HEAVY METAL IN BAGHDAD

Penarikan pasukan milisi Amerika Serikat pada tanggal 15 Desember 2011 nyatanya bukanlah akhir dari perang. Hingga hari ini Iraq menjadi lapangan tembak, dimana senapan setiap saat memberondong siapa saja; perang suni dan syi’ah, ISIS, dan disinyalir Amerika berada dibelakang kekacauan.

Batu dan senapan pada akhirnya menjadi isi saku celana dan baju setiap anak-anak di jalan, di sekolah dan dimanapun berada. Di tengah perang sodara itulah Amerika menjadi musuh bersama pasca kejatuhan Sadam Husein. Heavy Metal in Baghdad adalah sisi lain dari Iraq.

Dari rilik  Born To Be Wild - Steppenwolf lah istilah heavy metal bermula di tahun 1960 : “I like smoke and lighting Heavy Metal thunder Racin’ with the wind And the feelin’ that I’m under”. Musik pada akhirnya menjadi cara lain bagaimana kesadaran dibongkar dan dan digali demi menyatakan sikap atas situasi yang berlangsung di hadapannya.


Bisakah musik membebaskan masyarakat dari penindasan?


Film Heavy Metal in Baghdad (2007) berkisah tentang  grup band Acrassicauda di Iraq selama 84 menit. Dan selama 3 tahun itulah Eddy Moretti dan Suroosh Alvi menghabiskan waktu untuk film ini dengan mengikuti Acrassicauda di Baghdad, Erbil, Beirut, Lebanon, Damaskus dan Syria. Di kota- kota itulah, film ini menimbang musik dalam situasi dan politik Iraq dimana baku tempat di depan mata, di antara konser musik. Lewat musik itulah Acraussicauda mengajak anak muda Iraq untuk melawan meski pada akhirnya tempat latihan dan bermain musik dihatam roket yang lantas lari ke Syria. 

“Musik sebagai cara kami bertahan hidup dan lewat musik itu pula kami melawan meski sulit tapi setidaknya memberikan harapan pada masyarakat untuk tetap bertahan” Acrssicauda.

(John Heryanto)



Related

Musik 974866603435865930

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item