REMAJA, TEATER DAN KEBAHARUAN

John Heryanto

(Diskusi Juri FTR V : Silvester Petara Hurit, Ibed Surgana Yuga, Diyanto |Moderator: Taufik Darwis)

Daunjati, Minggu siang (27/03) — Di tengah hiruk pikuk berkembangnya sains, teknologi dan arah kebudayaan dunia yang berbalik ke timur.  Teater seakan dipertanyakan posisinya atas situasi yang berada di sekitarnya dalam zaman yang bergerak seperti bayangan yang meninggalkan dirinya. Lantas bagaimana remaja menghadapi kenyataan hidupnya dan bagaimana teater remaja hadir di dalam-nya?

“Kebaharuan itu tidaklah memiliki standar ukuran, namun syarat bagi remaja ia harus merasa bebas dan senang”.(Ibed)

Kebaharuan acap kali diartikan sebagai sesuatu yang benar-benar baru dan tak pernah ada sebelumnya. Justru karena yang sudah ada itulah setiap orang dapat mencari dan menelusuri kembali apa yang memang dapat digali di dalamnya, dengan cara itu pula apa yang dinamakan sebagai kebaharuan dapat ditemukan melalui perbedaan di antara keduanya tentang apa yang dulu  ada dan kini ada. Tentunya tidaklah dapat dilepaskan dari semangat zaman-nya. Melalui “Kamu Pikir Kamu Siapa?” remaja mencari keberadaan dirinya termasuk dengan teater remaja itu sendiri, sehingga dengan demikian setiap remaja dapat dengan bangga mengatakan, "Inilah Gue dan Inilah Teater, Gue!", sehingga remaja menjadi pemilik zaman-nya.

“Kiranya Festival di sini bukan lagi perkara lomba, melainkan sebagai sebuah pendidikan dalam artian mendidik dan sama-sama belajar kembali. Bagaimana setiap orang memperkarakan dirinya sehingga dengan demikian remaja dapat menemukan dirinya bahkan melampaui zamannya” (Silvester Petara Hurit)

Lewat cara itu pula, remaja mempersoalkan keberadaan dirinya dengan apa yang ada di sekitarnya atau yang disebut Diyanto sebagi realitas yang mendahului dan realitas di atas kertas.

Realitas yang mendahului yaitu realitas di luar teater, di mana kenyataan hidup dan zaman yang tumbuh ini dialami oleh setiap orang.  Semacam persoalan-persoalan yang dihadapi remaja dalam menjalani hidupnya di tengah arus informasi yang  cepat sampai ke tangan seperti gadget, di tengah- tegah keluarga, masyarakat dan sekolah dan lain sebagainya yang bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung dengan remaja.

Sedangkan realitas di atas kertas yaitu realitas pangung di mana teater sebagai sebuah disiplin seni yang memiliki kaidah-kaidah dan konvensi estetik di dalamnya yang telah mapan. Pada kedua realitas tersebutlah, apa yang dinamakan sebagai sebuah kebaharuan kembali dipertanyakan. Adakah kebaharuan dalam Festival Teater Remaja (FTR) V se-Jawa Barat?

Dari ke-16 peserta festival, menurut pemaparan Dewan Juri ketika diskusi yang berlangsung di Studio Teater ISBI Bandung mengatakan bahwa, “sebanyak  60% peserta festival gagap dalam menyikapi perkembangan di sekitarnya. Sehingga ‘kamu pikir kamu siapa?’ menjadi verbal  diucapkan semacam mantra-mantra dan bukan sebagai cara untuk mengungkap dirinya”.

Lantas apa yang dapat dikatakan sebagai kebaharuan dalam Teater Remaja yang mengikuti FTR ini? Sebagaimana yang ditanyakan Ibed pada peserta diskusi: Apa teater remaja itu? Kiranya yang benar-benar dapat dikatakan sebagai sebuah kebaharuan adalah gagasan penciptaan teater yang diambil dari realitas yang mendahului, di mana kenyataan sebagai sesuatu yang dikhayati dan dialami secara langsung sebagai keberangkatan gagasan pertunjukan meski sebagian memiliki kendala dalam mengeksekusi atau bermigrasinya gagasan penciptaan ke atas pentas sehingga menjadikan dirinya tampak gagap.

Related

Teater 4797041140616025702

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item