Headlines News :
Home » » HARI TARI DUNIA KE- 3 : DARI NOVERRE SAMPAI KE TJETJE

HARI TARI DUNIA KE- 3 : DARI NOVERRE SAMPAI KE TJETJE

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 30 April 2016 | 16.25.00

John Heryanto

Gunawan 'sompet'. Foto: John Heryanto
Lelaki bertelanjang dada itu berjalan perlahan dengan sapu lidi di tangan,  sapu yang menjadi jalan bagi tubuh untuk untuk bergerak kedepan. Tubuh jumpalitan menyusuri lajunya sapu. begitulah pembukaan malam kedua peringatan hari tari dunia (30/04) di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang diselenggarakan oleh Kelompok Anak Rakyat (LOKRA) Bandung. Sapu menjadi perjumpaan pertama penonton dengan panggung. Melalui sapu itu pula Gunawan  membawa gerak tubuhnya selama 20 menit pada ubin-ubin halaman gedung dan pada daun-daun yang jatuh. ‘Sompet’ kiranya mengajak siapa pun untuk menelisik ke dalam rumah sendiri.

Sedangkan Shoking Rajah Performing Art dengan ‘Asap’-nya mengajak penonton untuk mengambil rokok yang dibagikan oleh penari pria lantas meniup balon, penari pria tersebut dengan pakaian kemeja dan celana jeans kemudian menyalakan rokok sambil meniup balon, disusul dua penari perempuan pakaian casual melengagak lenggokan pinggang. Sementara di sisi yang lain seorang laki-laki sibuk melakban ketiga penari tersebut hingga balon pun pecah dan pertunjukan selesai selama 20 menit. Soking Rajah seolah menegaskan bahwa tari seperti pula sebuah roko menjadi candu, maka sekali menghisap susah untuk dihentikan sebab tanpa terasa dan nikmat sejenis asap yang dihembuskan ketika balon meletus.

Panggung selanjutnya berjalan memasuki puncat peringatan hari teater dunia yaitu ‘Upacara penghormatan kepada Raden Tjetje Somantri’ melalui nyaian ‘Indonesia Raya’ dan pertunjukan ‘Tari Sulintang’ karya Tjetje Somantri (1952) yang dibawakan oleh Komunitas Wirahma yang kemudian dilanjutkan dengan menyalakan 100 lilin oleh fotografer Amoratinna Palippoei kemudian diikuti oleh seluruh audien yang ada. Melalui tangan fotografer, menonton diajak lebih jeli memandang tari. Para penghayat sejenis lensa menagkap peristiwa tari, di tangan fotografer tari tidak hanya selesai di panggung melainkan telah berpindah ke dalam pigura-pigura digantung di dinding, layar kaca dan lain-lain.

Komunitas Wirahma 'Tari Sulintang' Foto: John Heryanto
Sedangkan ‘Tari Sulintang’ yang diciptakan oleh Tjeje Somantri merupakan percampuran dari gerakan tari di berbagi daerah seperti Bali, Jawa, Sunda, Burma dan India. Tari tersebut menggambarkan tentang kedamaian alam, hal itu pula lah yang menjadikan alasan Soekarno mengundang Tjetje Somantri untuk membawakan Tari Sulintang pada acara ‘Konfrensi Asia Afrika' (1955) sebagai wajah dari cita-cita bersama yaitu kebebasan.

Pada titik inilah para penghayat sekan dingatkan kemana tari esok akan melangkah. Kiranya hal inilah yang menjadiakn alasan perayaan hari tari dunia ke-3 ini didedikasikan untuk Tjetje Somantri. “Dulu ketika mendirikan LOKRA di 2014 kami merayakan hari tari dunia ke 1 (2014) di Taman Vanda dan Ke -2  di Bancey (2015) kami berziarah makam Pa Tjetje, kini tidak hanya sekedar ziarah tapi juga mencontoh spirit dan kecintaanya pada tari” Ucap Gatot Gunawan

Bila World Dance Day dipilih tanggal 29 April oleh Komite Tari Internasional dari Institut Teater Internasional (ITI) untuk mengenang Jean George Noverre (1727-1810) berkebangsaan Prancis dengan 'Letter sur la dense et les ballet’ yang menginspirasi seniman muda di dunia. Maka, Kelompok Anak Rakyat (LOKRA) menyelenggarakan hari tari dunia 29-30 di Gedung Indonesia Mengggugat (GIM) untuk mengenang  R. Tjetje Soemantri (1892-1963) lebih dikenal sebagai pelopor tari kresasi sunda sejak 1946 dengan  menciptakan ‘Tari Anjasmara 1 dan 2’ dan lain sebagainya, sampai 1963 dengan ‘Tari Patih Ronggana’  di akhir usianya yang ke 70 tahun.

membakar lilin. Foto: John Heryanto
Sementara itu di hari sebelumnya tampil; Sanggar Tari Pangesti, Sanggar Tari Pakuan Makalangan, Anggraeni, Sanggar Tari Putri Medal Kencana, Yesi Putriana Octaviani, Mata Air Dance Company, Para Pemburu Panggung, Rumah Tari Pangesti, Wanggi Hoed, Teater Lakon, USBP Community, Oos Koswara, Tiga Roda feat Angelo, Deri AL Badri, Ja-wara, Sanggar Tari Dara Ti Sunda, SLB Bina Kasih, Adorana Flores NTT, dan lain lain.

Hari tari dunia ke-3 ini kiranya telah menawarkan bagaimana tari kedepan hadir ditengah-tengah para penikmatnya sebagaimana yang dikatakan Gatot di penghujung acara “Kata ibuku, kalau Pa Tjetje selalu datang ke rumah-rumah warga dan berbagi mengenai keahlian menari dengan siapa saja” dan esok, tari hadir bukan hanya di jalan-jalan tapi di  gang-gang paling gelap dan kumuh sekalipun, milik semua orang.


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger