Headlines News :
Home » » AGEN PEMODERNAN DAN PURWA-DRAMATURG DALAM TEATER INDONESIA

AGEN PEMODERNAN DAN PURWA-DRAMATURG DALAM TEATER INDONESIA

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 05 April 2016 | 21.59.00

Riyadhus Shalihin

Sumber: http://bdbcommunication.com/wp-content/uploads/2012/09/telephone_hour_and_conrad_023_JPG_728x520_q85.jpg
Teater sudahlah merupakan media sendiri, yang memuat banyak piranti komunikasi artistik untuk terjadinya penciptaan ruang antara pertunjukan dan penonton, namun apakah teater hanya sebatas dan berakhir setelah pertunjukan saja?

Penulisan, kritik kemudian pengarsipan atas teater adalah sebentuk media lain dari teater sebagai media, media yang tujuannya untuk mendokumentasi dari teater sebagai media pertunjukan menjadi teater juga sebagai objek sejarah. Sebab teater sebagai seni yang tercipta dan hilang bersamaan pada saat terjadinya pertunjukan adalah objek seni yang goyah dan mudah diragukan kehadirannya, berbeda misalnya dengan seni rupa, dan seni film yang ketika tercipta, dirinya sudah hadir juga lengkap sebagai sejarah atas dirinya, tidak dengan teater ataupun tari yang lenyap pada saat dirinya mencipta. Lalu pertanyaannya kemudian apakah yang dapat meyakinkan kehadiran kesejarahan teater, selain ingatan dari para penonton yang hadir pada saat pertunjukan?

Media untuk teater sendiri dibutuhkan pada saat ini, media dalam arti kecil alat komunikasi untuk menyiar dan mendokumentasikan teater, media untuk mendistribusi berbagai peristiwa yang terjadi di dalam teater kepada publik luas, baik yang hadir di dalam maupun yang berada di luar pertunjukan. Teater akhirnya tidak berakhir menjadi internal untuk dirinya saja, namun menjadi pembacaan atas apa yang berlangsung di sekitarnya, terbuka untuk dibedah atas yang ada padanya juga atas apa yang bergerak di luar dirinya.

Teater mengalami degradasi frekuensi penulisan, jika dibandingkan dengan gerak teater pada tahun, 1970-1980 ketika para sutradara teater juga adalah mereka yang menuliskan kerja teater-nya. W.S Rendra yang menulis drama di mana kerja penyutradaraanya, seringkali merupakan kerja mementaskan drama yang ditulisnya, yang juga sama dengan Arifin C Noer, selain menyutradarai drama-drama yang ditulisnya, Arifin C Noer juga menuliskan pikiran-pikiran teaternya dalam sebuah antologi esai berjudul ‘Teater Tanpa Masa Silam’ terbitan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), ataupun Putu Wijaya yang menulis drama, menyutradarai dan mengkonsepsi kerja teaternya dalam sebuah manifesto atistiknya yang terkenal ‘Teater dari Teror Mental’. Selain juga pada era-1970-pun hidup beberapa nama yang lebih terkenal dengan karir-nya sebagai peneliti teater, seperti Asrul Sani yang juga ikut membentuk iklim drama realis pada perkembangan teater Indonesia dengan kerja penerjemahannya atas berbagai drama realis di Indonesia, beberapa nama dramawan seperti; Anton Chekov, Tennesse Williams, August Strindberg, Henrik Ibsen diterjemahkannya, Asrul Sani-lah yang pertama kali memperkenalkan metode seni peran realisme melalui penerjemahan teori seni peran dari Constantin Stanislavsky, hingga Richard Bolelavsky,  di mana naskah-naskah drama dan teori seni peran terjemahan Asrul Sani menjadi pengantar pada studi teater di ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) di Jakarta, yang secara bersamaan Asrul Sani juga merupakan salah satu pendirinya.

Melalui teori-teori dan drama terjemahannya, Asrul Sani dapat dikatakan seorang agen pemodernan teater di Indonesia. Setelah Asrul Sani, lahir juga penulis dan peneliti teater seperti Bakdi Soemanto, seorang sarjana sastra dari UGM yang menuliskan karir teater W.S Rendra serta juga berperan penting dalam memperkenalkan konsep ‘Teater Absurd’ melalui studinya terhadap naskah-naskah drama Samuel Beckett, terutama ‘Waiting For godot/Menunggu Godot’.

Praktik penulisan dan pengarsipan kerja teater banyak dilakukan oleh mereka yang berasal dari disiplin sastra, selain Bakdi Soemanto, juga ada penyair dan esais,  Goenawan Mohammad yang memikiran teater melalui salah satu esai panjangnya tentang teater ‘Beberapa Pembelaan Untuk Teater Mutakhir Di Indonesia’ dalam sebuah buku ‘Seks, dan Sastra untuk Kita’, Goenawan Mohamad melalui esai tersebut memperkenalkan istilah ‘Bip-Bop’ dan ‘Teater Mini Kata’ atas pertunjukan Bengkel Teater Rendra. Di Kota Bandung sendiri – Saini KM menjadi rujukan ensiklopedis atas berbagai unsur intrinsik kesusastraan pada drama-drama Eropa, namun juga Saini KM, mengajukan pentingnya kehadiran elemen kelokalan dan ritus pada pembentukan identitas teater modern Indonesia, yang juga ikut membentuk logika interkulturalisme STB (Studiklub Teater Bandung) pada beberapa pemanggungan atas drama barat yang disutradarai oleh Suyatna Anirun. Selain juga kehadiran Jakob Sumardjo yang lebih berposisi sebagai sosiolog dan sejarawan teater, dengan kerja-kerja penelitiannya pada buku-buku penting seperti ; ‘Sejarah dan Perkembangan Teater Modern Di Indonesia’ maupun ‘Ikhtisar Sejarah Teater Barat’.

Bertolak dari disiplin modern/realisme dari agensi Asrul Sani terhadap teater Indonesia, ataupun konsepsi teater absurd dari Bakdi Soemanto—sementara pada periode 1980-1990 lahir Afrizal Malna yang pertama kali berada di dalam teater dan menuliskan teater meskipun bukanlah seorang sutradara seperti; Arifin C. Noer atau Putu Wijaya. Afrizal Malna adalah penulis teks-teks drama pada kelompok Teater Sae di Jakarta, dengan sutradara Boedi S Otong. Tidak hanya melalui diksi dan linguistik drama-nya saja, Afrizal Malna meraih posisi dalam lingkungan teater Indonesia, tetapi juga karena bersama-sama dengan Boedi S Otong, Afrizal Malna melakukan pembacaan teater dari dalam, dan darinya mengkonsepsikan estetika teater, yang misalnya dibandingkan dengan Saini KM, yang meskipun selalu menuliskan pengamatannya terhadap setiap pementasan drama dari STB, namun Saini KM tetap berjarak dan tidak ikut memberi denyut artistik pada pertunjukan STB, Saini KM lebih menjadi lembaga pengetahuan dari STB, namun keduanya; Saini KM ataupun Afrizal Malna ikut tumbuh maupun tidak ikut tumbuh dalam denyut artistik kelompok teater di Indonesia, dapat dikatakan purwa-dramaturg dalam teater Indonesia, yang sebelumnya pertunjukan teater hanyalah lapangan kosong yang dikuasai penuh oleh sutradara, dalam tradisi; W.S Rendra, Arifin C Noer dan Putu Wijaya, kini domain sutradara atas pertumbuhan pertunjukan dibagi juga kepada dramaturg, atau katakanlah mereka yang memiliki perangkat keilmuan atau pengetahuan atas sastra drama maupun atas isu-isu yang berada di sekitar sastra drama.

Terentang jauh dari era WS. Rendra, Arifin C Noer dan Putu WijayaBenny Yohanes seorang sarjana teater dari ASTI Bandung adalah pewaris lapangan praktik teater, menjadi praktik ketunggalan mencipta sekaligus mengkaji, di mana dirinya menulis drama, mementaskan hingga juga menuliskan kritik atas pertunjukannya sendiri. BenJon sutradara dan pendiri dari kelompok Teater Re-publik Bandung ini banyak menghasilkan kritik dan esai teater yang cukup penting, banyak dimuat dalam kolom Khazanah koran Pikiran Rakyat Bandung, ataupun dalam antologi esei ‘Melakoni Teater-50 Tahun Studikulub Teater Bandung’, ‘Diktat Kritik Teater’. Dalam perkembangan terkininya, lahir juga beberapa penulis dan peneliti teater lainnya, seperti Max Arifin yang menerjemahkan esai-esai teater Antonin Artaud, seperti ‘Theatre and Its Double, dan esai-esai teater Martin Esslin, juga Nirwan Dewanto, Adi Wicksono dan Radhar Panca Dahana yang menuliskan pikiran teaternya melalui beberapa buku, antara lain; Ideologi Teater Modern Indonesia, Homo Theatricus dan Dua Teater, juga Yudiaryani dengan kajian akademisnya atas teater yaitu; ‘Panggung Teater Dunia’ dan ‘W.S Rendra dan Karya-Karyanya’ .

Dramaturg dan kritikus teater adalah dua organ vital untuk menjaga teater agar tidak terperangkap di dalam dirinya sendiri, keduanya berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara seniman, penonton dan masyarakat agar teater tetap mampu memiliki agenda sosial dan memiliki posisi dalam proses-proses perubahan yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Keduanya berpihak kepada masyarakat, melalui dramaturg, teater diusahakan agar tetap memiliki kegentingan, sehingga teater tidak menjadi sekedar uji coba kesenimanan tetapi juga menjadi laboratorium sosial atas apa sedang bergerak dalam arena ekonomi maupun politik kewargaan. Sedangkan kritikus teater mengusahakan komunikasi yang intim atas apa-apa yang terjadi di atas panggung juga menjadi milik masyarakat, mencairkan dan menterjemahkan pertunjukan melalui tulisan-tulisan kritiknya, sehingga mampu terbaca oleh publik luas, di mana pertunjukan juga ketika selesai dipentaskan menjadi dan dimiliki oleh masyarakat, sehingga ketika apa yang terjadi pada masyarakat dan apa yang bergerak pada pertunjukan tidak memiliki keintimannya, saling berdiri sendiri, kritikus teater memiliki fungsi menelaah apa-apa saja yang hilang dan luput atas keduanya.

Sedangkan dramaturg sendiri kini dalam perkembangannya tidak hanya sebagai kerja ensiklopedis atas pengetahuan dan kaidah-kaidah intrinsik kesusastraan drama, dalam esainya ‘Fungsi Dan Tugas Dramaturg dalam Seni Pertunjukan Indonesia’, pada buku ‘Peristiwa Teater’, Saini KM mengurai bahwasanya dramaturg seharusnya menjadi sebuah profesi aktif yang memiliki dan bekerja di bawah gedung pertunjukan, concert hall dan gedung teater sendiri, seperti juga kurator seni rupa yang bekerja di bawah museum, galeri nasional maupun galeri perseorangan, menjadi programmer atas sebuah gedung pertunjukan yang mengagendakan praktik konservasi dan eksperimentasi teater/seni pertunjukan, mengajukan lagi pentingnya mementaskan teks-teks kanon dari William Shakespeare, Henrik Ibsen sambil sekaligus mendukung pertumbuhan avant-gardisme teater, dance-theatre, teater post-modern, ataupun devise-theatre di sisi yang lain.

Selain juga melakukan kerja penelitian misalnya untuk mempersiapkan momen kelahiran tokoh-tokoh seni pertunjukan, seperti; Slamet Abdul Sjukur, Martha Graham, Claude Debussy ataupun Henrik Ibsen, yang di mana pada saatnya nanti dramaturg akan mendetailisasinya menjadi kerja festival, mengundang beberapa seniman yang dikurasi olehnya untuk terlibat dalam sebuah kerja festival, misalnya mengundang beberapa koreografer kontemporer hari ini untuk melakukan penelitian artistik atas karya-karya tari Pina Bausch dan mengagendakannya menjadi sebuah Festival Tari.

Dramaturg akan menjadi acuan agenda, penelitian, maupun keragaman seni pertunjukan yang dimiliki oleh sebuah kota ataupun gedung pertunjukan, di mana karya dramaturg adalah sebuah festival bersama, pertunjukan-pertunjukan pribadi, penelitian dan penulisan pada jurnal maupun pada media massa. Menjelaskan dan selalu mengkoneksikan vitalitas seni pertunjukan terhadap kota, melalui katalog pertunjukan, press conference maupun pada diskusi-diskusi setelah pertunjukan, berada di dalam pertunjukan juga di luar pertunjukan, hadir di dalam produksi teater sebagai rekan pertumbuhan proses dan sebagai lembaga komunikasi terhadap masyarakat yang berada di dalam teater dan menjadi lapisan sosial atasnya.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger