SIMFONI KEMATIAN DALAM DUNIA MAINAN: MENGUBUR KORUPTOR, MEMBUNUH BAPAK!

John Heryanto

Simfoni Kematian dalam Dunia Mainan. Foto: John Heryanto
“Bapa, aku kini buronan….Bapak, aku jadi buronan”. Begitulah anak kecil berteriak-teriak membawa karung uang sambil berlari memanjat pohon setelah mebunuh bapaknya, setelah melihat di Televisi ada berita korupsi, setelah mengubur bapak dengan pasir dan setelah sorang laki-laki berkemeja hitam menaburkan bunga di tubuh koruptor. Begitulah peristiwa berlangsung di penghujung adegan yang langsung disambung dengan teriakan bersahutan dari setiap orang yang datang dari berbagai penjuru panggung: koruptor harus dikubur!

Peristiwa pertama bermula dari tujuh orang yang bermain-main di panggung kotak, saling mengejar, loncat, main tendang-tendangan dengan iringan musik dari potongan game, suara tembakan, suara orang berkelahi dan suara tombol-tobol jimbot atau play station. Musik menjadi cara lain untuk menyatakan apa yang berlangsung dihadapan merupakan sebuah kejadian di dunia virtual. Lantas anak-anak itu berlarian di bawah pohon menyusun kotak-kotak kubus berwarna putih, sosorodotan dan bermain palu-paluan di bawah suara-suara game. Suara yang mengintai di balik keriangan anak-anak menjadi penghubung antara lenyapnya permainan bersama sejenis sorodotan atau ucing sumput  dengan dunia digital. Dimana anak-anak menghabiskan hari-harinya di depan play station, video game dan segala jenis permainan internet.

“Bapa, aku butuh rumah yang utuh” teriak seorang anak sehabis bermain di belakang rumah dan seorang lelaki berdasi dengan kecamata peneropong menyahut Presiden, aku mendengar suara dari perut yang lapar! yang kemudian disusul dengan munculnya sorang perempuan membawa payung beratap balon-balon dan berkata kepada anak tersebut yang berdiam dalam sangkar burung: siapa yang akan bertanggung jawab dan memberikannya uang?

Kiraya begitulah sebagian peristiwa ‘Simfoni Kematian dalam Dunia Mainan’ dari beberapa adegan yang dihadirkan di panggung.  Pertunjukan ‘Simfoni Kematian dalam Dunia Mainan’ berlangsung di Teater Kebun ISBI Bandung (17/04) selama 40 menit. Merupakan  hasil dari proses bersama selama tiga hari antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ISBI Bandung, Anak Langit, Darah Rouge, Teater Piktorial, SFNlabs, dan Teater Cassanova di bawah penyutradaraan Irwan Jamal.

Simfoni Kematian dalam Dunia Mainan. Foto: John Heryanto
Ihwal korupsi dalam pertunjukan ini memetakan dirinya dari hal yang terdekat yaitu keluarga dan anak (homo luden). Keluarga mejadi pintu pertama bagi seorang anak menyadari apa yang sebenarnya di jalani seumur hidupnya. Sedangkan apa yang dinamakan pengharapan dan penghidupan tak lain kehampaan. Hal ini sebagai mana terlihat dalam adegan ketika sang perempuan (ibu) menyerahkan balon kepada laki-laki (bapak). Di tangan laki-laki itulah balon itu pecah ketika dirinya korupsi, lantas mati dibunuh sang anak setelah menonton berita korupsi di TV. Balon di sini menjadi bahasa lain bagaimana angan-angan perempuan justru menjadi mati ditangan laki-laki atau kekasih, sebuah kesakitan dari rumah yang pecah.

Di rumah itu pula sang anak diam-diam menjelma orang asing bagi dirinya sendiri sebab apa yang dinamakan permaian anak-anak itulah masa hidupnya dan sebaliknya menjadi ucing sumput -yang entah siapa menjadi ucing dan siapa yang nyumput sebab anak adalah buronan yang suka bergelantungan dalam sangkar burung.

Secara keseluruhan yang hadir di atas panggung antara tubuh yang liar, teks-teks yang di lontarkan sang aktor dengan benda-benda yang dihadirkan di atas pentas saling membangun jalannya sendiri-sendiri sehingga panggung menjadi lautan bahasa asing. Namun terlepas dari itu semua ‘Simfoni Kematian dalam Dunia Mainan” telah mengungkap sisi lain bahwa korupsi tak pernah memiliki jarak sebab ia ada di rumah begitu pula negara. Siapa pun bisa menjadi koruptor atau buronan sejenis anak dan bapak.

Dunia ini hanya main-main, bapa!


Related

Teater 6619285953325079687

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item