TENTANG PROSES BLANK: DARI DETIK YANG PERGI

John Heryanto



Blank. Foto: John Heryanto
Pada suatu hari aku sering menyempatkan waktu seharian hanya duduk di taman solah-olah menunggu, sekedar ingin tahu bagimana rasanya menunnggu mesti tidak tahu apa sebenarnya arti menunggu itu? (Sugiyanti Ariani)

Kiranya begitulah ‘Blank’ hadir menyuguhkan pertanyaan bagi penonton dimana panggung adalah ruang yang hanya di batasi ujung tatapan sejauh memandang. Tak ada penanda kapan mulai dan berakhirnya sebuah pertunjukan, semuanya mengalir apa adanya sebagimana si penghayat berjumpa dengan waktu yang dihabiskan untuk menonton.  Tak ada apa pun yang mengikatkan dirinya pada sebuah pertunjukan, semuanya cair sebagaimana waktu itu sendiri yang bergulir. Para aktor dalam ‘Blank’ disini  sebagai orang yang sama dengan penonton; sedang menunggu pertunjukan. Lantas dimankah seni itu sebenarnya berada?

Pada waktu menunggu itu aku sempat memikiran apa yang dilakukan dan dipirkan orang ketika duduk menanti sesuatu yang tak pernah pasti. (Sugiyanti Ariani)

Seni atau Teater di ‘Blank’ bukanlah lagi apa yang dinikmati para penghayatnya sebagai sebuah pertunjukan melainkan apa yang dipikirkan setiap orang ketika menungu dan melihat kenyataan panggung di hadapannya dan teater adalah apa yang ada di kepala setiap orang.  Apa yang dinamakan sebagai seni pada ‘Blank’ di kembalikan kepada pemilik keindahahan aestetika yaitu yang Absolut dalam dunia ide dan segala apa yang terlihat seungguhnya tidak ada dan yang ada adalah ide itu sendiri.

Blank. Foto: John Heryanto
Pada titik inilah teater dipertanyakan kembali kehadirannya di tengah-tengah masyarakat penikmatnya sebagai apakah sebenarnya teater itu ada? Pada keduanya baik si seniman maupun si penghayat dapat merumuskan ulang apa fungsi teater bagi dirinya sendiri. ‘Blank’ hadir menjadi semacam gugatan pada teater yang sudah terlanjur tumbuh dan berkembang di masyarakat sebagai sesuatu yang selalu meyatakan dirinya cermin dari kehidupan.

Pada ‘Blank’ semuanya biasa saja selayaknya orang duduk menungu di taman; bertanya kabar atau menyapa pada siapa pun yang lewat, mengobrol dengan orang lain yang sedang duduk menonton dan berdiam diri di taman menunggu sebagaimana orang lain duduk ditaman seharian hanya menghabiskan waktu dan terserah mau ada yang menonton atau tidak karena ‘Blank’ bukanlah pertujukan melainkan orang yang sedang menunggu seperti pula penonton yang duduk menanti tak ada yang tahu kecuali waktu telah berlalu; pada setiap detiknya ia telah pergi meninggalkan denting jam.

Kiranya begitulah ‘Blank’ berlangsung dari apa yang saya lihat pada proses latihan Sugi dan Wail di taman depan perpustakaan dan Studio Film ISBI Bandung di bulan Februari dan ini hanyalah catatan penonton proses. 



Related

Teater 6447913669384441165

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item