YANG BERMALAM DI RUANG GANTI


Oleh Iwan Setiawan (ICS)*

salah satu adegan dalam pertunjukan Nyanyian Angsa

Setelah MC menyatakan selamat menyaksikan, maka dimulailah rangkaian ujian akhir gelombang satu Program Studi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada hari Kamis 21 Juli 2016 di gedung kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung, dan Rangkaian Pertunjukan ini akan berakhir di tanggal 19 Agustus 2016. Suara riuh penonton mendadak bungkam kala lampu dengan sekaligus mati total.

Bukan music yang menemani munculnya cahaya namun sebuah lampu pertunjukan jatuh di area tengah panggung dan seketika kembali lampu padam. Seorang lelaki tua bernama Vassillithc ( di perankan oleh Azhar Darajat Ulya) masuk kedalam panggung dengan membawa lilin yang menjadi satu-satunya alat pencahayaan yang dimiliki oleh panggung, dia berteriak-teriak memanggil nama Petruska dan Yegorka namun tak seorang pun ada yang menjawab. Dia berjalan menuju peti mati, kesakitan mulai muncul dalam dirinya, bukan hanya fisiknya namun jiwanyapun nampak telah tergoncang oleh rasa kesepian. Langkahnya nampak terseok-seok saat mendekati sebuah ayunan, lalu dia menaruh dadanya di atas ayunan dan mulai mengayun sampai pas bunga yang berada didepan ayunan terhantam oleh kepalanya dan jatuh kedepan panggung menuju area penonton.

          Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara langkah, Vassillitich merasa ketakutan dan berjalan menuju peti mati yang disimpan berdiri. Lampu senter menyilaukan wajahnya dan tidak berselang lama masuklah seorang lelaki tua yang ternyata dia adalah Nikitushka (diperankan oleh Nugraha Basir) yang merupakan seorang mantan juru bisik. Seperti tanaman kering yang mendapatkan hujan, Vassillithc merasa bahagia karena merasa kesendiriannya telah berakhir. Itulah beberapa penggalan adegan dalam  pertunjukan “Nyanyia Angsa” karya Anton P. Chekov, yang di perankan oleh Azhar Darajat Ulya yang merupakan tokoh utama sekaligus mahasiswa yang sedang mengikuti Ujian Akhir dan Nugraha Basir sebagai aktor pendukung dengan pembimbing Babeh Rachman Sabur dan Bapak Dedi Setiadi.

          Peristiwa jatuhnya lampu seperti mengantarkan penonton untuk meyakini bahwa yang akan disaksikan adalah peristiwa Backstage Theater atau peristiwa dibelakang panggung teater, hal ini tentu bisa dikatakan demikian ketika kita ketahui bahwa panggung tidak akan lepas dari lampu pertunjukannya sebagai salah satu bagian dari panggung yang cukup penting dalam sebuah pementasan. Jatuhnya lampu menjadi sengatan tersendiri dalam pertunjukan ini, menjadi sebuah metafor bagaimana kisah ini akan membongkar apa saja yang terjadi dibalik indahnya sebuah pertunjukan yang tidak pernah diketahui oleh mata penonton. Kejadian dibalik layar memang akan sulit ditemukan oleh penonton yang memang tidak terlibat dalam suatu pementasan, maka dengan cermat dalam pertunjukan ini dihadirkan lampu yang jatuh sebagai penjelas dan pengantar awal untuk peristiwa apa yang akan terjadi.

Sedangkan peristiwa jatuhnya pas bunga keluar panggung seperti menggambarkan gedung pertunjukan kosong, atau mungkin bisa jadi telah lama kosong. pas bunga yang jatuh ke area penonton sebagai simbol bahwa tidak ada seorang pun penonton yang peduli terhadap peristiwa dibelakang panggung, tidak pernah seorangpun yang akan datang untuk menonton apa yang dilakukan oleh orang-orang ketika tidak dalam sebuah pementasan. pas bunga jatuh menembus tembok-tembok anatara teks, panggung dan penonton, dimana tidak ada lagi rahasia yang perlu ditutupi oleh sebuah teater dengan para penontonnya. Lampu panggung yang jatuh dan pas bunga yang jatuh adalah hancurnya kedudukan panggung dan jatuhnya seorang aktor dihadapan kehidupan sehari-hari pada saat ini. 

Vassillitch dalam salah satu adegan Nyanyian Angsa (diperankan oleh Azhar Darajat Ulya)

          Jangan pernah mengabaikan hal kecil dalam pertunjukan yang satu ini, yang menarik juga dalam pertunjukan ini adalah bagaimana permainan simbol yang dihadirkan sangatlah menggairahkan untuk dibahas, salah satunya juga peti mati yang disimpan berdiri. Peti mati seperti perwakilan dari sebuah akhir dari kehidupan dan berdirinya peti mati seperti menjelaskan adanya kehidupan serta semangat lain yang masih bernafas. Peti mati yang disimpan berdiri seperti menjelaskan bahwa pertunjukan ini mengisahkan nasib kehidupan seorang aktor teater tua yang tetap hidup sebagai manusia dan seorang aktor ketika berada diatas pentas namun telah mati dihadapan manusia atau dimata penonton ketika diluar pentas.

          Semua sett yang dihadirkan dalam pertunjukan ini bukanlah sekedar pemanis untuk pertunjukan namun perwakilan dari seluruh pertunjukan yang terjadi diatas pentas, dalam hal ini bisa kita katakan setting dan property menjadi simbol dari pertunjukan teater itu sendiri, baik perwakilan dari jenis teater ataupun peristiwa yang pernah hadir diatas panggung. Semua sett property seakan tidak memiliki korelasi satu-sama lain, seperti hubungan peti mati dan sebuah ayunan, atau ayunan dengan sebuah besi yang menggantung ataupun besi yang menggantung dengan kursi klasik. Benda-benda tersebut tidaklah memiliki hubungan yang familiar dalam kehidupan sehari-hari, bisa dikatakan tidak pernah ada dalam kehidupan nyata dalam satu ruangan kita melihat peti mati yang disimpan dekat sebuah ayunan. Hanya dalam pertunjukan ini semuanya dikawinkan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam sebuah pertunjukan realis.

          Beberapa bagian bisa diartikan sebagai perwakilan dalam jenis-jenis pertunjukan dan peristiwa teater, misalkan hadirnya peti mati adalah sebuah ruang yang menyatakan bahwa pernah terjadi pertunjukan yang mengisahkan kematian dalam panggung tersebut. Ayunan biasanya hanya bisa kita temukan disebuah taman atau tempat bermain anak-anak, yang bisa ditangkap bahwa pernah terjadi sebuah pertunjukan teater yang mengisahkan kehidupa seseorang semasa kecil atau kehidupan orang yang pernah bermain di sebuah taman, dan besi yang bergantung hanya bisa kita temukan di sebuah pameran instalasi yang berarti pernah terjadi pertunjukan non realis dalam panggung tersebut. Sehingga yang ditangkap akhirnya pernah terjadi banyak sekali pertunjukan dalam panggung tersebut dan mungkin tokoh utama dalam pertunjukan nyanyian angsa pernah menjadi seorang aktor untuk jenis-jenis teater yang berbeda-beda.

          Permainan seorang azhar dan Nugraha Basir dalam pertunjukan ini dianggap berhasil untuk memanfaatkan segala benda yang dihadirkan diatas pentas. Hal ini dilihat dari segala benda yang hadir dijadikan sebagai alat musik sekaligus penguat imajinasi atau jembatan penonton menuju perubahan-perubahan peristiwa. Ketika azhar dari peran seorang lelaki tua yang merupakan karakter seorang mantan aktor besar yang telah rapuh tiba tiba hanya dengan menggunakan selimut yang dijadikan jubah dipunggungnya dia berhasil berubah total menjadi seorang King Lier, kursi klasik yang disimpan diatas peti pada saat itu berubah total menjadi seperti kursi raja yang disempan diatas singgasana istana. Begitupun dengan adegan yang lainnya, dirasa telah berhasil dibuat sebuah jembatan imajinasi penonton ketika perubahan itu dilakukan untuk memerankan tokoh lain dalam pertunjukan. 

Nikitushka dalam pertunjukan Nyanyian Angsa (diperankan oleh Nugraha Basir)

          Hal lain yang cukup menarik dalam pertunjukan ini juga, yaitu musik yang lahir tidak dari luar panggung melainkan lahir dari panggung itu sendiri, lahir dari sunyinya panggung serta lahir dari para aktor. Seperti pada awal tulisan ini bukan music yang menemani munculnya cahaya melainkan lampu yang jatuh dari atas balkon, hal inilah yang menjadi sengatan yang cukup menyentak penonton. Di pinggir panggung terlihat bangku para pemusik lengkap dengan tiang untuk menyimpan partitur para pemusik, namun dari awal pertunjukan tidak ada seorangpun pemusik yang hadir disana, melainkan tempat pemusik menjadi pengantar imajinasi penonton bahwa mereka akan melihat panggung yang benar-benar panggung, bukan panggung yang menjadi pasar atau panggung yang berubah menjadi ruang tamu sebuah rumah.

Pemusik dari pertunjukan ini adalah aktor itu sendiri, mereka bergantian menjadi pemusik dan saling mengisi saat seseorang dari mereka memerankan tokoh lain. Alat musik yang mereka gunakan adalah benda-benda yang ada diatas pentas, seperti besi yang menjadi suling, peti mati yang dijadikan sebagai alat tabuh dan instalasi besi yang di gantung sebagai bunyi-bunyi yang menjadi musik dalam pertunjukan ini. Sehingga musik menjadi kepunyaan panggung itu sendiri serta menjadi pertunjukan itu sendiri bukan hadir dari luar panggung atau dari audio yang menjadi penguat peristiwa namun menjadi peristiwa itu sendiri.

          Ada hal yang cukup mengganggu dalam pertunjukan ini, adalah sebuah suara ketukan pintu dan langkah kaki yang di besarkan lewat alat pengeras suara. Ada dua kemungkinan yang memang terjadi dalam pemilihan suara langkah dan ketukan pintu menggunakan alat pengeras suara, pertama ialah penggarap seperti mencoba menghadirkan bahwa kejadian ini memang terjadi saat ini, atau benar-benar terjadi hari ini. Alat pengeras suara sebagai perwakilan dari jaman ini, dimana pertunjukan saat ini masih sering tergantung pada peranan alat pengeras suara sebagai pengantar musik ketelinga penonton. Kemungkinan kedua adalah permasalahan teknis yang memang membutuhkan alat pengeras suara untuk memperdengarkan suara ketukan dan suara langkah ketelinga penonton.

Nampaknya segala kesempurnaan tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan ataupun dalam sebuah pertunjukan, hal ini berlaku juga untuk pertunjukan Nyanyian Angsa. Ada sebuah kecacatan dalam pertunjukan ini, yaitu suara ketukan pintu dan suara langkah yang dibunyikan lewat speaker atau bantuan alat pengeras suara. Ini menjadi sebuah keanehan dimana dari awal peristiwa pertunjukan ini berhasil dibangun dengan penuh kesabaran untuk mengahdirkan kejadian yang benar-benar seperti nyata, namun tiba-tiba dihancurkan oleh suara speaker yang menjadi pemecah ruang, dimana ruang realis tersebut menjadi hancur saat suara speaker menjadi dimensi ruang yang lain dan tentu seperti tidak menjadi dari bagian pertunjukan ini. 
* Wartawan LPM Daunjati 

Related

Teater 3673915047567466786

Posting Komentar

  1. @andi Terima kasih. Jangan lupa kritik dan sarannya. :)

    BalasHapus
  2. Punten telat kasih komennya..
    Punten mau kritik tulisan nya..

    Bahwa Penulis belum menjelaskan lebih spesifik "dalam Rangka Ujian Akhir Minat Studi Pemeranan" Hehe..Jadi penulis tidak membahas "kritik" dari sisi Ke'aktor"an nya, tapi lebih meng"kritik" dari Penyutradaraan nya.

    Kalau boleh meng"kritik" dari ke"aktor"an nya..Azhar sebagai pemeran belum menjangkau pada Batas Ambang "Kesadaran dan Ketidaksadaran" (Tafsir saya dari Buku Suyatna Anirun: Menjadi Aktor) dalam berperan. "Belum" menyadari kapan Azhar sadar bahwa beliau sedang berperan, dan intuisi Azhar yang berperan dapat memberi kesan kepada penonton bahwa Azhar sedang berperan. Solusi nya buat Azhar dengan "bisnis acting" yang dilatihkan untuk menyingkap rambut panjangnya yang dominan menutupi ekspresi wajahnya.

    Hatur Nuhun #DamaiAzhar

    BalasHapus

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item