RACUN TELEVISI DARI BINCANG ISOLA

John Heryanto

Foto: Dokumentasi ISOLA 
Tak dapat dipungkiri sejak pertama kalinya media masa ada di Indonesia, didirikan pertama kali oleh VOC untuk mensukseskan program penjajahan di tanah Hindia Belanda tahun 1848. Karena sindikat dagang semacam ituah yang membuat media masa maka tentunya orientasinya uang dan uang. Inilah yang diwariskan hingga kini bahwa tujuan media menimbang untung rugi dengan hanya bermodal bacot tapi mau dapat duit banyak.

“Televisi tidak bisa lepas dengan yang namanya rating”(Diki Wismara)

Media Televisi inilah yang menjadi percakapan dalam bincang Unit Pers Mahasiswa (UPM) ISOLA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Museum Terbuka Pendidikan Nasional (30/03) dengan tema ‘Mendidik Televisi’. Diskusi ini menghadirkan Ketua Komisi Penyiaran Indonesi Daerah (KPID) Jawa Barat Dedeh Fardia, Pakar Psikologi dari Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI  Engkos Kosasih, pengurus Ikatan Jurnalisme Televisi Indonesia (IJTI) Dicky Wismara, Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP), Hari Santoni, dan Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Budhi Purnama.

Foto: Poster Acara Diskusi Isola


Rating inilah yang menjadikan tolak ukur bagi media masa khususnya Televisi untuk menggodog perogramnya sesuai dengan pasar, sebab di pasar itulah kantong-kantong uang bersemayam. Dalam hal ini, rating sebagai penentu ‘selera’ masyarakat untuk mendulang pundi-pundi iklan masih dijadikan penentu apakah program dilanjutkan atau tidak. Jika sudah demikian apa lagi yang dapat di pertahankan dari sebuah Media masa kecuali runtah.

“program televisi yang amburadul karena menghamba pada rating akan membahayakan moralitas. Termasuk faktor kepentingan pemilik media yang akan ‘membodohi’ masyarakat karena digiring untuk tunduk pada kepentingan media”. (Hari Santoni)

Lagi-lagi masyaraktlah yang menjadi korban dari ‘kekerasan media masa’, masyarakat pula yang harus merelakan dirinya untuk dicuci kepalanya setiap hari ketika dirinya ingin menghibur diri dengan menonton Televisi atau anak-anak sepulang mengaji isya dicekok sinetron, dan lain-lain.

Foto: Dokumentasi ISOLA
“Di Jabar itu ada 532 lembaga penyiaran, kami ada rapat pleno isi siaran yang menentukan mengapa TV ditegur, dihimbau, dikurangi durasi siaran atau dihentikan sama sekali,” (Dedeh Pardia).

Di Jawa Barat saja sudah mencapai ratusan apalagi se-Indonesia, tentunya bisa dibanyangkan bagaimana media tersebut masuk ke rumah-rumah warga, dimana para penghuninya adalah penonton setia.

Acara diskusi ‘Mendidik Televisi’ ini menjagi semacam cara bagi mana orang menjadi sadar akan apa yang ditontonnya di Televisi. Setidaknya dapat menjadi Filter. Lantas Apakah hanya Televisi saja yang berdosa membodohi masyarakat?


Related

Film 7742082444927093225

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item