PERFORMATIVITAS SETELAH KONFLIK : YANG MENYAPU DAN YANG TERTAHAN DI TENGAH PINTU

Oleh: Riyadhus Shalihin

Performance Art John Heryanto
Setelah penyerangan oleh Front Pembela Islam di tanggal 10 Juni 2016, LPM Daunjati sebagai lembaga pers di satu kaki dan pekerja seni di kaki lainnya, tidak hanya mendiamkan apa yang terjadi pada hari senin pagi tersebut sebagai arsip peristiwa semata. Semi Ikra Anggara dan John Heryanto, pendiri dan anggota LPM Daunjati yang juga dikenal sebagai aktor serta pelaku performance art melakukan resepsi atas pengalaman diagresi yang mereka alami.

Performance art yang dilakukan setelah tengah malam tersebut seperti juga tindakan membersihkan hari, atau juga membersihkan diri sendiri. Dalam lingkungan tradisi lokal dikenal berbagai praktek purifikasi tubuh, misalnya saja menyucikan diri menjelang pernikahan (tilem kembang), membersihkan desa agar sawah kembali subur (ruwatan kampung), mencari berkah di malam bulan purnama (mapag bulan), atau pada pertemuan kultur etnik jawa dan agama islam, yaitu siraman malam di satu suro demi mendapatkan karomah/berkah dari puasa yang akan dilakukan sepanjang bulan sura. Apa yang dilakukan oleh Semi Ikra Anggara lebih seperti tirakat politik dengan tiga fase ruang ; pertama, LPM Daunjati sebagai arsip untuk dirinya sendiri, seperti rememorial pada apa yang dia dirikan, tampak dirinya membawa satu buah kain pel berwarna hijau, mengokangnya layak senjata laras panjang, sembari menggigit buku DAS KAPITAL karya Karl Marx jilid I, dan menggeram-geram sembari membelalakan matanya antara marah, cemas dan delusif, kedua adalah jalan di depan LPM Daunjati sebagai arsip ruang pasca-kedatangan FPI, titik berkumpulnya barisan FPI pada siang hari, melalui kedua fase ruang tersebut Semi Ikra Anggara menjalani purifikasi lewat tengah malam.

Pertemuan Semi Ikra Anggara dengan ruang-jalan dimulai dengan  berputar mengelilingi ember hijau, dengan tetap menggigit buku DAS KAPITAL, dan mengibas-ngibaskan sapu lidi di sekitar ember. Semi Ikra Anggara lalu bergerak membersihkan jalanan hingga gerbang di samping kampus, tindakan performance yang juga membawa dua lapis pembacaan, antara menyapu sebagai outer-space yang dilihat dari luar, yaitu menyapu sebagai tindakan menyapu dalam keseharian pada umumnya, dan menyapu dalam konsepsi inner-space performance art – yang membawa order personal atas menyapu bukan sekedar hanya menyapu, tetapi menyapu yang bisa menjadi lapisan lain, bahwa ada yang di luar material (daun,sampah,batu,pasir) di atas jalan yang ingin dibersihkannya, yaitu sampah-sampah imaterial di atas jalan ; FPI dan kawanannya.

Performance Art Semi Ikra Anggara #1
Batas antara menyapu lalu mengepel berada di antara tegangan yang kongkrit dan yang personal, diantara lelah, keringat, dan nafas yang memberat selama performer berpacu di dalam durasi yang diciptakannya sendiri. Semi Ikra Anggara lalu mulai membuka satu persatu pakaian yang dikenakannya, mulai dari sandal, kaos bergambar Karl-Marx, celana  jeans hingga celana dalam. Lalu dirinya mengambil tong sampah dengan logo ISBI Bandung, seluruhnya diletakan satu persatu berjajar, hingga Semi mengambil ember hijau berisi air keruh dan mengguyurkannya ke seluruh tubuh.

Moving, Movement and Motive

Semi Ikra Anggara yang berdiam di antara susunan pakaian dan benda-benda yang ditemukan di sekitar jalan menjadi pertanyaan terhadap konsep gerak dalam praktek performance art, dimanakah sebenarnya letak gerak pada performance art, apakah ketika dia melangkah – menyapu, mengepel dan mengguyurkan isi air ke tubuhnya, ataukah ketika dia menarik nafas dalam, terengah-engah dan terdiam di atas aspal. Pada performance art yang dilakukan oleh John Heryanto gerak, pergerakan dan motif gerak adalah yang hadir dalam diam, dan yang terbaca sebagai faset ruang.

Performance Art Semi Ikra Anggara #2
Tubuh kedua performer, menjadi tubuh darurat pasca-konflik dimana motif gerak semuanya bersumber dari pengalaman bentrok antara mahasiswa dan ormas FPI, dan apa yang tersisa setelahnya bisa menjadi gerak yang berulang (mengepal,mengeras), diamplifikasi menjadi sangat-mengepal, sangat-mengeras, tetapi juga pada peristiwa performance art, visi gerak bisa menjadi sangat berlawanan dari apa yang menstimulasi. Pada tubuh Semi Ikra Anggara, resepsi atas penyerangan FPI, justru dihadapkan pada tubuhnya langsung, menjadi objek atas dan untuk kemarahan, dimana seluruh tanah dan kotoran yang terperas di wadah ember seluruhnya dibanjurkan kepada tubuhnya sendiri, dimana posisi tubuh menjadi sejajar dengan tong sampah, baju, buku, jam tangan, lap pel, dan ember, sebuah sikap berdiam dari seluruh kewajiban membersihkan diri, ataupun pada tubuh terikat John Heryanto yang dililiti oleh lakbandan selotip di sekujur tubuhnya. Tubuh John Heryanto seperti juga posisi sejajar tubuh Semi Ikra Anggara dengan benda-benda found-object/mine-object juga menjadi sejajar bagi aksara 1965-2016 yang dituliskan oleh Semi Ikra Anggara, juga poster Sekolah Marx di samping kepalanya yang baru saja diintervensi oleh Organisasi Masyarakat bernama Front Pembela Islam, ulta-paranoid yang mengatas namakan Islam sebagai entitas yang harus dibela, logika yang sekaligus membendakan islam itu sendiri sebagai jenis material yang bendawi dan sangat fisikal. Menjelang satu jam performance, John Heryanto masih berdiam di dinding, hanya saja satu persatu tubuhnya seakan hendak berjatuhan dari dinding seiring dengan selotip yang pelan-pelan berlepasan.

John Heryanto mengurai pintu kantor administrasi ISBI Bandung sebagai lokasi keluar-masuk berbagai makna, sebagai pertahanan yang bobol dari lembaga yang tidak bisa menahan agresor dari luar kampus, pintu yang tidak bisa melindungi mahasiswa yang berada di dalamnya, pintu yang mencederai kepercayaan bahwa di dalam kampuslah kita merasa aman, dalam kegiatan belajar mengajar. Hingga di akhir performance, John Heryanto memberikan seluruh selotip yang sedari tadi  digunakan dan bergerak bersama tubuhnya di atas loker pembayaran, dengan seorang pegawai kantor administrasi ISBI Bandung yang masih bekerja di belakang komputer menyaksikannya. Pada performance Semi Ikra Anggara dan John Heryanto, keduanya memberikan apa yang bisa dibawa oleh mereka yang menonton, pada Semi Ikra Anggara – kotoran dan seluruh yang dibanjurkan pada tubuhnya ataupun bulatan acak dari lilitan selotip yang ditaruh John Heryanto di loker kantor administrasi ISBI Bandung, sebagai teritori di luar performer yang bisa dikemas sebagai monumen ingatan pasca-konflik.

Related

Teater 7869750235316421594

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item