Headlines News :
Home » , » KIDUNG PERKASA DAN ERANGAN TUBUH UNTUK SIAPA?

KIDUNG PERKASA DAN ERANGAN TUBUH UNTUK SIAPA?

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 09 September 2016 | 23.49.00


John Heryanto


Salah satu adegan drama tari 'Kidung Perkasa'. Foto: John Heryanto
“Hana nguni hana mangke, tan hana huni tan hana mangke….”   Begitulah senandung dari  gelapnya panggung. Suara itu hadir berulag –  ulang  seakan mengajak para pemilik telinga untuk mempercayai bahwa apa yang ada dihadapan sebagai ingatan dari yang dilakoni. Lantas disusul dengan bunyi kohkol dipukul dengan tempo cepat dan berulang – ulang layaknya kabar genting sedang terjadi. Hilir mudik orang – orang ; memikul dan menggusur bambu, membawa sapu, memasang janur, dan membawa menyan. 

Begitulah sebuah cuplikan pertujukan yang di pentaskan dalam rangkaian ujian tugas akhir  Pasca Sarjana Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Teater Kebun (9/9/16). ‘Kidung Perkasa’ berkisah tentang nasib Dyah Pitaloka dan perang bubat. Pemasangan janur kuning dengan persemabahan menyan dan sosok Dyah Pitaloka berserah diri dihadapan pohon dengan wajah penuh kebimbangan seakan mengatakan inilah sebuah awal dari hidupku ketika Hayam Wuruk melamar dan aku bimbang karenanya. Tapi sang ayah menerima lamaran tersebut sehingga aku pun harus menerima. Hal ini diperkuat dengan adegan selanjutnya dimana Pitaloka hiliir mudik ke empat sudut yang terdapat obor, lantas disusul kemunculan laki- laki dengan  silat mengitari Pitaloka.

Pitaloka disini hadir sebagai sosok yang patuh pada adat, penuh kehati – hatian. Melihat Pitaloka begerak, tiba - tiba jalan menjadi panjang dengan langkah perlahan menyusuri setiap jejak kaki. ‘Kidung Perkasa’ tiba-tiba menjadi jalan bagaimana Pitaloka dihadirkan sebagai sosok yang cantik, dan penuh pertimbangan. Melihat Pitaloka, penonton diingatkan pada ‘Kidung Sunda’ yang berkisah tentang peristiwa perang bubat dimana sang ayah berujar pada Gajah Mada…”wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang raja putri”.

Janur yang dipasang pada perjumpaan pertama pertunjukan kini dicopot dan diarak keliling panggung layaknya mayat sang ayah, sebuah kabar kematian dari tegalan bubat. Pitaloka pun megambil tusuk konde lantas bela pati, sebuah upacara bunuh diri sebagai bakti pada tanah. Bela pati pada masanya adalah sebuah kelajiman bagi perempuan dalam kasta ksatria di tanah sunda apabila laki-laki gugur. Hal ini dilakukan sebagai cara menjaga kesucian begitupun Pitaloka. Sebuah kematian yang simbolik dari konde yang di kepala dan pindah ke dada.

 
adegan pertama 'Kidung Perkasa'. Foto: John Heryanto

Pertunjukan ini merupakan gubahan dari novel ‘Dyah Pitaloka : Korban Politik Gajah Mada’ – Hermawan Aksan (2011). Devi, sang  koreogafer menjadikan Pitaloka sebagai cara membaca masa lalu dari yang berjalan hari ini, dimana perempuan dipandang sebelah mata. 

Sepanjang pertujukan berlangsung, bunyi – bunyian hadir sebagai situasi yang menghawatirkan dimana kohkol berkali – kali dipukul, sapu yang dipukul – pukul ke lantai dan disapu – sapu, bambu yang dipukulkan ke tanah, dan para penari yang tak henti berteriak – teriak setiap bergerak. Kesemuanya itu  berlangsung sepanjang adegan, sayangnya tubuh penari tidak memiliki bunyi apa - apa selain serangakian benda-benda yang dipedang. Ia hanya sebatas erangan- eragan tanpa henti sehingga yang hadir hanyalah seperangkat bibir semata. Tubuh pada akhirnnya menjadi angin yang berhembus begitu saja, tanpa diketahui oleh siapapun selain dari pada suara yang mengerang.  Ruang panggung hadir sebagai yang berjarak dimana penari berseliweran ke sana- kemari layaknya lapagang sepak bola yang lambat – laun memeperlihatkan kosongnya ruang sehingga tubuh tak lagi sanggup mengahdapi, ia begitu kewalahan memetakan tubuh. Tak ada kesakitan Pitaloka disana, selain dari pada darma. Barangkali yang tersisa hanyalah erangan – erangan penari yang entah untuk siapa?
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger