sangat aktif berbahasa dan di luar ruang imajinya sangat pendiam dan terbatah-batah ketika berbahasa.

Pertunjukan yang di bawakan ini, di akhri dengan datangnya seorang guru kerumah  abu. Melihat  keadaan abu yang sudah absen beberapa minggu. Dalam kerumunan tetangga abu yang panik  mendengar abu bunuh diri dan ternyata tidak, ibu guru menjelaskan tentang masalah gangguan disleksia yang terjadi dengan abu. Warga mulai mengerti. Abu mendapatkan posisi dalam masyarakat lingkungannya. Keluarga abu juga mendapat rezeki yang banyak dari ikan yang didapat ayahnya. Satu ekor ikan di bayar oleh ibu guru dengan harga yang  mahal. Uang itu  menjadi penolong abu dan keluarganya dari segala hutang yang melilit.


Related

Teater 6950877143427759589

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item