Headlines News :
Home » , » SEBUAH PERTANYAAN BAGI PERLAWANAN BEGIG BESI YANG ENIGMATIS

SEBUAH PERTANYAAN BAGI PERLAWANAN BEGIG BESI YANG ENIGMATIS

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 22 Maret 2016 | 18.42.00

Mohamad Chandra Irfan

(Pertunjukan Ke-7 Pada FTR V: Teater Bunga, SMAN 5 Karawang - 'Begig Besi' | Karya/Sutradara: Endang Kahfi)


Foto: Daunjati/Immanuel Deporaz

Daunjati, Senin sore (21/03) – Seorang ibu berseru agar anak-anaknya bersekolah, “tumbuhlah jadi generasi padi, Nak!”, ia berdiri di satu tempat nun jauh di tubuh anak-anak. Anak-anak kemudian serempak menjawab, “tidak mau, Bu!. Ibu itu berteriak lagi dan lagi. Anak-anak kemudian membuka identitasnya sebagai turunan keluarga petani. Anak-anak itu kemudian menjadi tubuh yang termekanisasi, menjadi tubuh pabrik, menjadi patah-patah. Sementara itu Hatta menjadi satu-satunya pewaris semangat untuk melawan pemilik modal, Pak Bos. Ia semangat sekolah karena ayahnya meninggal akibat melawan/menolak pembangunan pabrik di wilayah sekitarnya. Bu Halimah guru sekolah Hatta, menggadaikan tubuhnya pada pemilik modal, Pak Bos, untuk menyelamatkan lahan sekolahnya yang hendak digusur dan dibeli oleh Pak Bos. Bu Halimah menutup mulut. Bu Halimah bunting. Hatta dan temannya melawan.

Sepintas adegan di atas memang cukup menggoda kesadaran kita akan pentingnya untuk tidak mangut-mangut terhadap realitas yang sedang dihadapi. Sepintas pula mengetuk nurani kita, betapa –melawan- itu adalah balasannya sama dengan nyawa dan harga diri. Pertunjukan “Begig Besi” dari Teater Bunga, SMAN 5 Karawang, karya/sutradara Endang Kahfi ini mencoba menyerap realitas masyarakat yang hidup di tengah dan sampingnya adalah pabrik. Secara geografis Karawang itu adalah daerah industri, di mana sudah diketahui bersama, bahwa, pabrik adalah rumah besar tempat mengeksploitasi para buruh secara terbuka, dan itu, regulasinya setiap saat selalu sama dan akan terus seperti itu. Upaya melawan dengan pendidikan memang sangatlah penting, mengingat sebuah perlawan tanpa pendasaran yang kuat dan berfondasi, hanya akan menjadi perlawanan yang tidak menjejak.

“Begig Besi” adalah sebentuk akumulasi kemarahan dan empati yang terkoneksi lewat konflik kematian ayah-nya Hatta, bunting-nya Bu Halimah dan sifat eksploitatif-nya Pak Bos—ketiga hal tersebut saling menanam kritik; internal dan eksternal. Kritik internalnya termaktub pada kenyataan anak para petani (tani penggarap) banyak yang meninggalkan bangku sekolah, sehingga yang terjadi adalah tetap menjadi ‘tani penggarap’, mereka hanya menanam, memupuk, memanen, dan terakhir menjualnya pada tengkulak—keadaan tersebut secara tidak langsung melanggengkan pemilik modal untuk tetap bercokol sebagai subjek dan tani penggarap sebagai objek eksploitasinya. Kritik eksternalnya terletak pada keberadaan pemilik modal tidak bisa dimanja-imut-kan sebagai super hero yang dengan pongahnya telah berkontribusi membuka lapangan pekerjaan—melainkan harus dilihat dan dibaca kehadirannya sebagai penghisap yang manis dijanji kejam dipendapatan.

Pemilik modal bekerja dan bersiasat dengan cara yang kasat-mata. Mereka mempersiapkan jutaan plan keuntungan bagi  saku mereka sendiri, dari plan A sampai Z. Oleh karena itu kosa-katanya sudah dapat diterka, hanya itu-itu saja, mulai dari kosa-kata paling halus dan berkembang ke kosa-kata paling represif. Kosa-kata tersebut akan terus berdenging di telinga kaum yang tereksploitasi.

*

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa teater banyak berafiliasi dengan elemen seni yang lainnya, dari sekian elemen-elemen yang mendukung teater tersebut ada yang tidak bisa direnggut oleh seni yang lainnya, yaitu seni peran/keaktoran. Vitalitas aktor adalah karena kedudukannya sebagai driver dalam mengemudikan pertunjukan yang hendak dipresentasikan ke hadapan penonton. Sutradara “Begig Besi” lebih banyak memproduksi simbol-simbol dan lupa memperhatikan para aktornya; para aktor mayoritasnya secara refetitif kurang tepat dalam menyampaikan dialog, sehingga berpengaruh pada message dialognya, dialog seperti masih dalam tahap hafalan; stimulus-respon antar aktor tidak terdesain dengan tepat, selalu lepas; pendayagunaan choral sebagai pengental adegan benar-benar di-anak-tiri-kan, sehingga keberadaannya di atas panggung hanya sampai pada tingkatan dekorasi tidak pada interaksi.

Pada adegan Ruslan tidak mengeradikasi dan mengijabkan seluruh traktat Pak Bos untuk membangun pabrik—keberadaan choral seolah terpisah, karena secara adegan yang bermain hanya Ruslan dan Pak Boss, padahal choral tersebut sama-sama masuk adegan, berada di area permainan, mereka hanya diam tanpa memberikan impresi komunikasi apa pun terhadap situasi yang sedang dibicarakan Ruslan dan Pak Bos. Pemetaan visual pun tidak tergarap dengan baik, eksesnya aktor terlihat keteteran dalam mengatur blocking-nya. Kekurangtelitiannya sutradara dalam menangani aktor, akhirnya simbol-simbol yang diproduksi oleh pertunjukan “Begig Besi” hanya menjadi pohon sutradara yang buahnya tidak dapat dipanen oleh para aktor.

Pengolahan tempo pra-pertunjukan, sudah barang tentu tabib-nya adalah sutradara, kemudian setelah itu aktor mendaur-ulang racikan tempo milik sutradara. Dengan begitu aktor dan sutradara ada bargaining keinginan. Ada komunikasi. Tempo pertunjukan “Begig Besi” tidak mengusung pada dramatik yang dikonstruksi; adegan kehilangan logikanya dan aktor kehilangan motifnya. Apa yang ingin dibicarakan dalam pertunjukan tidak menemui rambu-rambu yang jelas, pertunjukan malah rajin memberi tilang dan harus bayar denda dengan cara menikmati pertunjukan yang amat delay. Transisi satu adegan ke adegan yang lainnya lebih banyak ruang spasial-nya, jika pun sutradara membentuk adegan per-adegannya menjadi ruang spasial, sutradara mesti jeli dalam mempertimbangkan keketatan tempo dan ketepatan timing.

*

Perlawanan Hatta hanya perlawanan niat dan tidak aplikatif. Ke-tragisan Bu Halimah hanya kesakitan temporer. Sementara itu pembangunan akan terus terjadi sekalipun Bu Halimah berkali-kali bunting. Sebab negara selalu menghilang apabila pemilik modal sudah bicara. Kita sedang menunggu sebuah proklamasi baru dari negara yang tidak memikirkan kaum marjinal. Atau jika pun tidak ditunggu, barangkali akan ada proklamasi dan sumpah baru dari segolongan kaum tertindas untuk dilayangkan kepada kaum penindas. “Mau senang kok ga sekolah, bego kalian!”, kalimat tersebut mengepung langit-langit panggung, suara yang entah perwakilan dari mana. Kalimat itu menutup seluruh pertunjukan "Begig Besi". Ah, memangnya sekolah itu tidak bayar? Bayar to? Kalau bayar, mari kita rumuskan, apa itu sekolah untuk saat ini?       
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger