DI LUAR DARI YANG DI LUAR



public invitation
bandung performing arts forum

DI LUAR DARI YANG DI LUAR

festival teater Jogjakarta
sabtu, 24 september 2016
concert hall
taman budaya Jogjakarta

Sebuah Proyek riset teater dokumenter, dalam perhelatan Festival Teater Yogyakarta 2016, berdasar kerangka kurasi 'aku dan liyan; refleksi jogja masa ini', yang kami beri judul, ‘di luar dari yang di luar’, yaitu membaca tentang bagaimana sebenarnya persepsi tentang jogja dari mata kedua, dari para perantau/pendatang, yang datang dan berdiam di Jogja. Terutama para pendatang, yang kini tidak lagi menjadikan jogja sebagai kota singgah, transit semata, tapi tempat tepat untuk mereka berjibaku di dalamnya, dengan keahlian diri yang dimiliki, sengkarut hiruk-pikuk, lintang-pukang, serta segala macam-bentuk peristiwa di dalam Kota Jogja. Mengapa kami beri judul ‘yang di luar dari yang di luar’, judul tersebut didasari atas bahwa kami sebagai orang-luar membaca jogja, juga dari orang luar (perantau/pendatang). Seperti mementaskan tatapan ketiga (yang di luar/kami/orang bandung) atas jogja dari orang kedua (dari yang di luar/mereka/para pendatang) yang ada di Jogja.
Perantau/pendatang sendiri adalah mereka yang dengan berbagai motif menjadikan Kota Jogjakarta sebagai semacam wahana menimba sekaligus pertarungan untuk apa yang ingin ditekuninya. Para pendatang yang bermigrasi ke Jogjakarta, pada mulanya dengan berbagai alasan memilih Jogja sebagai tempat perantauan, baik karena pendidikan, berdagang, ataupun bekerja, namun setelah lama berproses di dalamnya, akhirnya memilih menetap di jogjakarta, ketika adapun yang pernah pulang ke daerah asalnya tetap mendambakan ingin kembali ke jogjakarta. Maka pertanyaanya adalah apakah yang telah menjadikan Jogjakarta (yang) pada mulanya hanya ruang kedua untuk pelatihan keterampilan hidup para perantau, bisa menjadi rumah sekaligus ruang yang terus dirindukan untuk kembali.

Dari tatapan tersebut, lalu kami menemukan tatapan yang intim, berdasar olah wawancara kami atas tiga narasumber riset, dari ; Stanslaus Yangni (dari Lampung, sudah 16 tahun berada di Jogja), Tamara Pertamina (dari Tasikmalaya, sudah 17 tahun di Jogja) dan Nurani Sitanggang (dari Medan, sudah 7 tahun berada di jogja), yaitu tentang ; ‘pergi dan pulang’, ‘kunjungan dan kembali’, ‘rumah dan kampung halaman’, dan tentang ‘keluarga’. Tentang kepergian dan pulang menjadi problematik sekaligus membuat kami terheran, bahwa dalam kultur migrasi kota-desa, kota-kota di abad ini, menciptakan banyak bahasa baru tentang pulang juga pergi yang tidak tunggal, bahwa dalam pengertian lampau ; pulang adalah kembali ke desa setelah pergi dari kota. Tapi, pulang tidak lagi hanya milik kampung halaman/lokasi kelahiran, pulang juga bisa berpindah makna kepemilikannya, ketika akhirnya kondisi seseorang merasa pulang pada sebuah tempat, bukan saja ditentukan oleh faktor-faktor yang terberi (kelahiran,rumah ayah dan ibu), tetapi juga faktor ruang yang membuat subjek kerasan dan betah di dalamnya.

Dramaturg
Taufik Darwis
Sutradara
Riyadhus Shalihin
Skenografer dan Desainer Cahaya
Puji Koswara
Supervisi Musik
Lawe Samagaha
Komposer
Romy Jaya Saputra
Performer
Ganda Swarna
Tazkia Hariny NF
Anis Herliani
John Heryanto
Hilmie Zein
Videografer
Immanuel Deporaz
Desainer
Mega A Noviandari




Related

Teater 7294842945891855015

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item