Headlines News :
Home » , » YANG MEMELUK BANTAL

YANG MEMELUK BANTAL

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 19 Maret 2016 | 20.37.00

John Heryanto


(Pertunjukan Ke-1 Pada FTR V: Teater Citra, SMAN 3 Subang - 'DUH' | Karya/Sutradara: Iman Rifani)

Foto: Daunjati/Ajang Mp
"Seperti Laila Maznun saja, terperosok dan galau…."

Daunjati, Sabtu siang (19/03) — Begitulah teman-teman sekolah memperolok Ratna. Suasana dalam sekolah itu pula yang menjadi pandangan pertama penonton menemukan panggung dalam menyusuri lajunya pertunjukan di atas pentas selama 60 menit. Ratna memang selalu sendiri di kelas, duduk dan menatap sepatunya dengan heran seolah-olah mempertanyakan apa yang dilakukan kaki ketika tinggal dalam sepatu. Namun bukan karena itu Ratna gelisah, melainkan kenapa dirinya harus patuh pada keinginan orang tua dan pada apa yang diyakini orang kebanyakan. Rumah  bagi remaja merupakan hal yang primer,  sebagai dunia pertama dimana untuk pertama kalinya mengenal apa yang boleh dan tidak untuk dilakoni sampai meninggalkan rumah dan hidup sendiri, selain dari pada sekolah dan masyarakat.

Lantas bagaimana jika rumah menjadi planet asing, tempat segala kepatuhan bermukim sehingga sang gadis tak dapat lagi mengungkapkan apa yang menjadi keinginan sebagaimana yang diyakini Ratna bahwa sang ibu adalah perempuan otoriter dan fasis. Sedangkan lingkungan masyarakat (tersier) terutama pergaulan bersama  teman sebaya seiring dengan berkembangnya teknologi informasi sehingga tak lagi mengenal batas teritori. Atas dasar itu pula kiranya Ratna mengikuti ajakan Mirna menjadi kupu-kupu malam.

Foto: Daunjati/Ajang Mp
Pada malamlah aku temukan gairah hidup yang membakar (Ratna)

Bila Laila Majnun dalam kisah sufi dijuluki ‘sang malam’ atas kecantikan dan kesetiaanya pada kekasih yang dikenalnya sejak di bangku sekolah dan tak pernah hidup bersama. Maka Ratna mencintai malam sebagai sebuah cara untuk menemukan apa yang disebut sebagai remaja yaitu fashion. Melalui tubuh itulah remaja menyatakan sikapnya lewat aksesoris, pakaian, keluyuran, minggat dari rumah dan lain-lain, untuk melawan kebudayaan dominan yaitu orang tua dan dengan cara itu pula dirinya mengada.


Hal ini tentunya menjadi sebuah kewajaran sebab masa remaja merupakan perkembangan yang tanpa henti, segala yang ada di depan mata turut merekontruksi termasuk kekuasaan persis semboyan Laskar Tibum: “maju ke depan, pasang badan… ”

Pertunjukan “Duh” Dari Teater Citra ini mencoba memperlihatkan bagaimana remaja menentukan pilihannya dalam bertindak tentang apa yang baginya pantas dan tidak. Seperti dibatalkannya Ratna yang doyan hidung belang, minggat dari rumah dan lain-lain. Sebab semuanya hanyalah mimpi buruk Emak yang memeluk bantal dan Ratna tak pernah berubah selain usia, ia tetaplah suka shalat malam.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger