SARI ATER: WARGA VS PENGELOLA

*Berita hasil pelatihan Jurnalistik dan penerimaan anggota baru Daunjati.

Daunjati-Subang, minggu (24/04) Obyek wisata Sari Ater ramai pengunjung selain weekend, cuaca dingin menarik wisatawan lokal maupun interlokal untuk berendam di kolam panas Ciater dan berbagi kegembiraan bersama warga. Hal ini senada dengan pengakuan Gugun yang berdagang selama 10 tahun. “Saya merasa bahagia menjadi pedangan asongan meski penghasilan tak tentu, dari pada jadi buruh pabrik di Jakarta”.

Bersama Pedagang. Foto: John Heryanto

Pada awal-awal berdirinya wisata Sari Ater banyak terjadi pertentangan antara masyarakat dengan organisasi preman bentukan Sari Ater.  “Dulu preman-preman meminta pungutan liar sebesar 10 ribu setiap kali berjualan dan itu merugikan, masa belum apa-apa harus bayar padahal itukan tanah leluhur kami dulu” ucap seorang pedagang yang tak mau disebutkan namanya.

Selain masalah preman, pedang juga kadang-kadang bentrok dengan pengelola Sari Ater. Atas dasar itulah akhirnya para pedang membuat Kelompok Pedagang Parkir Sari Ater (KIPSA) untuk menampung gagasan dan aspirasi pedagang serta membantu penjaminan untuk pinjaman modal pedangan dari bank.

“Waktu itu pedagang keluar masuk tempat wisata Sari Ater dan pengelola melarang masuk, cukup lama terjadi ketegangan. Beruntunglah ada konsolidasi KIPSA dengan pengelola. Kini hasilnya warga dapat berjualan meski di area parkir.”  Ucap Gugun disela-sela aktifitas berjualan.

 (Agung E.Sutrisno, Rizky.S, Heryana/ Wartawan Magang 2016)


Related

Luar Kampus 7983662702204515618

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item