Headlines News :
Home » » BENA: TUBUH PANGPUNG DAN YANG BERSEMAYAM DALAM TUNGKU

BENA: TUBUH PANGPUNG DAN YANG BERSEMAYAM DALAM TUNGKU

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 10 September 2016 | 09.34.00



John Heryanto

Pertunjukan 'Bena'. Foto: John Heryanto
Malam itu taman depan perpustakaan  menjadi kebun halaman rumah,  seorang perempuan keluar dari bilik bambu. Diantara batang pohon ia berjalan, mencari ranting dan dahan kering. Dengan kampak di tangan ia membelah dahan – dahan pohon menjadi kayu bakar. Diam – diam tubuh itu terhempas dengan tongkat kayu di tangan, terpelenting ke pohon layaknya ranting kering dihempas angin lantas membeku di situ.

Para perempuan pencari kayu bakar bermunculan satu – satu mengetuk sunyi, memikul kayu bakar di pinggang dengan langkah tertatih – tatih. Ada luka yang merayap setiap jengkal kaki ketika tubuh itu mengoyak- ngoyak angin dengan kayu. Kayu bakar itu mebangun bahasanya sendiri ketika tubuh penari itu berkelojotan ke tanah. Kayu yang tidak hanya berakhir dalam tungku ketika perempuan memasak juga menjadi jalan bersatunya sang ibu dengan ruang dan waktu ketika kayu bakar itu mengubur seseorang yang berbaring di tanah. Aku jadi teringat pada sajak Sapardi Joko Damono : 

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
di ucapkan kayu kepada api
 yang menjadikannya abu.

Barangkali begitulah cintanya ibu. ia begitu saja merelakan dirinya sebagai luka layaknya ombak yang membenturkan diri pada karang berkali -kali tanpa henti seperti pula pengertian dari kata bena. Pertunjukan 'Bena' disini hadir sebagai cara perempuan menjalani darma menjadi ibu.
 
Pertunjukan 'Bena'. Foto: John Heryanto
Para perempuan itu pun memukul - mukul genangan air dalam batu, muncat di baju dan kuyuplah tubuh. Para penari dengan tubuh yang basah kemudian berdesakan di atas batu lantas beloncatan kesana kemari.  tinggalah seorang perempuan memeluk lutut, ia bergetar dan lenyaplah sudah ditelan black out.

Pertunjuakan Bena merupakan rangkaian ujian tugas akhir penciptaan Pasca Sarjana Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (10/9/16). Lewat ‘Bena’ Yeni Yuanita mengadirkan ibu sebagai suatu yang dijalani sehari – hari, tak ada lagi jarak antara dirinya dengan yang di depan tatapan. Melalui kayu bakar itulah ia membangun ruang dengan tubuh pangpung  yang berkali- kali patah dan jatuh di tanah, berkelojan dan terhempas. Barangkali begitulah ibu, ia yang dekat dan mudah dilupakan.  
    
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

10 September 2016 15.22

mantab ulasannya, kang John ....

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger