LABYRINTH: KEMELUT EKONOMI, KEKACAUAN PANGGUNG DAN SEMOGA TUHAN MENGAMPUNI


John Heryanto

 “Setiap orang punya setannya sediri-sendiri  yang disimpan di loteng..” begitulah Armando berujar kepada Lina  ketika mendengar ” di rumah ini, di loteng sana, ada setan”.  Loteng tiba-tiba menjelma menjadi tempat paling rahasia yang memisahkan antara dunia yang ada disekitarnya. Ia tidak hanya sekedar tempat tinggalnya Daniel semata, tempat ibu merawat ingatan akan cintanya di waktu muda  pada orang kereta sebagai sebuah kehilapan. Tempat dimana Lena dan Laurent menggantungkan harapan sejenis jemuran untuk  hidup layak dan banyak uang.  Loteng sejenis kuil dimana segala kenangan beserta mimpi-mimpi tersembuyi. 

Labirint. Foto:John Heryanto
Kiranya begitulah sedikit kisah dari Labirint yang dipentaskan (27/07) dalam rangkaian pertunjukan Tugas Akhir gelombang 1 Jurusan Teater di GK. Dewi Asri ISBI Bandung. Sebuah drama dari Guerdon yang ditulis tahun 1962,  setelah perang dunia kedua. Eropa sejak revolusi industri,  kebudayaan telah pergi jauh meninggalkan apa yang tersimpan dalam kehidupan selama berabad-abad sehingga setiap orang menjadi asing, jiwa yang kering dan terlunta-lunta.  Dimana masyarakat mengalami dekodesasi tanpa henti berdasarkan produksi. 

Peristiwa di panggung berjalan selama 80 menit dengan musik cepat seakan ingin mengatakan bahwa “ kami akan pergi dengan rombongan sirkus” namun sayangnya baik itu pertunjukan sirkus, lamaran, pergantian hari, kegembiraan keluarga, dan lain sebagainya bunyinya sama. Sedangkan gambar-gambar di panggung hadir sejenis sapuan kuas pada sebuah kanvas, tak ada ketergesahan. Dan melalui uang dolar yang dihamburkan Armando itulah peristiwa menarik dirinya ke dataran eropa yang dingin.

Hidup menjadi sejenis ketakutan dan sia-sia, begitu pula hari-hari di rumah binatu. Rasa takut inilah yang menjadikan setiap tokoh di dalamnya bersandiwara seperti pura puranya Armando mencintai Yvone agar mendapatkan Daniel dengan harga murah, Pura-pura baiknya Lena dan Laurent kepada Daniel agar dapat menjulnya kepada Sirkus, dll. Selain itu hubungan diantara para tokohnya disandarkan pada motif ekonomi, sejak adegan pertama dimulai sepulangnya dari pemakaman. Kecerewetan-kecerewetan para tokohnya menyoal hidup yang layak, rahasia keluarga, masa depan usaha, dan lain-lain untuk nikmat lebih. 

Labirint. Foto: John Heryanto.
Labyrinth menjadi gambaran ketegangan dari gelapnya kebudayaan Eropa, ketidakberdayaan akan kenyataan hidup serba kekurangan. Inilah disanggaged-nya Guerdon dimana ketakmampuan menghadapi kenyataan mestilah diputuskan ‘akhiri atau lawan’ dengan pertanda bangkitnya mimpi buruk Laurent sampai pada akhirnya membunuh Daniel di Loteng.

Para aktor dalam pertunjukan ini hadir dengan penuh totalitas meski sebagian memperlihatkan ketidakberdayaan dirinya menghadapi teks yang dipikul sang tokoh akibatnya masing-masing aktor kadang kala mengusung bahasanya sendiri- sendiri sebagai sebuah lalu lintas yang tak pernah bertemu. Selain dari pada terpeleset dialog, belepotan dll seperti diawal-awal kemunculan para tokoh Laurent (Toni), Armando (Nurviky), Yvon (Yolan), Estel (Ai), dan Daniel (Feby) serupa  berdoa menghadap loteng ketika Laurent bersimpuh di tangga: “Semoga Tuhan Mengampuni”.

Related

Teater 5655591552336132183

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item