TEMPAT DUDUK UNTUK UJUNG YANG TAK DILIHAT

Ganda Swarna

(Pertunjukan Ke-4 Pada FTR V: Teater Prabu, Kota Bogor – ‘Pilihan Terakhir’ | Karya: Resa L. Mahardhika, S.Pd | Sutradara: Dede Muchlis)

Foto: F.Five.D.D
Daunjati, Minggu siang (20/03)  Sebuah percakapan kecil dibangku taman antara Sahatman dan Gadis yang buta. percakapan kecil, terputus, ragu. Narasi-narasi kecil tersebut menjadi strategi untuk memasuki gagasan pertunjukan. Bahwa lelaki kini berada di ruang abu-abu: Ruang yang tidak berbatas lagi antara yang benar dan yang salah, sampah dengan yang bukan sampah. Tidak ada pilihan bagi remaja seusia dia. Hanya ada cinta dari Gadis, remaja buta. Cinta yang menjadi kekuatan untuk alasan memilih pillihan terakhir. 

Percakapan kecil dibangku taman menjadi adegan awal Teater Prabu dalam memulai pertunjukan “pilihan terakhir”. Percakapan ini terus berkembang pada narasi-narasi tentang efek dari masalah sosial dan kemiskinan menjadi sumber masalah keluarga. Menggiring Sahatman yang masih remaja dan keluarganya pada satu strategi bertahan hidup dengan menjual narkoba. Pada akhirnya ia dan ibunya mendekap di dalam penjara.

Pillihan terkhir dalam pertunjukan ‘pilihan terakhir’ ini ada pada Sahatman (Wahyudin) yang ingin mengakhiri hidup. Cara memandang masyarakat terhadap Sahatman, Polisi yang terus mengejar-ngejar, tidak ada tempat untuk berdiam, adalah keadaan-keadaan yang terus menyempit, menggiring Sahatman pada pilihan terakhir itu. Pilihan terakhir bergerak pada menemukan alasan untuk memilih pilihan terakhir.

Pertunjukan ‘Pilihan Terakhir’ naskah karya Resa L. Mahardhika ini, di tangan sutradara (Dede Muchlis) alur pertunjukan dibuat cukup lambat. Ruang dipersempit dengan pemisahan oleh cahaya yang membentuk bundar pada setiap adegan. Alur yang dibuat lambat seperti ingin mengatakan tentang kebosanan, keputusasaan,  menunggu dan menunggu dalam keadan abu-abu dan ragu untuk memilih.

Foto: F.Five.D.D
Narasi-narasi yang muncul dari dialog aktor, seakan-akan ingin menjadikan ruang di dalam pertunjukan menjadi tidak penting. Ruang pertunjukan seperti ingin dihadirkan di dalam kepala penonton lewat kata-kata. Cara penggambaran ruang yang kabur yang sulit diidentifikasi sebagai ruang dan tempat pada situasi apa. Ruang yang dibentuk dengan penanda bangku, level, gambar mapping, simbol-simbol, dan permainan cahaya, menjadi kata lain yang ingin  mengatakan sesuatu di luar dari narasi yang dilontarkan aktor.  

Sahatman, hadir sebagai remaja dengan banyak penderitaan. Ayah dan ibu seorang bandar narkoba, adik yang cacat fisik hanya bisa duduk di kursi roda, kekasih yang buta, semua  menjadi masalah yang membatu dalam hidup sahatman. Di akhir, Sahatman belajar melihat seperti Gadis. Pilihannya ada pada bagaimana memberi kesempatan bagi kehidupan orang lain, kesempatan hidup yang lebih baik kepada gadis dan adiknya.

Kaulah yang tidak bisa melihat Sahatman! Aku melihatmu.....” dialog Gadis (Mahdalena) kepada Sahatman. Gadis yang tidak melihat ini adalah corong yang ingin mengatakan bahwa ada yang salah dengan cara melihat remaja saat ini, cara melihat Sahatman. Cara remaja yang mencari jalan dengan jalan pintas dan selalu berakhir pada kesalahan dan penyesalan. Gadis, remaja buta yang melihat tidak dengan mata tapi dengan apa yang dia dengar dan rasakan. Apa yang Gadis pilih dan katakan tidak lahir dari cara mata melihat. Gadis belajar dari titik kedalaman pada Sahatman dengan mata yang lain. Gadis melihat harapan-harapan.

Sabir menangis, memanggil-manggil Sahatman dan ibunya pada ruang yang dibangun dengan cahaya membentuk ruang bundar. Pada adegan terakhir, Sahatman dan ibu tidak lagi bangun dan kembali dalam tidur mereka di penjara. Gadis selalu ada untuk menenangkan Sabir. Gadis yang tidak lagi buta, ia bisa melihat. Tangis Sabir menjadi gema yang terus mengajak bangun dan kembali, masih ada tempat duduk untuk ujung yang tak dilihat.   

Related

Teater 1066051373051373059

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item