Headlines News :
Home » , » PENDIDIKAN SEBAGAI SIASAT TUMPAS REMAJA

PENDIDIKAN SEBAGAI SIASAT TUMPAS REMAJA

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 27 Maret 2016 | 02.32.00

John Heryanto

(Pertunjukan ke 16 Pada FTR V: Teater Kipas SMA Negri 2 Bekasi – H2SO4 0,1M |Naskah: Dendi Madiya & Nadiah Aprilia, Sutradara: Dendy Madiya)

Foto: Mega A. Noviandri
Daunjati, Jumat malam (25/03) Dalam kekosongan yang lenggang di setiap pergantian adegan. Tak ada apa - apa, panggung hanyalah tepian sunyi. Pada keheningan itulah si penghayat di hadapkan akan kehampaan hidupnya atas ketaksadaran realitas bahwa detik telah meninggalakan jam tangan. Dan teater sejenis pertanyaan pertanyaan yang berujung pertanyaan dari penampakan yang tak ter-apakan dalam realitas selama dua jam.

“Pemuda mati sebelum dilahirkan” (Aprizal Malna) begitulah teks di infocus yang di tembakan ke layar belakang panggung ketika orang-orang menodongkan senjata ke kepala sendiri yang lantas di sambut tepuk tangan penonton dan pertunjukan pun berakhir di ujung senapan.

 ‘H2S04, 01M’ menyoal hubungan remaja dengan sekolah dan rumah, dimana kuasa menyusup di dalamnya.  Di kedua tempat itulah  remaja mempereteli dirinya sendiri menuju pada ketiadaan. 

Rumah sebagai ruang sekunder dalam pertunjukan ini menjadi medium dimana remaja pertama kali kehilangan dirinya. Di rumah itulah biografi keluarga di hanncurkan oleh media, dimana TV masuk ke dalam ruang-ruang pribadi, dimana produk impor masuk ke ruang kamar ibu, dimana Ibu menjadi diktator dan Ayah menjadi non demokratik. Sebagaimana yang di perlihatkan dalam agedan ke 11  tentang ayah yang kerjanya hanya menggosok batu ali, ibu yang hanya menonton TV dan disitu pula cita-cita anak di sesuaikan dengan keinginan orang tua bukan sebagai keinginan dirinya

Sedangkan di sekolah sebagai tempat primer ternyata remaja di pengggal kepalanya, dimana remaja di cetak sebagai mesin penghapal bukan berpikir. Sebagimana yang terlihat dalam adegan dimana remaja menutup kepalanya dengan buku.

Kurikulum 2013 itu mengahapal, kami bosan dan tak bebas
Setiap hari-setiap waktu  di rumah dan sekolah kami kerja
Kami telah menjadi robot
(ucap para remaja yang melemparkan seragam sekolahnya sebelum bunuh diri)

Teks-teks  berjalan begitu akrab dan dekat dengan tubuh yang mereka alami seperti pula waktu itu sendiri yang berjalan diluar kesadaran si penghayat. Teater disini bukan lagi sebuah kerajinan tangan melainkan sebagai yang di cari di atas pentas.

Remaja baik di rumah maupun di sekolah mereka  telah ditiadakan atas nama pendidikan dan masa depan. Remaja pada akhirnya menjadi neraka bagi dirinya sendiri. satu-satu cara bagi remaja ialah melawan tanpa tepi meski pada akhirnya ia akan mati sebagai sysipus di neraka sebagimana yang tertulis dalam mitologi yunani.

“TAMU WAJIB LAPOR”
(teks di pintu besi yang di gusur pantat siswa)



Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger