TEOLOGI SENI *

John Heryanto

Terlepas dari kebenaran metafisik dan kewahyuan, setiap agama menyentuh pemeluknya melalui pemikiran dan  bahasa estetis sebagaimana yang terlihat dalam teks-teks kitab suci, tradisi puitik, nyanyian kebaktian, hikayat dan dan dongeng-dongeng mitologi. Dalam kurun waktu tertentu apa yang diyakini dalam agama pada akhirnya menciptakan ‘realitas kultural’ yang memiliki pengaruh terhadap wacana politik dan kekuasaan.

Sejarah menunjukan bahwa otoritas penguasa dan pemimpin agama (raja atau khalifah) memperlihatkan pengaruhnya dalam seni misalkan arsitektur rumah, tempat ibadah, kuburan, istana, dll termasuk jenis seni lainnya seperti musik, tari, teater, seni rupa, film dan sastra sebagai bagian dari religius.

Sedangkan dalam proses hidup, keyakinan (tauhid) menjadi  pusat berlangsungnya kebudayaan (QS. 2:25) dalam setiap lakunya merefleksikan nalar dan pemahaman kritis (QS. 58: 11). Maka proses penciptaan karya seni tidaklah dapat dilepaskan dari usaha yang bersipat ekperimental, radikal, tanpa henti memperbaharui pemikiran dan bebas (QS. 39:17, 16:44, 2:111, 2:170).Seni tidak lagi sekedar mengungkap apa yang tersembunyi melainkan sebagai yang fitri. Meski pada kenyataannya, kebanyakan seni digunakan kelompok agama sebegai media dakwah semata, tanpa memperhatikan estetika. Sehingga seni menjadi beku di mimbar khutbah sebagai ‘modus komunikasi’.

john heryanto 'kapai-kapai riyadhus'. Foto: Gildakharisma
Seni dalam agama berada dalam ruang estetis yang tak terbatas untuk menemu sang Ilah. Secara penampakannya, seni dalam pandangan agama haruslah memusat pada:

1.      Transendensi dan imanensi yang kemunculannya melalui iman
2.      Manifestasi tauhid
3.      Mencerminkan pecarian dan perlawanan (musyahid)
4.      mengatasi konfik budaya baik secara intuitif maupun intelektual (ijtihad)

Ada pun unsur-unsur pemaknaan kultural yang merujuk pada kesadaran subjektif dalam proses penciptaan karya seni haruslah mengacu pada:

1.      Ekspresi dan imajinasi  Sebagai penggambaran syar’iyyah.
2.      Kreasi dan inovasi dengan fiqhiyah
3.      Intensi dan konsistensi dengan aksiologis atau akhlaqiyah

Pada akhirnya praktik seni haruslah memiliki korespondensi dengan makna tarekat, musyahadah atau mujahadah sebagai ‘ibadah’ (QS. 6: 16) untuk meyatu dengan sang Esa.

‘Lihatlah! Iblis dan setan-setan itu senantiasa hadir untuk memberi ilham dalam proses-proses kebudayaan, penciptaan seni dan keindahan…’(QS. 15:39, 15:40,  24:21)
_________

*disarikan dari buku Hamdy Salad. Agama Seni. (Yayasan Semesta, Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2000)

Related

Teater 1333564221563697475

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item