Headlines News :
Home » » MEDIA MASA, MAU KEMANA SEKARANG?

MEDIA MASA, MAU KEMANA SEKARANG?

Written By LPM DAUNJATI on Kamis, 21 April 2016 | 14.52.00

John Heryanto

Editor's Forum. Foto: John Heryanto
Tak dapat dipungkiri kini media sosial telah menjamur dimana-mana, setiap orang bebas menyatakan apa pun sesuka hatinya dan tak ada batas, tak ada desa kota maupun negara semuanya satu dalam pulau tanpa tanah. Bila dulu orang membicarakan segala unek-uneknya di warung kopi, perapatan jalan dan lain-lain. Kini semuanya telah berbubah. Membicarakan masalah kemiskinan, korupsi, dan berbagai kejahatan negara termasuk hal-hal yang paling pribadi seperti keinginan selingkuh, pacar, belanja, kawin lari dan segala macamnya yang tak pernah ada habisnya. Semuanya menjadi biasa dan sehari-hari.

Seperti sebuah iklan minuman saja, apa pun yang kita perbuat dikit-dikit revolusi mental, segalanya serba revolusi mental. Siapa sebenarnya yang mesti di revolusi dan disinilah etos kerja mesti di timbang dan sebetulnya pemerintahlah yang mestinya merevolusi dirinya pertama kali dengan membenahi mental birokrat sampai ke pelosok desa. (Paulus)

Rita Amalindar. Foto: John Heryanto
Lantas dimanakah posisi media masa sebenarnya di tengah-tengah kebijakan negara yang giat-gitanya meneriakan semboyan kerja, kerja dan kerja serta masyarakat yang juga menuntut keadilan?

Atas dasar inilah kiranya Kementrian Komunikasi dan Informasi (KEMINFO) mengadakan diskusi santai  ‘Editor’s Forum #untukpublikdemirepublik’ di Ballroom Four Foints-Bandung (21/04) di waktu sore, dengan pembicara Prof. Paulus Wirutomo (Sosiolog dari Universitas Indonesia), Wicaksosno ndorokakung (Pakar IT) dan Rita Aamildar SE. MM (Kominfo), dengan moderator Maria Kalaij (Presenter Metro TV) dengan melibatkan peserta seluruh pekerja media masa se-Bandung Raya mulai dari cetak sampai elektronik.

Pada pertemuan ini yang menjadi pokok pembicaraan lebih kepada kerja media dalam mengolah isu dan penyampain kepada masyarakat: bad news atau goods news menyoal situasi yang terjadi di Indonesia. dan acara ini diadakan untuk membangun optimise publik.

Steet art: Andrian Laurie/Alamy - www.telegraph.co.uk
Akan tetapi inilah yang menjadi pembeda antara KEMINFO dengan media masa dimana kritikan maupun berita berbagai kemalangan yang menimpa masyarakat ada kalanya di pandang sebagai bad News. Sedangkan  media masa melakukan hal tersebuat sebagai cara untuk memantau kinerja pemerintah dalam menangani tugasnya. 

Hal ini pun diakui oleh Iskandar Ahmad (Direktur TVRI) bahwa: “memang kami media milik pemerintah yang tentunya harus sejalan dan itulah yang membedakan dengan media lainnya mesti tak dipungkiri bahwa ada sebagian media milik politisi. Mengeni kritik mengkeritik pemerintah, saya rasa itu tidak apa-apa selama itu jujur dan benar. menjadi masalah itu adalah jika media masa mencari kesalahan-kesalahan yang tidak ada sehingga menjadi kebohongan dan itulah yang disebut bad news. 

Sedangkan bagi Pulus “media masa memiliki peranan yang penting dalam membangun karakter bangsa (penetrasi) dalam bergagai hal dan kita bisa lihat bagimana tauran pelajar, pemerkosaan dan lain-lain yang secara tidak langsung tindakan tersebut dipengaruhi atas yang didapatnya di media masa terutama elektronik maka dari itulah media haruslah menjadi spirit bagi semua".

Pada kenyataan inilah media masa diingatkan bahawa ia bukanlah corong kekuasaan (negara) melainkan sebagai mulut untuk menyampaikan kenyataan (kebenaran) yang terjadi di sekitarnya (kontrol sosial) apalagi bagi pers kampus, selain berpegang pada etika jurnalistik, Undang-Undang Pers juga pada Tridarma perguruan tinggi maka mestilah ia lebih berani untuk turun ke jalan.




Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger