Headlines News :
Home » , » MENGINTIP MOZART LEWAT FILM: MUSIK SEBAGAI GAYA HIDUP

MENGINTIP MOZART LEWAT FILM: MUSIK SEBAGAI GAYA HIDUP

Written By LPM DAUNJATI on Minggu, 26 Juni 2016 | 09.23.00

John Heryanto

Sejak pertama kali masuk ke gereja mendengar nyayian diusianya yang dini sekitar usia 3 tahun, sejak itulah Mozart menemukan apa yang disebut sebagai cara hidup yang ideal dimana ia tak lagi sekedar mengunakan telinga melainkan melibatkan seluruh apa yang terdapat dalam tubuh atau yang ayahnya sebut sebagai ‘amadeus’.

Salzburg tak sekedar kota kelahiran semata melainkan sebagai ladang bagi tumbuhnya musik dalam tubuh Mozart sehingga diusia yang ke 5 ia telah membuat komposisi yang lantas tampil di publik (1963), dan diusia yang ke 14 ia membuat membuat  opera Mitridate  Re di Ponto (1770), dll.

Di geraja Salzburg, Austria itu pula kelahiranya dirayakan setiap tanggal 27 Januari dengan membunyikan lonceng, kini sudah ke 260 tahun lahirnya Mozart sejak 1756. Di kota itu pula monumen Mozart dibangun pada tahun 1842 oleh Ludwing Schwanthaler sebagai penghormatan.

Musik dan kegembiraan.

Masa kecil menjadi tempat dimana seseorang menjalani segalanya dengan penuh kesadaran. Sebuah kegembiraan yang perlahan menjadi kenangan. Kemudian hari menjadi menjadi cara seseorang dalam menentukan pilihan hidupnya, begitupun Mozart (1756-1791) yang terlahir dengan nama Johannes Chrysostomus Wolfgangus Gottlieb Mozart. Salah satu komponis klasik (abad 17) satu angkatan dengan Franz Joseph Haydn, Carl Philipp Emanuel Bach dan Ludwing Van Beethoven.

Sister’s Mozart (2010) bermula dari teks Johann  Greog Leopold Mozart (Marc Barbe) yang memperkenalkan biografi keluarga secara singkat dalam perjalanan untuk memperkenalkan keahlian anak-anaknya bermain musik. Sedangkan Leopold Mozart merupakan komponis ternama dizamannya, salah satu karya yang paling dikenal yaitu Kindersinfonie.

Pasangan Leopold Mozart (Marc Barbe) dan Anna Maria (Delphine Chuilllot)  untuk mengantar anaknya mengadakan konser yaitu si bungsu  Wolfgang Adameus Mozart (David Moreau) dan kakanya Maria Ana Mozart ‘Nannerlpun’ (Marie Feret) di berbagai tempat termasuk istana–istana raja (1962-1965) dalam film ini semacam gambar yang mengungkap bagimana seni tumbuh dan berkembang dikedua anaknya.

Dari Sister’s Mozart (2010) garapan Rene Feret menyuguhkan sisi lain dari kehidupan W.A. Mozart dimana sang kakak (Nannerlpun) bukan hanya sekedar teman dan pengasuh Wolfgang semata, melainkan seorang komponis muda yang berbakat.

Tetapi  Nannrlpun seorang perempuan sebagimana lajimnya perempuan di abad ke 16 yang hanya cocok di rumah mengurus anak dan suami. Sehingga keahliannya dengan terpaksa hanya menjadi bayang-bayang biografi sang adik sebagiamana sejarah menulisnya bahwa Nanerlpun pendamping konser W.A. Mozart diwaktu anak-anak.

Sedangakan film  Amadeus (1984) garapan Milos Forman menceritakan W.A. Mozart dari perspektif  Antonio Salieri, merupakan pengagum sekaligus rival berat Mozart.  Kisah bermula dari Rumah Sakit Jiwa (1982) dimana Salieri (F. Murray Abraham) pada detik-detik sebelum kematianya ia mengaku telah membunuh W.A. Mozart (Tom Hulce) kepada Pastor Vogler (Ricard Frank) sebab cemburu atas apa yang didapakan Mozart yang dianggapnya urakan tetapi kemampuan seni yang tinggi sejenis keajaiban ‘amadeus’.  

Kisah  Mozart pun di mulut Salieri ‘solilokui’ bergulir dari tahun 1781 ketika Mozart di Wina setelah pertengkaran Colloredo sampai meninggalnya Mozart di tahun 1791 dimana keahlian komposer atau seniman dipertayakan kembali; Apa seseorang menjadi seniman itu kutukan?

Sedangkan bagi Wolfgang Amadeus Mozart sendiri musik dan hidupnya tak lebih dari pada sebuah kegembiraan yang sama halnya dengan mati. Sebagaimana  pengakuannya ketika sakit:

“As death, When we come to consider it closely, is the true goal of our existence, I have formed during the last few years such close relationships with this best and truest formed during the last few years such close relationships with this best and truest friend of mankind that death’s image is not only no longer terrifying to me, but is indeed very soothing and consoling.”

Sedangkan film In Search Mozart (2006) garapan Phil Grabsky merupakan kebalikan dari Amadeus (1984). Film dokumenter ini berkisah tentang sorang perempuan (Juliet Stevson) yang mencari Mozart semacam ditektif dengan melibatkan  kritikus, sejarawan, kurator dll yang memiliki keterkaitan dengan Mozart termasuk pertunjukan-pertunjukan yang membawakan karya-karya Mozart. Disinilah biografi Mozart hadir lewat musik dan korespondesi yang luas dengan segala hal termasuk sosial, ekonomi dan politik.

Pada ketiga Film ini Mozart hadir sebagai seorang yang menjalani aktifitas kesenianya sebagi sebuah cara bagaimana ia hidup.


Music is my life and my life is music. Anyone who does not understand this is not worthy of God. (Wolfgang Aamadeus  Mozart)
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger