Headlines News :
Home » » SEKALI LAGI DITANYAKAN, UNTUK APA MEDIA MASSA ADA?

SEKALI LAGI DITANYAKAN, UNTUK APA MEDIA MASSA ADA?

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 03 April 2016 | 00.57.00

John Heryanto

Foto: Coldwarwarrior.com
Kini hampir seluruh media masa (cetak dan elektronik) di Indonesia milik politisi atau petugas partai. Selain itu berbagai kolom khusus di media cetak maupun elektronik dapat digunakan oleh siapapun tergantung kesanggupan membayar kolom, tentunya sudah menjadi rahasia umum. Selain itu di tambah lagi dengan wartawan bodrek dan lain-lain. Jika media masa mengabdi kepada siapa pun atas nama uang maka apa yang dinamakan Pers sebagai corong kebenaran, pilar demokrasi dan lain lain adalah omong kosong, dusta belaka, dan sebaiknya media masa tersebut dibubarkan.

Gerimis itu turun sore-sore, pada sore itulah di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Daunjati ISBI Bandung mengadakan ‘Open House’ (31/03) dengan menonton film pendek ‘The Journalist’ by Daniel Maldonando dan ‘One Houndredth of A Second’ by Susan Jacobson. Meski kedua film pendek tersebut bukanlah baru tetapi menjadi tontotan wajib terutama bagi mahasiswa jurnalistik atau yang berminat jadi jurnalis semacam nutrisi.

‘One Houndredth of A Second’ berkisah tentang seorang fotografer yang memotret seorang gadis kecil di tengah-tengah perang di Amerika Latin dan ujung revolver berada di kening si gadis. Ia meronta, menagis dan meminta tolong tapi tak ada siapa pun yang sudi membantu. Sementara si fotografer bersembunyi di balik dinding tembok dengan kamera yang menembak tanpa henti kepada si gadis.

Disinalah kematian sang gadis dirayakan di hotel berbintang dalam perjamuan istimewa dimana para wartawan berkumpul merayakan kemenangannya dalam  anugrah wartawan terbaik dan foto gadis kecil yang mati dengan lubang peluru dikepala menjadi foto terbaik dan wartawan terbaik. Sebuah akhir film yang menyakitkan, sekaligus menggugat kehadiran wartawan sebagai apakah sebenarnya mahluk bernawa waratawan dan dimanakah kemanusiaan itu disimpan?

Foto: Satujam.com
Film tersebut mengingatkan kepada seorang fotografer bernama Kevin Carter peraih Pulitzer tahun 1994, karya fotonya memotret seorang anak kecil sekarat di depan burung bangkai di  Sudan yang di muat di New York Times. Atas karya fotonya itulah ia dihujat semua orang karena dianggap tidak memiliki kemanusiaan sampai akhirnya si fotografer bunuh diri di Johnnesburg Afrika Selatan sebagai cara menebus dosa. Dan fotonya kini dianggap sebagai karya terbaik sepanjang masa.

Sebaliknya The Journalist’ berkisah tentang wartawan yang mati di tembak karena menulis investigasi korupsi Presiden, meski pada akhirnya si Presiden pun mati bunuh diri karena ketahuan masa sebagai pelaku korupsi. Sejak awal film ini memperlihatkan bagaimana seorang wartawan mati demi meyelamatkan kameranya dan kamera itulah yang kini ditangan wartawan yang juga di tembak mati karena memuat berita korupsi tersebut.

Pada film ini antara sikap yang harus diambil seorang wartawan dan kode etik jurnalis beriringan. Film ini memang berlatar Mexico, sangat dekat yang sama-sama negara ke tiga seperti Indonesia. Film ini mengingatkan kepada beberapa wartawan yang mati karena menulis seperti Udin wartawan di Yogya, dan beberapa pemberedelan terhadap media masa sejak era Soekarno, ORBA hingga kini termasuk kepada Pers Kampus yang akhir tahun kemarin dibredel di Malang.

Sejak undang-undang kolonial tahun 1848 yang melarang pemberitaan yang bersipat agitasi dalam sidang-sidang parlemen, sejak itu pula Pers terancam. Bahkan undang–undang ini masih dipakai Soekarno dan jika dihitung kasus pemberedelan kepada media masa sejak zaman Hindia Belanda sampai kini yang anti Pers jumlahnya mencapai ratusan.

‘The Journalist’ dan ‘One Houndredth of A Second’ kiranya menjadi penting untuk ditonton sebagai cara memperkarakan diri sendiri dan menimbang kembali apa gunanya Pers, apalagi kini ditengah berjamurnya medsos, dimana setiap orang adalah pewarta bagi dirinya maupun orang lain dan sudah saatnya setiap orang melek media.










Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger