RUTH : TEKS ZAMAN YANG BERJALAN DAN MELAWAN

Ganda Swarna

(Pertunjukan Ke-10 Pada FTR V : Teater Madya, SMA Rimba Madya Bogor -  'RUTH' |Karya/Sutradara: Audy Ragadi Putra)

Foto ; Daunjati - Imanuel Delporas
Daunjati, Selasa malam (22/03) - Ruth, dalam pelarian bersama teman-temannya dari kuasa iblis jahat, meninggalkan gema langkah di Jeane. Jeane (Erlinda Widhyadari) yang percaya dalam menghadapi kuasa raja iblis tidak harus dengan berlari dan kabur. Di ruang antara penonton dan panggung menjadi ruang tanpa harapan, raja iblis (Sofi A) dan pasukan menemukan mereka. Teman-teman Ruth tertangkap. Ruth yang sedang pergi melihat situasi, kembali dan semuanya sudah tidak ada. Kenangan menjadi senjata tersendiri di hatinya. Ruth (Tri Naufal Abdullah) pergi ke tempat raja iblis menangkap teman-temannya.

Dalam usaha menyelamatkan teman-temannya, setelah perkelahian dengan pasukan raja iblis, tubuh Ruth terbaring di depan jeruji penjara. Ruang merah dan penjara dalam adegan itu dilengkapi dengan cahaya siluet dari dalam penjara,  hilang bersama 8 pasukan iblis dan barisan teman-teman Ruth. Tangannya masih bertubi-tubi memukul penjara merah itu. Di antara kelam yang mengitarinya,  langkah-langkah pasukan iblis dan teman-temannya, kemudian menghilang. Meninggalkan Ruth sendiri dengan masa lalunya.

Adegan di atas adalah adegan akhir pertunjukan Teater Madya dengan judul “Ruth”. Pertunjukan Ruth di tangan sutradara Audy Ragadi Putra, memperlihatkan pemainan antara bentuk dongeng dengan pola-pola musikal. yang Menghadirkan tokoh antara Ruth sebagai seorang heroik yang menolak kekinian dengan tokoh raja iblis sebagai wujud zaman kekinian.

Dalam pertunjukan ini perubahan zaman antara masa lalu dan kekinian dihadirkan sebagai dua hal yang berlawan. Masa lalu dan zaman kekinian, membawa semacam tema umum, bahwa antara yang lalu dan sekarang memiliki lukanya sendiri sebagai inti cerita. Tentang remaja yang kehilangan tempat untuk bermain, Rindu lapangan yang hijau. Kekinian dengan teknologinya yang meniadakan pertemuan langsung antara tubuh-tubuh. Bukan dengan apa mereka bermain, tapi dengan siapa mereka bermain. Tentang orang-orang.

Tata cahaya, kostum, dan koreografi, sangat menentukan dalam  perubahan ruang dalam pertunjukan ini, termasuk musik yang menggunakan berbagai ritme Rock dan musik Epic. Ruang di dalam pertunjukan ini menggunakan seluruh area dalam gedung untuk membangun identitas-identitas ruang. Ruang dengan identitas tempat Ruth dan teman-temannya berkumpul dan bermain menggunakan panggung utama, ruang tempat singgasana raja iblis di-apron panggung, dan area bawah depan panggung (antara panggung dan penonton). Lalu ke panggung utama lagi yang pada adegan akhir menjadi ruang tahanan. Permainan buka tutup layar menjadi strategi pemisah ruang dan pergantian setting.

foto : daunjati - Imanuel Deporaz
Ruth, dalam susunan kotak-kotak kayu, televisi, kain hitam panjang menggantung dengan tulisan-tulisan seperti, “jauhi buku cintai gadget, miras untuk remaja, dan sebagainya”, menjadi Kota mereka yang di jaga oleh mitos-mitos kekinian. Mereka bermain, bernyanyi, menari, Ruth menceritakan tentang kisahnya berpetualang mencari belut sungai, menjadi adegan awal pertunjukan ini.

Raja iblis dan pasukannya dengan kontras warna merah, menjadi hasil efek jaman yang memiliki kuasa untuk mengarahkan dan menjerumuskan remaja-remaja kedalam kekinian  yang hadir sebagai ruang yang gelap dan kejam. Mencari-cari Ruth yang di anggap pemberontak dari apa yang raja iblis kerjaakan. Berakhir pada rencana untuk kabur dari kuasa raja iblis. Usaha kabur yang gagal menjadi kekalahan Ruth atas raja iblis.

Untuk meyakinkan penonton atas realitas remaja yang dibawakan dalam pertunjukan  ini, berlangsung melalui adegan ruang gelap di antara barisan kotak kayu dan televisi, teman-teman Ruth berdiri menghadap gambar dari infocus  yang memutarkan video kekerasan yang di lakukan anak-anak remaja, berita kekerasan, film-film, sinetron-sinetron, pergaulan remaja dengan miras dan narkoba, Sebagai bahasa yang langsung dan tegas mengatakan, yang dihasilkan kekinian yang ada saat ini adalah kekacauan dan keburukan.

Gerakan gambar menuju pada teks-teks perlawanan pada tokoh Ruth menjadi corong kebenaran Sutrada. Tentang, zaman yang merampas, zaman yang melahirkan remaja-remaja prematur. Seperti ruth yang melihat atau ruth yang merasa lahir sebagai remaja prematur. Atau Ruth dengan luka dari masa lalunya. Seperti dialog yang dikatakan ruth kepada raja iblis didetik-detik terakhir Ruth menolong temannya, “kau adalah hasil dari pikiran-pikiran kami, kau ada karena kami ada.”

Pada akhirnya pertunjukan ini menjadi  orasi moral Ruth.  Siapa yang akan menjadi prematur dalam pertunjukan yang di bawakan ini. apakah Ruth yang terus tenggelam dalam masa lalu atau remaja-remaja yang memalui proses kekinian dalam era kekinian itu sendiri. Kota yang disebut sebagi kota Ras Kekinian dalam pertunjukan ini, dijaga mitos-mitos kecemasan tentang kekinian. Mereka sedang mengalami belajar membaca dan menulis. Tetapi mereka juga sering mengalami kegagapan dan kebutaan disana. 

Related

Teater 1417049923345006236

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item