INDONESIA DANCE FESTIVAL (IDF) 2016 ; MERETAS JARAK ANTARA BUNYI, TUBUH DAN TARI HARI INI.



Jauh sebelum masa sejarah, manusia melakukan interaksi dengan sesamanya tidak melalui kata-kata melainkan berdasarkan endapan dan dedak-dedak pengalaman yang mengental dari waktu yang dijalani. Pada seluruh gerak tubuh itulah bahasa bersemayam begitu juga dengan tari sebagai yang ditatap. Tari dalam kehadirannya tidak hanya semata gerak tetapi juga mengikatkan dirinya pada bunyi – bunyian, entah sebagai latar, rangsangan, ritme dan lain sebagainya –rapat dan dekat.

Pada  Indonesia Dance Festival (IDF) ke 24  inilah, keterikatan antara tubuh dan bunyi direntangkan. Pada rentangan tersebut terdapat ikatan yang terurai sebagai sebuah jarak. Tiba – tiba jarak menjadi semacam lapangan tanpa unjung, tak tersentuh, ruang tanpa nama. Tempat dimana segala kemungkinan dan percobaan dapat terjadi, dimana tari dapat menjelma apa saja tidak seperti tari- tari tradisional Indonesia yang mengikatkan bunyi dengan gerak. Jarak kini hadir sebagai strategi penciptaan tari -tubuh sonic. Dengan cara tersebutlah kiranya tari menjelma manjadi yang baru – lapang pengasingan  antara tubuh dan bunyi. Padanya terdapat kontruksi sejarah dan memori; yang berjalan (liveness) dan arsip.

Festival yang diselenggarakan dua tahun sekali ini, yang berlangsung dari tanggal 1- 5 November 2016, di fokuskan di Jakarta diantaranya; Teater Jakarta, Garaha Bakti Budaya, dan Teater Kecil di Taman Ismail Marjuki (TIM) serta di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Jakarta. Dalam festival tersebut hadir  karya- karya ter-mutakhir dari seniman – seniman Indonesia maupun luar negri. Beberapa diantaranya yaitu: 

Punkasila dan Fitri Setyaningsih (Indonesia) yang memadukan pertunjukan musik, kostum, bendera, dan ruang publik. “Rough Machine/Soft Power” menghadirkan tari yang berjalan diantara kekacauan dan ketakuan masyarakat kini atas situasi yang berlangsung dihadapan sebagai bahasa dari ring kekuasaan –politik budaya. 

Filastine (Spanyol – Indonesia) menghadirkan tarian katartik dari The Miner  -elektronika avant garde yang diambil di kawah Ijen. Antony Hamilton (Australia) yang menyingkapkan keterpesonaan terhadap artikulasi tubuh dan pikiran yang berjalan melalui “Meeting”dimana pergerakan tubuh di atas panggug hadir diantara denyut meditatif dan ketukan mesin dari 64 instrumen robotik perkusi Macindoe.   

Park Je Cun ( Korea Selatan) seorang pemain perkusi yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Jendral Jeonju International Sori Festival. Park Je Cun akan menghadirkan “Do You Want Me?” Sebuah  tarian yang mengolah ‘momen seketika’ dari improvisasi antara permainan drum dan gerak dari respon instingtif  tujuh penari dengan latar berbeda diantaranya Kang Yo Sub, Kim Hye Ji, dan Lee Hyun (Korea Selatan), Hari Gulur, Fadila Oziana, Try Anggara dan Josh Marcy (Indonesia). 

Selain seniman – seniman tersebut juga tampil Melati Suryodarmo (Indonesia), Aguibou Bougobali Sanou (Burkina Faso), Fitri Anggraini (Indonesia), Andara Firman Moeis (Indonesia), Ari Ersandi (Indonesia), Rianto (Indonesia), Nihayah (Indonesia), Darlene Litaay (Indonesia) & Tian Rotteveel (Belanda), Jecko Siompo & Animal Pop Family (Indonesia), Abduah Wong (Indonesia), dan Jefriandi Usman (Idonesia). 

Indonesia Dance Festival (IDF) sejak kemunculanya di tahun  1992 yang tidak hanya sekedar merawat generasi, lebih dari itu ia membangun iklim tari Indonesia yang maju. [John Heryanto]

Related

Teater 5674158729023305821

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item