Headlines News :
Home » , » REMAJA DARI HILANGNYA NEGARA

REMAJA DARI HILANGNYA NEGARA

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 25 Maret 2016 | 10.34.00

John Heryanto

(Pertunjukan ke 13 Pada FTR V : Teater Satujam SMA Negri 1 Telukjambe –  Timur Karawang – Mak-na |Karya/Sutradara: Hendra WP)

Foto: Daunjati-Ajang Mp
Daunjati, rabu sore (23/03)“Kuburan itu rumah, rumah itu kuburan”. Bisik Lasti kepada Indri, saat menanyakan kakaknya suka pergi ke rumah bapaknya. Begitulah percakapan kedua bersaudara di depan rumah pada adegan ke delapan berlangsung. Rumah dalam pertunjukan ‘Mak-na’ menjadi sentral bagi keberlangsungan peristiwa, atas apa yang terjadi di dalam dan apa yang terjadi di luar para penghuninya.

Suasana jalanan menjadi perjumpaan pertama menatap panggung. Ada para pengamen, tukang koran dan lain-lain. Lagu-lagu menjadi cara lain untuk mengungkapkan nasib yang sedang dijalani bukan sebagai sebuah kepasrahan melainkan sebagai jalan untuk menemukan hidup yang sebenanarnya.

“Kita tak akan pernah diam
Kita akan terus bergerak dan melawan”
 (Emak)

‘Mak-na’ bercerita tentang sebuah keluarga dengan lima anak. Lasti menjadi tulang punggung keluarga ketika Emak (Riska) tidak lagi bekerja karena usia, kakanya Farida (Rizka) mengalami goncangan psikologis akibat rajia Satpol PP, si bungsu Cicih (Chaerun Nisan) mengalami keterbelakangan mental dan tak sekolah, Indri (Lestari) adik satunya lagi yang sekolah tapi sering bolos dan Ipit (Nurjanah). Semua itu menjadi tanggungan Lasti (Asiah). ‘Mak-na’ semacam biografi keluarga yang memperlihatkan kecendrungnan dan pilihan hidup yang diambil setiap anggota keluarga, di dalam dan di luar rumah selama satu jam di atas panggung.

Teks-teks dimulut aktor menjadi renyah dan wajar, seperti wajarnya Lasti yang membicarakan kekacauan negara, menyebut Farida sebagai presiden dangdut yang bajingan. Hal itu tentunya wajar bila Lastri nampak pintar sebab ia pedagang koran yang pasti uptodate berita setiap hari, meski ada beberapa yang masih berjarak dengan tubuh si pemain.
Apa yang di genggam aktor disini menjadi lain, menjadi bahasa sendiri, ia semacam artefak dari keluarga yang hilang seperti bunga dan koran.

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting…
(Farida)


Foto: Daunjati -Ajang MP
Pupuh Kinanti tersebut mengisahkan tentang seorang yang lahir di zaman kegelapan yang hidupnya tak akan jauh dari buah pohon leluhurnya. Dimana teks tersebut dinyanyikan oleh sorang gadis yang yang dianggap gila dan hilang ingatan. Hal ini seakan menegaskan bahwa remaja itu lahir tanpa masa silam dan jika pun lahir ia akan menuju pada kemataian seperti pula bapaknya yang tinggal di kuburan, remaja pada akhirnya menjadi bunga yang di petik untuk di buang di jalan sebagai ingatan yang tak pernah ada.

Koran yang dibawa Lasti inilah, yang dijual untuk memenuhi biaya hidup keluarga menjadi penghubung antara apa yang di dalam rumah dengan di luar rumah. Di koran itulah sosok negara dibangun dan di jual setiap hari, di koran itu pula nasib orang miskin di bicarakan sebagai obroan harian para pejabat pemerintah dan koran hanya menjadi mulut pemerintah. Dan nyatana negara hanya ada di koran begitu juga nasib mereka yang hanya menjadi gossip harian, bukan sebagai kenyataan hidup. Barangkali kini sudah saat nya remaja melek hukum.

Memangnya siapa yang mau peduli dengan kita

(Lasti)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger