MY GADGET : NARASI TENTANG KEHILANGAN

Ganda Swarna

(Pertunjukan Ke-2 Pada FTR V: Teater Tasbe, SMAN 1 Baleendah - 'My Gadget' | Sutradara: Anissa Feni)


foto : Daunjati - Ajang MP


Daunjati, Sabtu sore (19/03) — Ataya hanya bisa menangis di antara teman-temannya. Tangisnya adalah petanda dari yang benar-benar hilang dalam kehidupannya. Gadget menjadi pencuri yang mencuri banyak waktu Ataya bersama ibu dan orang-orang terdekatnya, lalu mengembalikannya lagi dalam berita kematian. Sosok bayangan ibu muncul berdiri di atas kursi lipat penanda ruang lain yang memisahkan dunia mereka. Bayangan lain mengenakan pakaian hitam muncul membawa kerenda jenazah, ruang ditandai dengan irisan cahaya biru. Blackout, yang terdengar hanya suara kehilangan.

Adegan di atas adalah adegan terakhir pertunjukan Teater Tasbe karya naskah Annisa Fani dan para aktor. Teater Tasbeh pada pertunjukan 'My Gadget'  mencoba mengangkat gejala remaja saat ini melalui sudut pandang kenegatifan gadget sebagai sumber konflik peristiwa di atas panggung. Nilai-nilai kemanusiaan yang hilang dalam waktu gadget. Bentuk-bentuk grouping dan nyanyian-nyanyian memberi kesan warna keremajaan pada setiap adegan di pertunjukan ini. Penggunaan bahasa sehari-hari yang lugas dalam meyampaikan peristiwa dan pembesaran gesture tubuh aktor membuat ruang lain di tubuh aktor. Pertunjukan seperti membawa kepada satu penglihatan antara realitas panggung dan realitas di luar panggung.

Cara aktor mendekati tema gadget ini menjadi begitu dekat dengan keseharian mereka. Bagaimana pengalaman mereka bekerja pada fenomena gadget di kalangan remaja saat ini, aktor tidak kehilangan bahasa mereka sendiri dalam menyampaikan peristiwa. Meski dalam melihat tema gadget ini masih menghitam-putihkan gadget. 

Pertunjukan diawali dengan sekelompok pelajar yang membentuk grouping melingkar. Ruang dibangun dengan cahaya yang terfokus pada mereka. Di antara barisan siswa, ruang terbelah menjadi dua dengan garis cayaha biru. Dari kanan panggung masuk orang-orang membawa kerenda jenazah bergerak lurus keluar kiri panggung. Musik hadir sebagai latar yang membangun kesan hororistik. Lalu ruang berubah lagi menjadi ruang yang cair dengan tarian dan nyanyian siswa.

Tema terus bergerak pada peristiwa-peristiwa yang menandakan hitam-putihnya pengaruh gadget. Kontras laku orang mengaji dengan orang bermain gadget menjadi subjek-subjek yang digerakkan gadget itu sendiri. Peristiwa bergerak ke banyak ruang-ruang yang di bangun dari pengolahan artistik dengan material kursi lipat dan cahaya dari lampu-lampu kecil menjadi penanda ruang di dalam kelas, rumah, dan taman.  

Kehilangan hadir melalui hal-hal yang tak tersadari pada setiap tokoh. Mereka  merasakan kehilangan dari pertemuan tubuh para tokoh. Pertemuan guru dengan murid, guru dengan sesama guru, anak dengan orang tua, teman dengan teman, menjadi pertemuan yang sering  mencuri momen tubuh aku dengan dia, tatapan mata, rasa mengerti dan memahami dari nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam kehidupan Ataya, Guru dan Murid bukan lagi menjadi dua hal yang berbeda. Keduanya adalah orang yang  terpengaruh oleh gadget. Ketidakpatuhan murid yang terus memainkan gadget di dalam kelas berakhir pada penyitaan gadget oleh guru, otoritas guru. Konflik awal hadir pada tokoh utama Ataya. Penyitaan gadget menjadi satu bentuk kehilangan dan kekosongan pada tokoh utama. Konflik ini terus bergerak menjadi ketidakmampuan untuk menahan diri yang terus bercermin pada kehidupan teman-temannya. Kerja bercermin menjadi rutinitas yang lahir dari tubuh gadget. Rendah diri karena terus dicibir, menjadi bahasa yang terus menuntut ibunya untuk segera membelikan gadged baru seperti temannya dalam keadaan ekonomi keluarga yang tergolong tidak mampu. Tapi bagi ibu, hadiah gadget baru untuk Ataya adalah tentang hal membahagiakan anak.

foto : Daunjati - Ajang MP
Dalam rutinitas yang dilalui teman-temannya seperti terus berganti-ganti gadget keluaran yang terbaru, bisnis online sebagai penambah uang saku, hingga berhubungan dengan pacar dan berganti-ganti pacar, tokoh utama menjadi orang asing bagi dirinya dan orang lain. Bagi tokoh utama gadget adalah identitas baru di dunia nyatanya dan dunia virtual. Sementara keinginan tokoh utama untuk mendapat gadget kembali menjadi satu momen waktu yang hilang untuk selamanya. Kehilangan momen waktu Ataya muncul Pada akhir pertunjukan, ibunya  meninggal karena dihajar massa, dari usahanya mendapat gadget baru untuk Ataya.   

Tokoh yang ada dalam pertunjukan ‘My Gadget’ adalah tokoh-tokoh yang dipengaruhi oleh dampak negatif gadget. Gadget dalam pertunjukan ‘My Gadget’ menjadi makna-bahasa lain yang lebih penting dari pada nilai fungsi dari barang itu. Gadget menjadi sesuatu yang sering mencuri waktu, mencuri kesadaran akan dunia sekitar, Ia adalah bahasa dari alam pikiran tokoh-tokoh yang kehilangan rasa kemanusiaan. 

Related

Teater 1549855444302894366

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item