Headlines News :
Home » » PAGUYUBAN LONGSER: UNTUK IKLIM TEATER

PAGUYUBAN LONGSER: UNTUK IKLIM TEATER

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 15 April 2016 | 14.12.00

Teater  tentunya tak dapat dilepaskan dengan apa yang menyertai di sekitarnya, ia tak akan hadir begitu saja di tengah-tengah penghayatnya. Teater, salah satunya longser yang tumbuh sejak tahun 1920-an di daerah parahyangan termasuk Bandung atau yang lebih dikenal dengan longser Bang Tilil atau Ateng Jafar (1935). Apa yang luput di sekitar tersebut itulah, kiranya menjadi keresahan seniman longser ditengah tumbuhnya kebudayaan digital yang melampaui kehidupan sebenarnya, pada titik inilah longser dipertanyakan ulang keberadaannya.

Baliho Parade Longser

Longser dari long (melong) dan ser (ngageleser) bermakna pandangan akan hasrat. Bila dulu pada kemunculanya Longser sebagai sebuah bentuk pernyataan masyarakat yang terpinggirkan sekaligus sebagai kritik lewat guyonan atas situasi yang dihadapi di masa Kolonial. Sedangkan di gedung-gedung pertunjukan di masa kolonial sejak abad 16-an, teater hadir bukan untuk pribumi atau anjing melainkan untuk hiburan kaum bangsawan dan pejabat Hindia sebagai pelepas lelah sehabis kerja termasuk Serikat Toneel di Bandung (1882) yang didirikan oleh Pieter Sijthoff.

Meski longser telah berusia 96 tahun, namun sampai hari ini kesenian tersebut masih dianggap sebelah mata terutama bagi masyarakat kota. Kota sekan menjadi tempat bertemunya berbagi kepentingan ekonomi yang lambat laun menjadikan setiap orang lupa pada apa yang terdapat dalam dirinya sebab segalanya telah mengalami dekodesasi.

Hal ini pula salah satu alasan didirikannya Paguyuban Longser Bandung melalui Parade Longser yang diselenggarakan di GK. Dewi Asri ISBI Bandung (11-12/04)  dengan mementaskan Longser Injuk: Doger Hanoman, Wahana Setia Sunda: Bandung Lautan Api, Toneel Bandung: Budak Galau.

Paguyuban Longser ini didirikan untuk menciptakan ekosistem teater, kalau istialah Pa Sini KM itu disebut iklim teatar (Yoyo. C. Durahman)

Membangun iklim teater tentunya bukanlah perkara mudah, bukankah Teatar di Indonesia ada sejak tahun 1600. Kiranya lewat Parade inilah Paguyuban Longser membaca kembali penontonnya sekaligus sebagai jalan membangun iklim. Lantas apakah iklim teater akan tercipta dengan Parade semata?


John Heryanto
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger