JAS MERAH DARI PULAU JAWA: SEJARAH SEBAGAI KRITIK

John Heryanto


Jas Merah dari Pulau Jawa. Foto John Heryanto
Seorang perempuan berbaju putih dengan kawat bunga di kepala (ibu pertiwi) turun dari meja lantas merayap dan terisak. “Jas merah, jas merah.. jangan lupakan sejarah” teriak orang-orang, disusul dengan munculnya bos perempuan dengan pasukan penggerebek. Lantas disusul degan nyanyian  “Kulihat ibu pertiwi/Sedang bersusah hati/Air matamu berlinang/Mas intan yang ku kenang/Hutan gunung sawah lautan/ Simpanan kekayaan..” tokoh Ibu Pertiwi merintih, terisak-isak dalam pelukan penyanyi. Lantas si Penyayi dan tokoh Ibu Pertiwi di seret  masuk kedalam lemari bergambar stupa candi Borobudur. Kemudian Dewi Sartika mati dipukul-pukul olah buku yang digenggam, Soekarno mati dengan tongkat monyet ditangan sendiri, dan Nyi Ageng Serang mati ditusuk tombak sendiri. lantas ketiga pemuda turun ke ruang penonton bernyanyi “Indonesia tanah air beta/Pusaka abadi dan jaya...”

Begitulah adegan akhir ‘Jas Merah dari Pulau Jawa’ (26/04) di Lantai Merah Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Bandung. Pertujukan ditutup dengan lagu “Indonesia Raya” dinyayikan bersama-sama. ‘Jas Merah dari Pulau Jawa’ berkisah tentang tiga orang muda-mudi berlibur di bandung, kemudian didatangi arwah leluhur dalam mimpi.

Layar putih bergambar monyet besar dan gedung DPR/MPR menjadi perjumpaan pertama dengan panggung. Layar menjadi pegantar pada situasi yang berlangsung  di sebuah negara dengan para pejabatnya serupa binatang atau sejenis tokoh Kor (AA Saepudin) dengan baju emas dan bermake-up tikus. “Hallo..Bandung! …hallo.  hey loe–loe pade tau gak, dimana Monumen Bandung Lautan Api? Gue mau ke sono, mau liburan…“ ucap Pati (Viva Amelia) di ruang penonton yang kemudian memijam handphone.  Kor dan Komer (Aditya) datang setelah di telepon. Mereka bertiga bercengkrama berbagai hal di panggung layaknya anak muda Jakarta dengan bahasa prokem layaknya anak gaul kota dengan singkatan-singkatan seperti CMS: Cieh Masa Sewot, dll serta plesetan seperti terongpon untuk menyebuat Handphon sebagai perwakilan kemajuan zaman.

Jas Merah dari Pulau Jawa. Foto: John Heryanto
Strategi sandiwara dengan banyak mengamabil unsur tadisi menjadi cara Rudolf Puspa mengungkap situsi zamannya. Babak pertama menjadi sangat cair tanpa apa pun yang mengikatkan pada sebuah pertunjukan dimana aktor keluar masuk panggung dengan berbagai sapaan dan ajakan pada penonton seperti lenong. Tak dapat dipungkiri pada akhirnya waktu berlibur  menjadi tanpa arah sebab segalanya  dibicaran mulai dari selfi, uptudate status, minum timah, minum emas, makan batu bara, korupsi waktu, baju baru, produk handphon baru, dan lain-lain. Tak ada yang tuntas semuanya sepintas penuh kegalauan dan keluhan.

Barangkali ini sebuah kesengajaan sebagaimana yang diakuai oleh Rudolf Puspa setelah usai pertunjukan: “jika memang semuanya sepintas dan tak ada yang tuntas, memang itulah kenyataannya selalu ada hal terus tumbuh dan itulah kondisi hari ini. kisah ini hanyalah fiksi dan semuanya tampak abstak, tanpa arah yang jelas”

Sedangkan babak kedua di tandai dengan datangnya Soekarno, Dewi Sartika, dan Nyi Ageng Serang. Wayang kertas hadir sebagai cara lain untuk menyatakan kondisi penjajahan. wayang yang hadir di belakang layar putih begambar monyet dan gedung MPR itu menjadi bahasa lain ketika hadir dibawah tatapan ketiga tokoh pahlawan tersebut. Para pahlawan, masing-masing menceritakan biografi dan pandangan politiknya. Mereka hadir layaknya orasi calon-calon prsedien, gubernur, walikota dll dengan segudang selogan seperti dialog: “Kita akan maju jika segalanya meng-Indonesia, budaya Indonesia, seni Indonesia dan segalanya Indonesia, sekali Indonesia tetap Indonesia ”

Jas Merah dari Pulau Jawa. Foto: John Heryanto
“Ibu kota adalah ibu negara, ibu negara adalah ibu pertiwi, mesti di jaga, mesti bersatu” ucap Nyi Ageng yang ditimpali oleh Dewi Sarika dan Sokarno. Disini Jakarta hadir sebagai Indonesia, sebagai ibu yang yang terisak-isak dan tertatih berjalan menggondol “hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan”.

‘Jas Merah dari Pulau Jawa’ tidak hanya sekedar menghadikan sejarah yang berlalau melainkan sebagai kririk atas situasi yang kini berlangsung di tengah-tengah revolusi mental dan teater hadir “mengabarkan kenyataan yang dihadapi hari ini”

Berbagi proses

Tetaer Keliling sejak 1974 merupakan salah satu kelompok teater paling produktif di Indonesia, sampai kini telah mementaskan 1500 pertunjukan. pantaslah Museum Rekor Indonesia (MURI) memberinya penghargaan sebagai grup teater dengan pertunjukan terbanyak (2010).  Selain Pertunjukan ‘Jas Merah dari Pulau Jawa’, Teater Keliling bekerja sama dengan Forum Tetear Kampus Bandung dan Sekitarnya (FTKBS) mengadakan “Workshop Keaktoran  –Imajinasi” di Lantai Merah STBA pukul 15.00-17.00 WIB. Sedangkan peserta terdiri dari mahasiswa ISBI, ITB, STKIP Siliwangi, STT Tekstil dan UNISBA, berjumlah 30 orang.

Workshop keaktoran. Foto: John Heryanto
Dalam membangun imajinasi, sang aktor dalam workshop ini dapat menempuh dua cara: Pertama; bergerak memejamkan mata berdasarkan cerita. semisal kisah Putri Duyung yang jatuh cinta pada sang pangeran yang beristri, bagi sang Duyung dalam mengejar cintanya hanya ada satu pilihan yaitu membunuh pangeran dengan pisau agar dapat kembali hidup sebagai duyung atau mati bunuh diri menjadi busa di lautan. Si pendengar adalah putri duyung yang bergerak berdasarkan perasaan saat telinga mendengar. Kedua:  mendengarkan musik sambil menutup mata, membiarkan tubuh bergerak berdasarkan perasaan yang didapat dari telinga saat ada buyi-bunyian. lewat kedua cara tersebut sang aktor diharapkan dapat mengetahui bagian tubuhnya yang bergerak dan digerakan ketika perasaan menghampiri dirinya.

Kiranya Workshop ini diadakan sebagai jalan silaturahmi antara Teater Keliling dengan pekerja teater di Bandung. “Apa yang terdapat dalam wokshop ini juga dilakukan setiap latihan Teater Keliling. Kami hanya berbagi tentang proses kerja teater” ucap Aditya salah satu aktor Teater Keliling.

Related

Teater 7984093161357172254

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item