BOOGIE WOOGIE: PIET MONDRIAN, KOMEDI DI RUANG GALERI DAN PERBURUAN KARYA SENI



John Heryanto

Piet Mondrian "Brodway Bopgie Woogie"
“Seni tidak seharusnya mati. Akan ada harga untuk segala sesuatunnya”. (Art Spidel– Boogie Woogie). 

Karya seni rupa khususnya, ketika tidak lagi berada di tangan seniman pembuatnya akan berubah menjadi sesuatu yang lain sejak karya tersebut diperlihatkan ke publik. Ia menghubungkan dirinya dengan segala apa yang ada di sekitar, mulai dari ruang, relasi sosial dan produksi serta sederet pengkodean melekat padanya. 

Di tangan pemilik Galeri, Bale Lelang, kolektor dan kurator, karya seni hadir lebih dari sekadar motif ekonomi, seperti investasi, melainkan sebagai cara dirinya hadir ditengah-tengah masyarakat lainnya. Apa jadinya jika seorang kolektor tidak memiliki satu pun koleksi seni rupa di rumahnya?

“Kau tahu? Seumur hidup, aku hanya punya lukisan itu!
Kita bukan siapa-siapa dan tak akan menjadi apa-apa tanpa lukisan Mondrian.
Lebih baik aku hidup melarat dengan memiliki karya tersebut. Jika kau ingin menjualnya, tunggulah aku mati atau bunuh aku sekarang juga!”  (Kolektor Mondrian-Boogie Woogie)

Teratoma - Boogie Woogie
Karya seni seketika menjelma menjadi medium ritual kotemporer, di mana orang-orang yang menyimpan karya seni di rumah dan dikukuhkan sebagai manusia berbudaya, seorang pengabdi peradaban yang lebih tinggi statusnya dengan masyarakat pada  umumnya maupun bangsawan, keluarga kerajaan, tokoh agama dan pejabat publik. 

“Boogie Woogie” (2009) merupakan film berlatar budaya kontemporer Inggris, ihwal liku–liku  para kolektor, pemilik galeri dan seniman dengan karakter stereotipe khas dari komedi tingkah laku (comedy of manners) garapan Duncan Ward. Sebuah lelucon satir dari pertentangan kelas yang menyeret pada berbagai skandal.

Karya  Andi Walhol dan Brancusi - Boogie Woogie
Komedi tingkah laku (comedy of manners) telah ada sejak zaman Yunani Kuno dari teks-teks drama Menander. Dan di Inggris pertama kali diperkenalkan komedi oleh William Shakespeare  pada masa restorasi dengan naskah “Much Ado About Nothing” yang dimainkan pada tahun 1598-1600. “Much Ado About Noting” dikenal sebagai komedi romatik modern yang berpangkal pada laku para tokohnya serupa comedy of manerrs, namun tidak ada pertentangan kelas atau motif-motif ekonomi di dalamnya. Di tangan dramawan Prancis, Molie’re, komedi tingkah laku (comedy of manerrs) mengalami puncak kejayaanya hingga menyebar ke berbagai negara. Molie’re lewat karya-karyanya membongkar berbagai skandal, kemunafikan dan busuknya kehidupan di bawah Rezim Acien melalui  laku-laku dan teks-teks yang mengalami pengasingan dan satir seperti pada naskah-naskah L'École des femmes (1662), Le Misanthrope (1666) dan Tartuffe (1664) hingga lahirlah kini komedi situasi (sitkom) dan lain sebagainya.

lelucon Boogie Woogie

Dalam “Boogie Woogie“ laku dengan teks-teks yang tidak penting dipilih sebagai cara untuk membongkar sisi gelap dari jaringan pemasaran karya seni. Kisah film ini bermula dari tawar-menawar harga lukisan “Brodway Boogie Woogie” Piet Mondrian hingga pemberontakan seniman muda yang membuat karya dengan mengabadikan momen- momen seks sesama perempuan, melaui video.

“Brodway Boggie Woogie” dari Piet Mondrian, hadir sebagai cara untuk mengikatkan narasi dengan pertumbuhan kota serta berbagai kesibukan lainnya. kemudian diperkuat dengan iringan musik  Boggie-Woggie. Kedua hal ini memperlihatkan adanya upaya untuk me-restorasi kehidupan kota di New York ketika Piet Mondrian berkarya.

seorang kolekror sedang melihat foto lukisan Mondrian. Boogie Woogie

Sedangkan “Brodway Boogie Woogie” yang dibuat dalam masa pengungsian di New York ketika perang Dunia II meletus di Eropa. Sebuah lukisan yang menggambarkan kehidupan jalan kota New York dengan latar musik ‘boggie woogie’ yang berkembang dari kaum imigran Afrika.  Dari sinilah Piet Mondrian dikenal publik luas sebagai seniman yang fokus pada praktik dasar-dasar seni rupa (neoplasticism) berupa garis, bentuk, warna dan keseimbangan.

Kiranya film “Bogie Woogie” layak menjadi rekomendasi tontonan mahasiswa seni, khususnya, sebagai upaya untuk mentertawakan diri sendiri.

[Ed: Mohamad Chandra Irfan]


Related

Resensi Film 7112219535725144926

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item