DI BAWAH TATAPAN DAN MITOS KEHIDUPAN DARI PAMERAN TUGAS AKHIR SENI MURNI



John Heryanto


Salah satu pengunjung pameran sedang mencermati salah satu karya pameran tugas akhir Seni Rupa Murni. 
Foto: John Heryanto
Menatap lukisan berarti membiarkan segala yang ditatap menetas dalam tubuh.  Ada yang tumbuh diam-diam dalam pandangan ketika megunjungi Pameran Tugas Akhir (PTA) Seni Murni – Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) di Galeri 212 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang berlangsung selama sepuluh hari dari 21 - 30 September 2016. Tiba- tiba tubuh ini kesemutan ketika memasuki galeri. Barangkali tubuh ini sedang menyusun bahasanya dari apa yang dilihat mata. Ia memiliki bahasanya sendiri. Bahasa yang tidak sama dengan apa yang disusun oleh tubuh seorang pengunjung galeri. Pameran tersebut diikuti oleh sepuluh mahasiswa dari minat penelitian dan kekaryaan.

Seorang seniman tentunya memiliki bahasanya sendiri dalam berkomunikasi dengan penikmatnya. Lewat seri lukisan "Mawar  Nestapa" inilah Irma Hermayani mencoba untuk membagi kesedihan yang dialaminya ketika sedang melukis. Mawar di atas kertas hadir sebagai metapor dari seluruh perasaan sang seniman ketika melukis, ada banyak cipratan dan lelehan cat di atas kertasnya. Setiap orang tentunya pernah merasakan sedih, entah di tubuh yang mana, karena kebanyakan orang sedih selalu menangis mesti tidak setiap menangis itu adalah sedih. lantas di manakah sedih itu berada? Irma Hermayani mengungkapkan kesedihannya berpijak pada bahasa bunga (floriografi) dengan mengeksplorasi bentuk dan posisi mawar di atas kertas. Mawar yang didominasi warna ungu dan bercak-bercak biru hadir sebagai upaya menyingkap kenyataan yang bergulir ketika dihadapannya ada kertas dengan cat air di tangan. Biarlah lukisan itu sendiri menyatakan kesedihannya kepada pengunjung melalui tatapan dan bahasa yang lahir dari mata hingga ‘tak ada dusta di antara kita’.

Nur Taufik Hidayat  menghadirkan dua lukisan foto seseorang yang cantik dengan bintik-bintik kumis, gambaran dari hyper-realis. Hidayat memandang waria (portmanteau) sebagai seseorang yang melebih-lebihkan kenyataan karena tidak menjadi laki-laki sebagaimana mestinya atau pengingkaran terhadap sunatullah.  Melalui “Waria Sebagai Analogi Hyper Realis dengan Metode Pendekatan Foto Realis” Hidayat memposisikan waria sebagai mahluk anomali dari peradaban yang ada, cantik bukan perempuan dan bukan laki-laki. Tak ada yang peduli tentang  latar belakang seseorang menjadi waria. Mulai dari masa lalu yang dilewati, campur tangan lingkungan,  biologis  (hermafroditisme), ekonomi, dan psikologis di mana menjadi waria berarti kembali pada kodratnya sebagai “perempuan”. Kiranya Hidayat dalam karyanya ini  hanya berpegang pada paradigma perilaku sosial semata. Berdasarkan pandangan ini, maka fenomena waria, transgender dan transeksual merupakan prilaku ‘menyimpang’ yang mesti dikembalikan sebagai objek studi kongkrit dan realistis atau Skiner menyebutnya sebagai behavior of man and contingencies of reinforcement, di mana prilaku individu hasil stimulus dari luar, dan kebebasan manusia merupakan suatu yang lemah dan terbatas. 

Kebebasan manusia yang lemah dan terbatas itu, kembali dipertanyakan dalam seri lukisan ‘Blackbird  berjumlah 3 buah berdasarkan interpretasi teks lagu  yang judulnya sama yaitu blackbird miliknya The Beatles. Sandi mencoba menghadirkan sisi gelap dibalik lagu tersebut secara visual.
  
Blackbird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
All your life
You were only waiting for this moment to be free
…..
Paul McCartney menulis teks tersebut tahun 1968 di Skotlandia sebagai bentuk dukungan dan rasa simpati  terhadap  kaum kulit hitam di Amerika. Mereka dipimpin Luther King Jr sedang mati-matian memperjuangkan hak-hak sipil termasuk hak perempuan. Bird di Inggris pada masanya merupakan bahasa prokem yang ditujukan bagi perempuan seperti halnya chick di Amerika.  Dengan banal-nya, Sandi dalam ‘Blackbird’ mengejawantahkan burung-burung berwarna hitam di outline warna coklat dan putih pada latar hitam. Hal ini seakan mengajak para pecinta The Beatles untuk bernostalgia mengingat kembali pernyataan  Paul McCartney pada konsernya di Dallas tahun 2002 untuk perjuangan kaum Afro-Amerika “atas kenyataan itulah kami membuatnya”. Meski Amerika kini memasuki ‘post-rasis’ yang ditandai dengan naiknya Obama, akan tetapi masalah rasisme masih saja terjadi.  Barangkali kenyataan inilah yang ingin Sandi sampaikan dalam ‘Blackbird’, bahwa rasisme sulit dihilangkan, sebab itu warisan nenek moyang mereka sendiri dari para pedagang Inggris sejak zaman perbudakan, sebuah kenyataan yang menyakitkan.

Pada kenyataan hidup yang sakit inilah, Visnu Anggrestika mengajak para pengunjung pameran untuk mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya terjadi  melalui karya berjudul ’Hipokrit’. Baginya munafik (hipokrit) adalah sifat dasar dari manusia itu sendiri, sebagai manifestasi pencitraan berbagai praktik kotor demi kelangsungan hidup. Gambar-gambar anatomi perempuan dan laki- laki dalam berbagai pose, aktifitas, dadu dan potongan-potongan tubuh dalam ‘Hipokrit’ membawa pengunjung galeri menelisik ulang keadaan tubuhnya sendiri; sebagai apakah? Tubuh dalam lukisan ini diposiskan semata-mata hanyalah mesin kepatuhan. Ia dilatih, dibentuk dan ada, terkait dengan segala apa yang ada di sekitar termasuk rembesan (resistensi) dari kuasa.
 
Tentang hakikat hidup dan manusia tidak hanya sampai di sana, Rizki Lutfi Wiguna mengajak para penikmatnya untuk memperkarakan  ke-diri-an di tengah kenyataan hidup yang berlangsung dengan seri drawing batu, Batu Sebagai Stimulus dalam Karya Drawing”. Ada begitu banyak batu dengan berbagai bentuk dan komposisi di atas kertas. Batu menjadi jalan manusia untuk membongkar realitas. Layaknya sisyphus dalam mitologi Yunani, begitulah hidup dijalani hingga lebur mesti sebatas kesia-siaan. Kehendak di sini tak lebih sebagai bagian dari kapitalisme yang senantiasa menginginkan nikmat lebih padahal  hidup sebatas kertas kosong, ia tidak pernah benar- benar ada.  Dunia adalah mata yang terpejam, gelap dan sendiri. Pada gelapnya kehidupan tersebutlah Wiguna menjadikan drawing-nya sebagai cara mengungkap yang tersembunyi dari yang dijalani. Sejalan dengan pandangan Plato bahwa apa yang ada di hadapan hanyalah tiruan dari ide, tak ada yang benar-benar ada selain dari pada ide itu sendiri.

Sejak zaman Yunani kuno ketika Plato mengemukakan bahwa warna berasal dari cahaya dan kegelapan. Begitu juga Leonardo Davinci mengugkapkan pandangan yang sama tentang cahaya pada 18 abad setelahnya, bahwa warna yang ada hanyalah putih semata. Sejak saat itu berbagai pencarian, percobaan dan eksperimentasi tentang warna terus dilakukan hingga kini. Mulai dari Issac Newton tentang sinar atom yang dilihat dari gelas prisma yang disebut sebagai spektum warna, Jc Le Bloon tentang warna primer dari pigmen dan banyak lagi ilmuan dari berbagai disiplin ilmu mengkaji warna termasuk dari kalangan seniman. Sampai pada akhirnya berdirilah pabrik-pabrik cat (1870) seperti perusahaan Sherwin Willian yang memproduksi berkaleng – kaleng cat ke berbagai negara di dunia.

Dalam Pameran Tugas Akhir (PTA) ini, Widi Rahayu membuat ‘Eksplorasi dan Aplikasi Pigmen Warna Alami Tubuhan pada Lukisan’ dengan bahan-bahan rempah-rempah seperti Daun Suji (Hijau), Kayu Secang (Merah), Biji Pinang (Coklat), Keluwak (krem), Kunyit (Kuning) dan Bunga  Rueliia (Biru). Percobaan ini mengingatkan pengunjung pada apa yang ditemukan Henry Perkin (1856) yang menemukan pewarna sintestis (mauveine) dari berbagai tumbuhan yang ada di sekitar.  Widi Rahayu melakukan percobaan pewarna organik ini sejak 18 bulan yang lalu, hal ini dilakukannya sebagai upaya untuk mengetahui sebarapa kuat warna tersebut bertahan di kanvas; apakah memudar, berubah warna dan lain sebagainya.  Percobaan ini cukup menarik di tengah lajunya industri cat dan bahan-bahan lukisan harganya tak terkendali. Hal ini dapat menjadi pilihan alternatif bagi siapa pun yang gemar melukis tapi tak ada cat sebagaimana yang diakui Rahayu, "Dengan cara seperti ini maka untuk melukis tak perlu repot-repot pergi ke toko cat dengan harga yang mahal, datang saja ke dapur pake bumbu masak atau ke kebun belakang rumah".

Selain hasil penelitian Widi Rahayu, ada Nur Anisssa Mangadil ‘Makna Rupa Statis dan Dinamis Tingkeban Tujuh Bulanan Budaya Sunda’,  Nufika Fitri ‘Studi Analisis Gambar Anak di Sanggar Lukis Kota Bandung’, Dadi Firmansyah ‘Proses Kreasi Patung Patimura Karya Gustiyan Rachmadi’ serta Eruswandi ‘Invalid Urban: Eksistensi Komunitas Seni Rupa di Kota Bandung’. 

Melihat berbagai lukisan dalam galeri, hakikat hidup seolah dibombardir oleh serentetan pertanyaan yang bergelindang di mata. Pengungjung diajak untuk memperkarakan dirinya di tengah hiruk-pikuk hidup yang dijalani. Seni di sini hadir sebagai cara manusia untuk menemukan dirinya yang utuh (The truth of being). 

Tidak hanya masalah kelangsungan hidup semata yang diungkap, dalam pameran tersebut, seni rupa itu sendiri dipertanyakan kembali kedirian-nya di tengah-tengah kenyataan yang berlangsung begitu cepat dan berubah.

Related

Seni Rupa 4599447274472254210

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item