SEJARAH DARI PRA SEJARAH: SENI SEBAGAI LAKU HIDUP

John Heryanto

“Teater dimulai ketika manusia berusaha meniru tingkah laku binatang sebagai siasat berburu”. (Macgowan-Melnitz)

Layaknya monyet, ia akan bergerak ketika lapar begitu pula manusia Indonesia pertama sekitar 600.000 tahun sebelum masehi (pleistocean) setelah 20.000 tahun  permulaan zaman (holocen). Hal ini berdasarkan ditemukannya fosil Phitecantropus Erectus oleh E. Dobois (1898) ditambah dengan fosil Homo Wajakensis, Homo Soloensis, Pithecantropus Robustus, Picthecantropus Mojokertensis, dan Megantropus Paleojavanicus oleh G.H.R von Koeningswald dan F. Weidenrich (1938-1936). Sebagai binatang pikiran (summon primat) manusia senantiasa menelusuri berbagai kemungkinan diluar dirinya. Dan sejak manusia mengenal tubuh, maka sejak itu pula manusia menyusun sejarahnya dari yang  melekat di badan sebagai cara mengada (being).

John Heryanto 'Pohon Mimpi& Para Pengungsi-Irwan Jamal'. Foto: Langgeng

Berangkat dari lapar itu pula manusia bekerja (zoon politicon) guna menemukan hakikat hidup yang bebas. Berburu binatang, menangkap ikan, mengumpulkan bahan-bahan makanan mulai dari buah-buahan, daun-daunan, sampai jenis umbi-umbian dan lain-lain (foodgathering). Dari aktifitas inilah kemudian manusia menciptakan alat-alat produksi guna pemenuhan hidup layak dan bebas.

Begitu pula seni bermula dari lapar, manusia pertama sebagai mahluk penyontek yang  meniru gerak gerik binatang sebagai cara mendapatkan makan. Meniru disini menjadi sesuatu yang dipelajari turun temurun sebagai cara untuk menangkap binatang buruan. Meniru pada akhirnya sejenis keterampilan (ars) meski sebatas gerakan – gerakan kecil sebatas jengke atau merayap menjadi cermin sosok dihadapan (persona). Bukankah menari adalah gerakan tubuh berirama yang melibatkan perasaan dalamya, sejalan dengan pernyataan Walter Surell dalam the dance trough the age bahwa tari lebih tua ketimbang usia manusia di dunia’. Maka meniru disini dapat dikatakan sebagai kerja seni (mimetis) yang ‘bukan menciptakan alam melainkan mengungkap dunia dalam dan luar sebagai sesuatu yang memungkinkan manusia menemukan dirinya’(Hegel) dan seni hadir sebagai cara manusia hidup sehari-hari; seni makan, seni tidur, seni berak, seni bersenggama, seni membunuh, dan lain sebagainya.
orang menari -Patung Perunggu dari Bangkiang Suamtara Selatan. zaman logam. Foto: travel.com

Zaman benda-benda, seni menyambut sejarah

Sejarah dimulai ketika ditemukannya tulisan, sebelum ada huruf-huruf yang tersusun  manusia menguraikan dirinya melaui tubuh dan benda-benda di sekitar sebagai bahasa sehingga lahirlah zaman batu (Paleolithikum, Mesolithikum, dan Neolithikum), zaman logam (tembaga, Perungu dan besi) dan zaman batu logam (Megalitikum) dengan cara tersebutlah manusia ada dan dibaca oleh generasi selanjutnya.

Manusia pertama mulai mengungkap realitas alam yang ditangkapnya dari perjumpaan dengan binatang, perburuan sampai pada peniruan. Sejak itu pula manusia mengangkat apa yang ditangkapnya pada tingkatan refleski dan kesadaran untuk mengatasi hidup, lahir sebagai kesia-siaan. Maka dari itulah manusia memulai serangkaian penciptaan yang Hegel sebut sebagai ‘perwujuadan indrawi dari ide’.

relief orang menari di waruga minahasa yang menandakan semasa hidupnya seorang penari - neolitikum. Foto:Amysati.wordpres.com


Pada zaman batu tengah (mesolithikum) sekitar 40.000 tahun sebelum masehi. Manusia mencari pertalian dirinya untuk mengada lewat lukisan di gua-gua (Papua-Melanesoide). Gua bukan hanya sekedar tempat bermukim (abris sous roche) juga sebagai tempat mencari dan memperkarakan diri. Penelitian pertama ke gua dilakukan oleh  Firtz Salasin dan Paul Sarasin (1893-1896), van Stein Calenfels (1928-1931 dan 1932-1931) kemudian di susul oleh van Heekeren (1937). Dari penelitian itu ditemukanlah benda-benda sejenis perkakas dari batu (pebble–culture) alat-alat dari tulang (bone-culture) dan berbagai peralatan lain sejenis gergaji, ujung panah dan sebagainya dari tulang (flake-culture) yang terdapat di sekitar gua.

Goresan-goresan kapak, darah, lemak, cap tangan, gambar-gambar binatang buruan dari manusia pertama pada dinding gua atau yang kini disebut sebagai lukisan .Tersebar di gua-gua di Indonesia (Sulawesi, Kalimantan, Flores, Papua) yang Sumardjo sebut sebagai ‘perlambangan dari spiritualitas manusia timur –estetika paradok’ antara ‘kematian dan kelahiran manusia’ (van Heekeren) dari yang tertampakan sebagai ‘keajaiban idealis’ (Hegel) dalam perjalanan manusia menemukan kebenaran dari hidup yang hampa.

Begitu juga dengan tubuh, menjadi medan refleksi sekaligus medan ekspresi dari upaya mengada. Pada tubuh itulah manusia mengungkap apa yang tersembunyi di balik apa yang dijalani selama hidup dan lewat tato itulah manusia merefleksikan diri seperti di daerah mentawai (neolitikum - proto melayu) atau di dayak (proto sejarah).

Selain itu pada seluruh aktifitasnya, manusia pertama selalu mencipta mulai dari alat-alat produksi( kapak dan lain lain) pakaian, perhiasan, patung, dan lain sebagainya, pada seluruh aktifitasnya merefleksi. Maka seni hadir sebagai cara manusia ada, seni adalah hidup itu sendiri sebab setiap orang lahir sebagai seniman.

Related

Teater 6409895940064383925

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item