Headlines News :
Home » » PARAHYENA DAN DUNIA PENGEMBARAAN DARI YANG DIJALANI.

PARAHYENA DAN DUNIA PENGEMBARAAN DARI YANG DIJALANI.

Written By LPM DAUNJATI on Sabtu, 17 September 2016 | 18.10.00



John Heryanto

Menjalani hidup tanpa ingatan tentunya tak akan memiliki arti apa - apa selain dari pada sekedar melewati rutinitas sehari - hari tanpa rindu dan kenangan. Barangkali ingatan itulah yang menjadikan segala sesuatu yang dijalani terasa lama dan ketika terlewati tiba – tiba segalanya menjadi cepat berlalu. Melalui apa yang dijalani, akhirnya menuntun dirinya pada sebuah kehendak dan kegembiraan. 

Hal tersebutlah kiranya yang menjadikan sekumpulan pemuda yang sering kumpul – kumpul di ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung yang gemar mendaki dan bermain musik yaitu Sendy Novian (vocal, guitalele) Randi Tajul (gitar, vocal latar) Saipul Anwar (kontrabas), Iman Surya (violin), Fajar Aditya (cajon), Fariz Alwan (bangsing) menamakan dirinya Parahyena. Nama parhyena  sendiri dulunya merupakan selogan ketika awal-awal membentuk grup musik Cucu & The Tangkal Nangka ‘parahyena penghilang duka lara’ pada 14 juli 2014. 

Parahyena. Foto: John Heryanto
Pada ingatan itulah, seiring berjalannya hari – hari yang dilewati. Prahyena menjadikan musiknya sebagai cara menikmati segala yang ditemui. Sebagaimana yang dinyatakan Sendy tentang gagasan bermain musik grup-nya ‘dari  leuleuweungan, ulin sapopoe dan apa yang ada disekitar’. Disinilah apa yang dijalani membawanya pada perjalanan yang lebih jauh dari sekedar yang ditempuh tapi sebagai sebuah penjelajahan batin  atau yang Aristoteles sebut sebagai ‘pengembaraan dari suatu rentetan suara berirama’.  maka musik disini pada akhirnya hadir sebagai upaya menyusun ceceran ingatan sehari-hari sebagaimana yang terlihat dari lirik- lirik Parahyena dalam  Album ‘Ropea’ yang baru kemarin diluncurkan di Lawangwangi Creative Space (16/09/16). Ropea merupakan album pertamanya terdiri dari: Kembali, di bawah rembulan, ayakan, cibaduyut, sindoro sumbing, penantian di perempatan tiongkok, wonososbo, dan lamunan.  

Sedangkan  folk bagi Parahyena bukan hanya sekedar  pilihan gaya bermain musik semata tapi juga sebagai usaha menjaga dan mengembangkan apa yang telah ada sebelumnya dari ibu (etnik). Upaya tersebut dilakukan tidak hanya lewat pilihan teks lagu, idom tapi juga citarasa priangan. Merawat tentunya tidaklah semudah membicarakan tapi bagaimana semuanya hadir dengan semestinya atau yang Fajar, penabuh cajon sebut ‘ kutuluy maen musik, minimal urang bisa tanggung jawab kanu boga celi’. Usaha itulah yang dijaga oleh Parahyena meski diakuinya banyak mengalami kendala dan sering pagetrok apalagi sebagai pemain baru dalam industri musik. Di Bandung sendiri folk mulai muncul pada tahun 70-an yang ditandai dengan Pesta Folk Songs se- Jawa di Gedung Merdeka. Melaui  album ‘Ropea’ inilah Parahyena mengukuhkan dirinya sebagai salah satu musisi Bandung Folk hari ini. 

Pokonamah satungtung hirup, maen musik mah kudu! sapehna! (Parahyena)  

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger