ONTOLOGI PENYAKIT BERNAMA ARTIS

John Heryanto

(Pertunjukan Ke-5 Pada FTR V: Teater Air, SMAN 9 Bogor – ‘Ulang Tahun Ogi’ | Karya/Sutradara: Dimas Hadi)

Foto: Daunjati/Anzar Rizky Ismadatullah
Daunjati, Minggu sore (20/03) – Tiang pintu menjadi penanda utama di atas panggung antara rumah, komplek dan kampung belakang. Tiang pintu hadir menjadi sejenis pisau dari antopologi panggung.  Pemukiman komplek ditandai dengan tiang pintu atau tugu dengan gambar-gambar sosial media sebagai tempat di mana remaja komplek nongkrong dan update status.

Kehadiran tugu sebagai penanda komplek serupa monumen telepon yang mengukuhkan relasi sosial di dalamnya, virtual termasuk lahirnya pabrik-pabrik dan urbanisasi yang ditandai dengan hilangnya tugu ketika memasuki adegan kampung belakang. Pada masyarkat kota, tetangga adalah orang lain yang diwakili oleh keluarga Ogi. Sebaliknya tetangga bagi masyarakat desa adalah keluarga sebagaimana terlihat dari aktivitas remaja kampung belakang yang gotong royong  untuk membersihkan kampung.

Begitulah kiranya benda-benda diletakkan di panggung membangun bahasanya sendiri seperti halnya Tiang Pintu yang dibalut kain putih di-apron menjadi pintu pertama berjalannya teks-teks pertunjukan Ulang Tahun Ogi.

Di rumah, Ogi (Harfiki) menghabiskan seluruh hari-hari yang dilewati dengan bermain gambar dan ditemani Pengasuh (Wiciyuhelma). Sebab Ogi dianggap sebagai remaja yang memiliki keterbelakangan mental hingga ia dijauhkan dari kehidupan sekitar. Satu-satuya yang disukai Ogi ialah segala benda-benda berwarna merah dan putih seperti halnya bendera.

Demi sebuah cinta atau apa yang disebut Pengasuh sebagai remaja berkebutuhan khusus yang terlalu menyukai warna merah dan putih, Ogi pun turun ke jalan  sebab di sanalah bendera-bendera dipasang. Ke luar rumah lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan Pengasuh, pergi ke arah penonton yang lantas menghadap  ke panggung dan lenyap di balik tirai.  Hadirnya Ogi di ruang penonton semacam pertanyaan diam-diam tentang apa yang berlangsung di panggung yang disebut sebagai seni dengan sang pengkhayat termasuk realitas, dengan ditandai keluarnya Pengasuh ke pintu samping gedung pertunjukan.

Pada adegan pertama Ulang tahun Ogi inilah seni seakan dipertanyakan kembali keberadaannya dengan denyut kehidupan. Apa pentingnya seni bagi penonton? Benarkah seni membongkar yang tersembunyi dari ruh komunal sekaligus menampakan dimensi transenden ke dalam realitas? Sebagaimana yang dinyatakan anak-anak kampung belakang pada adegan keempat.

Momon: Jangan bermain dengannya, bisa berbahaya.
Mumun: Kata orang tua, jika main dengannya kita bisa tertular.
Momon: Itu namanya penyakit artis.
Mimin: Apa?
Momon: Penyakit artis.

Foto: Daunjati/Anzar Rizky Ismadatullah
Begitulah percakapan di antara remaja kampung belakang pada pertengahan pertunjukan ketika melihat Ogi datang.  Di sini tokoh Ogi lahir begitu saja sebagai remaja tanpa sejarah, tanpa ingatan apa-apa kecuali  menurunkan bendera di tiang-tiang sebagai cara mencintai. Ia tidakalah seperti remaja komplek maupun remaja kampung belakang yang mewarisi cerita orang tua tentang kekekarasan di masa pembangunan komplek dan pemilu kepala desa. Ogi barangkali sisi lain dari remaja hari ini yang dikutuk sejak lahir atau yang dinyatakan Pak RW sebagai:  anak dari buah dosa yang dimakan ibu—sekaligus sebagai remaja yang memiliki kemungkinan mengungkap ketidaktahuannya tentang sejarah yang dimiliki ibu dan penguasa.

Dramaturgi Ulang Tahun Ogi  berjalan  dalam ingatan antara yang lalu dan yang berlangsung. Teater menjadi cara lain untuk merekonsiliasi kenyataan yang dihadapi, khususnya remaja yang berkaitan dengan kekerasan negara, dengan sejarah yang terus tumbuh di mulut-mulut fascisme yang kerap menjadi dongeng palsu. Remaja mestinya tidak sekedar pewaris semata, melainkan harus menjadi pelaku sejarahnya sendiri; sejenis kegembiraan melakoni sosorodotan, pecle dan lain-lain di bawah hujan tanpa curiga.

Related

Teater 1329788397920642599

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item