BANGKONG REANG SEBAGAI TITIK BALIK SEJARAH CIWIDEY


John Heryanto

 
Petani di Kecamatan Ciwidey sedang panen. Foto: John Heryanto

“Kepada Dewi Sri, Kepada pemilik kehidupan atas segala apa yang telah kami makan. Kepada leluhur yang mencipta higga kami ada…” begitulah mulanya Bangkong Reang hadir sebagai cara para petani mengucapkan syukur atas hasil tani di sawah. Sawah jadi tempat perjumpaan seorang petani dengan tatapannya mulai dari hamparan padi, rumput yang hijau, embun yang perlahan jatuh di ujung - ujung daun dan matahari yang terbit tenggelam di lengkung sawah. 

Bila malam datang, sawah bukan hanya sekedar apa yang dilihat melainkan apa yang didengar ketika segalanya benar - benar gelap kecuali nyala api di cempor. Pada keheningan malam itulah sepanjang neang cai  untuk mengaliri sawah, sepanjang jalan itu pula suara bangkong bersahutan dan  sayup dibawa angin.
Dari beribu malam yang dilewati sang petani, sawah tidak hanya menjadi tempat  penghidupan semata juga sebagai tempat permenungan pada yang absolut. “Teww…tew…wew…krap…krok…krow..werrr..weeerr”. Begitulah kiranya bunyi Bangkong Reang. Melalui bunyi itulah apa yang tersebunyi dari rutinis petani, hari – hari yang lalu bersama musim yang berganti; Sawah dan segala apa yang tersebunyi di dalamnya di ungkap.

Bunyi yang hadir itu tidak sebatas mimetis atas yang nampak dihadapan yang lantas sebatas keteramilan (ars) semata; sekedar iseng mengisi waktu luang ketika menunggu padi di sawah. Akan tetapi Bangkong Reang hadir sebagai apa yang disebut ngelakoni laku hidup petani.
Bangkong Reang, sebuah alat musik dari bambu pada akhirnya tak dapat dipisahkan dari tumbuh kembangnya Ciwidey, dimana 80% masyarakat didalamnya menggantungkan hidup dari  hasil menganyam bambu dan pertanian.  Bangkong Reang pada akhirnya tidak hanya sebatas mengikatkan dirinya pada kenyataan sejarah bahwa kata Ciwidey berasal dari Wide, sebuah anyaman dari bambu untuk kokocoran pembuangan air.

Atas dasar itulah kiranya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Kecamatan Ciwidey 2016 bekerjasama dengan pemerintah setempat menggelar acara ‘Reang ing Ciwidey’ yang diselenggarakan pada tanggal 7 September 2016 di Lapang Danalaga Ciwidey. Dalam acara tersebut itulah ‘Pemecahan Rekor Pemain Bangkong Reang Terbanyak’ digelar sebagai jalan untuk membaca sejarah  Ciwidey yang berjalan dalam hiruk pikuk pariwisata, pertumbuhan kota dan desa serta segala keramian reang yang tekait di dalamnya sekaligus sebagai upaya untuk menghidupkan kesenian Bangkong Reang itu sendiri yang sudah banyak dilupakan oleh masayarat pemiliknya.

Selain ‘Pemecahan Rekor Pemain Bangkong Reang Terbanyak” juga akan hadir berbagai pertunjukan ungulan dari Desa Ciwidey, Desa Sukawening, Desa Panyocokan, Desa Nangkelan, Desa Rawa Boga, Desa Lebak Muncang, dan Desa Panundaan. Pertunjukan tersebut merupakan hasil binaan mahasiswa Insitut Seni Budaya (ISBI) Bandung selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) satu bulan. 

Related

Musik 5300996666725878151

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item