Headlines News :
Home » , » MENGINTEROGASI RATIH LEWAT RATIH

MENGINTEROGASI RATIH LEWAT RATIH

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 20 Maret 2016 | 07.02.00

Mohamad Chandra Irfan

(Pertunjukan Ke-3 Pada FTR V: Teater Gawe, SMKN 3 Kota Tasikmalaya - 'Ratih' | Sutradara: Teten Sutrisna)

Foto: Rofie
Daunjati, Sabtu malam (19/03) — Ratih dilemparkan lewat suara ke arah panggung yang kosong. 3 orang laki-laki masuk membawa frame berukuran setinggi pintu orang dewasa. Kakinya diderapkan ke finyl. 3 orang lagi masuk membetot frame, dengan pola bunyi kaki yang sama; dihentak-hentakkan. Dari balik frame semua orang menyatakan diri menjadi Ratih; Ratih yang penari, Ratih yang seniman dan Ratih dari berbagai identitas. Ratih dieksepsi sekaligus diafirmasi. Ratih menjadi tubuh yang zigzag. Hanya sapu lidi yang melembagakan Ratih itu asli atau tidak. Lampu padam. Keringat mengalir. Ratih menjadi nafas yang saling tarik-narik.

Pertunjukan berjudul “Ratih” yang dipentaskan oleh Teater Gawe SMKN 3 Kota Tasikmalaya pada gelaran Festival Teater Remaja (FTR) V se-Jawa Barat di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung tersebut, mencoba menawarkan artikulasi-artistiknya dengan memaksimalkan tubuh ketimbang kata-kata. Pertunjukan Ratih pada menit-menit awal sampai seperempat pertunjukan masih menawarkan gambar-gambar yang bisa dinikmati dari berbagai sudut dengan memproduksi koreografi yang terukur dan ritmis. Akan tetapi selepas itu, pertunjukan nyaris hanya melakukan repetisi dari produksi gambar sebelumnya.

Para aktor Teater Gawe mencoba melakukan maksimalisasi keringat lewat per-satu adegannya, sehingga intensitas tubuh terawat dengan baik. Seandainya saja para aktor Teater Gawe tidak bisa menyiasati tubuhnya dengan baik, maka sudah dapat ditakwil pemilihan artikulasi artistik lewat kekuatan tubuh hanya akan menjadi panggung yang kehilangan narasinya.

Awal pertunjukan bahkan sampai akhir pertunjukan, Ratih hanya muncul sebagai sosok suara yang impresif, tidak menemukan satu struktur ketegangan untuk menyatakan kediriannya. Akhirnya Ratih sebagai sosok, hanya muncul untuk mengabarkan ketimbang memberikan jawaban. Frame setinggi orang dewasa yang menjadi pilihan property Teater Gawe kali ini cukup multi-guna untuk membentuk satuan waktu dan peristiwa, hanya saja pengolahan frame sebagai bagian dari pertunjukan hanya hadir sebagai benda yang tidak menemui ruang definitif-nya.

Foto: Rofie
Seorang perempuan berbaju putih bersampur merah masuk dengan membawa sapu lidi, menjadi tubuh yang membawa ruang jeda dari aktivitas Ratih yang saling menginterogasi, “Saya Ratih yang sesungguhnya, jika tidak percaya, ini buktinya sapu lidi!”, rupanya sapu lidi menjadi pengantar metapor untuk membantah seluruh ke-Ratih-an yang sebelumnya. Sapu lidi mengandaikan Ratih yang tidak mau bersatu dan saling mengadopsi kelebihan dan kekurangannya. Ratih mencoba masuk ke dalam sisi psikis yang saling merepresi. Ratih adalah aku, mungkin juga kamu, mungkin juga kita, mungkin juga kami. Ratih adalah sosok yang sedang mencari. Ratih adalah kegamangan. Ratih adalah suara, belum menemukan gema.

Sebab Ratih saling menginterogasi, apakah juga para aktor Teater Gawe dengan “Ratih”-nya saling memaknai dan menginterogasi setiap geraknya atau hanya melakukan saja tanpa ada pengendapan yang sublim? 


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger