MENGADVOKASI TEKS “MAIN-MAIN” : TV ITU BENTAR LAGI GUE BANTING!

Mohamad Chandra Irfan

(Pertunjukan Ke-6 Pada FTR V: BESKA, SMA Bhakti Kartini, Bekasi - 'Main-Main' | Karya: Mirna Agania & Riska Oktaviani | Sutradara: Riska Oktaviani)


Foto: Daunjati/Anzar Rizky Ismadatullah
Daunjati, Minggu malam (20/03) – Mana, Memen, Ncing?, ungkap Eti (Miftahuni Syariatunnufus) sebelum menyuruh Memen (Riska Oktaviani) untuk membelikan pulsa. “Noh lagi nonton sinetron Si Anak Jalanan. TV itu bentar lagi gue banting!”, jawab Ncing. Memen datang. Memen pun disuruh beli pulsa sama Eti. Memen mau. Memen ingin tahu seputar informasi yang terjadi di media sosial. Ncing (Mirna Agania) hanya melihat tingkah kedua anak tersebut sambil tak lupa mengumpati aktivitas mereka. Anak-anak yang sebaya dengan Memen dan Eti secara bersamaan menonton tayangan televisi;  berita pengeboman, sinetron dan tawuran antar pelajar. Selepas anak-anak tersebut menonton tayangan televisi, Ncing yang sedari awal kesal akan kelakukan anaknya, Memen, datang dengan memeluk televisi berukuran 14 inch, hanya lewat tanpa mengucap satu kata pun, menerobos kerumunan anak-anak, naik ke area kursi taman, lalu dibantingkannya TV tersebut. Lampu perlahan turun. Panggung gelap.

Pertunjukan “Main-Main” besutan Riska Oktaviani (Sutradara) dari BESKA (Bengkel Seni Kartini), SMA Bhakti Kartini, Bekasi, yang berdurasi sekitar 40 menit tersebut—mencoba mengungkap realitas manusia zaman sekarang yang terampas seluruh aktivitasnya oleh tekhnologi. Arus informasi di dunia maya seperti sebuah kitab suci yang keberadaannya tidak bisa dihindari. Semakin dihindari semakin tertinggallah laju informasi yang se-per-detik-nya terus-menerus gencar menggempur pikiran dan tindak-tanduk manusia. Selain daripada smartphone, televisi pun ikut andil dalam mengkonstruksi prilaku manusia. Acara-acara di-televisi menyusup ke dalam berbagai kategori; iklan busana, alat kecantikan, pewangi ruangan, debat politisi sampai gerakan sayap-kanan ekstrem (teroris) ditayangkan tanpa mempertimbangkan siapa subjek yang melihatnya—tekhnologi, diwakili oleh televisi dan smartphone menjadi konsumsi primer setelah sandang, pangan, papan.

“Saat ini siapa sih yang ga main-main? Politisi main-main, semuanya main-main!”, dialog Eti tersebut adalah sikap bathin anak-anak berusia tanggung yang mencoba mengetuk kesadarannya dengan memahami fenomena yang telah dipelintir dengan desain permukaan yang terkemas tapi dalamnya sama sekali tidak tersentuh dengan baik—ibarat handphone seorang alim, wallpaper-nya bergambarkan dirinya sedang memakai sorban tapi pada aplikasi bbm atau whatsaap-nya berisikan chatting-chatting seputar bagi-bagi kue kekuasaan dan tarif honorium tabligh akbar-nya. Kita tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana setiap orang me-main-main-kan rute pikirannya. Kita hanya tahu sirkuit pikiran setiap orang dari luarnya saja.

Foto: Daunjati/Anzar Rizky Ismadatullah
Untuk menangkap i’tikad sutradara dalam meng-combine gambar-gambar dari setiap adegannya tidaklah terlalu sulit ditangkap, hanya saja sutradara tidak bisa mengolah transisi gambar satu ke gambar yang lainnya. Eksesnya terhadap pertunjukan, jadi lebih banyak menciptakan peristiwa-peristiwa longgar ketimbang peristiwa yang padat-efektif-terejawantah. “Main-Main” menjadikan tekhnologi sebagai pusat-antagonis dari peristiwa, akan tetapi tekhnologi sebagai pusat-antagonis hanya menjadi baptisan yang kemudian dinegasi lagi oleh kekurangdiberdayakannya benda-benda yang mewakili tekhnologi tersebut. Wakil-wakil tekhnologi hanya bertahan di wilayah permukaan. Tidak hidup sebagai tokoh yang sama-sama mesti dibahasakan.

Pembahasaan wakil-wakil tekhnologi (televisi, smartphone) yang menjadi sumber konflik mestinya mempunyai kapasitas ekspresi yang saling menyulam—semisal dengan cara menghidupkan kentongan sebagai benda bunyi, kemudian direkonstruksi kembali kode pukulan kentongannya, untuk menjembatani visual manusia berusia tanggung yang menjadi korban tekhnologi. Setting kentongan yang ditata dengan pola simetrical-balance tersebut tidak terolah dengan baik, sehingga kentongan hanya menjadi souvenir pertunjukan—tidak menjadi benda yang monumental dari peristiwa main-main.

Di akhir pertunjukan, Ncing membantingkan televisinya dengan posisi membelakangi penonton, ia menjadi satu-satunya delegasi manusia “Main-Main” yang tidak sepakat akan televisi.  Setelah televisi dibanting dengan harapan bisa mengurangi korban-korbannya dan sebagai bentuk konfrontasinya, apakah produksi televisi akan menjadi berhenti? Akankah tayangan-tanyangan televisi menjadi lebih edukatif? Ncing sedang membuka babak baru ke hadapan kita!

Related

Teater 2948918778234731979

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item