CORN ISLAND: DEMOKRASI TANPA NEGARA DARI PUISI GEORGIA

John Heryanto

Mulanya hanyalah suara gemuruh dan gemercik air yang perlahan lenyap. Tampaklah lelaki tua di atas perahu, mendayung menyusuri sungai sampai ke pulau kecil. Sebuah tanah tanpa tuan, ditengah sungai Enguri perbatasan Georgia dan Abkhazia; pulau kecil musim semi dari tanah dan bebatuan hayut dari Kaukasus menuju Laut Hitam.

Di pulau kecil itulah seorang lelaki tua mengikatkan kain putih pada tangkai pohon kering yang ditancapkan ke tanah, kain yang berkibar dihempas angin layaknya bendera. Esoknya ia kembali datang dan datang dibantu cucunya; mengamabil kepemilikan pulau, membangun gubuk sederhana, menanam jagung dan sesekali tentara patroli melintas.

Abkhazia sejak tahun 1920-an berperang melepaskan diri dari Georgia setelah Revolusi Rusia 1917, terlebih setelah jatuhnya Uni Soviet. Abkhazia mendeklarasikan kemerdekaannya ditahun 1923 hingga berujuang pada perang 1990-an dengan Georgia. Meski Abkhazia telah menjadi negara yang berdaulat. Sampai  hari ini Georgia yang didukung NATO tidak mengakui Abkazia termasuk Uni Eropa dan PBB kecuali Rusia.


“Kekita penduduk  Georgia pergi dari Abkhazia, disitulah perang dimulai.”
(George Ovashvili)

Ketika Abkhazia mendeklarasikan kemerdekaan untuk keduakalinya di 90-an, maka perangpun tak dapat dihindari lagi dengan pemerintah Georgia, sejak 1920 yang mengangap wilayah tersebut sebagai propinsi. Sejak saat itu hingga kini 2016; dimana pasukan Amerika  bersama NATO mengawal keamanan Georgia dengan  membuat pangkalan militer, begitu juga Rusia menurunkan tentaranya beserta senjata kepada Abkhazia.

Sedangkan George Ovashvili,   sutrada berkebagsaan Georgia yang dibesarkan ditanah kelahiran Stalin mewarkan demokrasi tanpa negara lewat Corn Island. Dimana setiap orang menjalani hidup secara bebas, seutuh-utuhnya disebut merdeka yang kembali pada alam.

Tapi Corn Island (2014) bukanlah sebuah film yang membicarakan politik secara spesipik melainkan lebih dalam dari itu, dimana tanah terkait dengan segala apa yang ada didepanya mulai dari ekologi, ekonomi, negara dan lain-lain.  Sebuah film tanpa dialog; aktornya sejenis papan tulis kosong. Teks adalah seluruh apa yang dilihat mata penonton di layar dengan musik Soundscape.

Film ini sejenis film-nya Akira Kurosawa yang membicarakan kesatuan manusia dengan alam. Semuanya hadir alamiah dan apa adanya, dimana tahun-tahun hilang menjadi angin. Keberadaan manusia disini sebagai mahluk yang menyalibkan nasibnya pada sang absolut, jalan ‘idealitas’ dunia tak lebih dari pada omong kosong. Pada alamlah ia belajar menjadi apa yang disebut sebagai cara hidup.

Sang protogonis dihadapkan pada  pudarnya waktu. Lekali Tua (Ilyas Salman) meyembuyikan tentara  Abkhazia yang terluka (Iraklli Samushia) digubuk, dimana tentara Georgia setiap hari melintas ke tempatnya. Tentunya pulau kecil itu bukanlah milik ke dua negara tersebut. Hamparan tanah di tengah  sungai itu hanyalah milik si penanam jagung (Ilyas Salman), maka si petani tidaklah memiliki kepentingan apa-apa terhadap keduanya sebab yang ia tahu hanyalah cinta kasih dan biarlah perang atau bunuh - buhuhan manusia menjadi milik mereka yang bernegara.

100 menit menikmati Corn Island membawa penontonya pada kesementaraan hidup. Gambar-gambar hadir sebagai metaphor dalam puisi, dimana bahasa sebagai apa yang dilihat.


"With the annual spring torrent, the  Enguri River washes rocks and soll down from the Caucasus to the Black Sea, creating tini islands in the wake. These islands are a blessing to the local peasants wo leave the sodden riverbank for the firm , fertile island soil. Between spring and fall they can grow enough corn to feed their families during the long, cold winter. But only if nature is willing…"
(Corn Island)

Related

Film 4870943383637960257

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item