TEATER, TAK AKAN PERNAH ADA LAGI DI PANGGUNG!

John Heryanto

(Pertunjukan Ke-8 Pada FTR V : Teater Nur, SMK Nurul Islam Cianjur -  'Coitus Interruptus' |Sutradara: Dian Ardiansyah)


Foto: Daunjati/Immanuel Deporaz

Daunjati, Senin malam (21/03) – Melalui ucapan Joker di bibir panggung “Para Tokoh telah dimatikan. Teater, tak akan pernah ada  lagi di panggung!” sebagai tanda berakhirnya pementasan. Maka si pengkhayat  keluar gedung pertunjukan bukan lagi sebagai penonton yang duduk di kursi selama 60 menit, melainkan sebagai seseorang yang siap untuk bertindak dan barangkali di situlah teater bermukim menjalani kembali rutinitasnya sebagai pelajar, mahasiswa, wartawan, pegawai, guru, dosen, pedagang dan lain lain.

‘Coitus Interruptus’ bercerita tentang bisnis organ tubuh, prostitusi dan pabrik kondom, nasib para perkerja serta relasi yang terkait mulai  dari pers sampai pemerintahan. Panggung memetakan dirinya lewat  tubuh nyunda  yang membelah menjadi tiga ruang. Ruang pertama perut ke bawah (na) tempat penonton berdiam dan tempat munculnya aktor-aktor dari pintu depan gedung selayaknya bayi yang lahir dari kelamin melalui rahim teks selamat malam-nya Joker dan lewat teks para Buruh: “Ini kondom rasa strawbery, gratis untukmu!” Sambil membagi kondom, sesaat kemudian para buruh itu maledogan penonton sebagai aksi demo menuntut pembayaran upah pada pertengahan adegan. Sejak saat itu pula penonton  diakui keberadaannya sebagai pelaku yang terlibat di dalamnya sebagai konsumen kondom, seorang yang bentrok dengan buruh dan sekaligus mengukuhkan keduanya antara si pengkhayat dengan seniman (aktor) yang sama-sama hadir menginginkan nikmat lebih.

Ruang kedua da atau tengah, yang suci atau murni. Pada ruang itulah adegan bisnis organ tubuh dr. Vagine dan Macho, Siaran televisi dan order berita antara Wartawan dan pemilik rumah bordir , peresmian Pabrik King Kondom, percintaan  dr. Vagine dan Macho, persekongkolan Inspektur dengan rumah bordir.  Di ruang inilah yang bernama modal dibersihkan dan disucikan sebagai praktek sehari-hari. Sedangkan ruang ketiga adalah kepala (sa) tempat di mana pernikahan dr. Vagine dan Flower yang menegaskan sebagai hasil kepentingan bukan yang suci.

Strategi presenatsi menjadi pilihan sutradara (Dian Ardiansyah) bagaimana peristiwa menampakan dirinya di atas panggung dengan bertumpu pada argumentasi, di mana teks di mulut aktor sebagai pernyaataan dan sikap dari kebiasaan-kebisaan dan keinginan remaja. 

Lewat 'Coitus Interruptus’ inilah tubuh diperlihatkan sebagai sebuah komoditas beserta segala apa yang terdapat di dalamnya termasuk jiwa dan pikiran itu sendiri yang memiliki kehendak lebih sebab "nikmat soal rasa", begitulah slogan pabrik dan tak ada apa pun lagi yang dapat dipertahankan.


Related

Teater 3091330418964949964

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item