Headlines News :
Home » , » INTO THE WALL : SEBUAH PERTEMUAN ALTERNATIF

INTO THE WALL : SEBUAH PERTEMUAN ALTERNATIF

Written By LPM DAUNJATI on Jumat, 28 Oktober 2016 | 00.32.00



Salah satu dinding yang dimural dengan tajuk "Into The Wall"  | (Foto: MCI/Daunjati)

Ruang publik adalah bagian penting dari kota, sebab di tempat tersebut masyarakat saling bertemu dan berinteraksi, sekaligus merupakan simbol yang bisa digunakan untuk memahami kota dan budayanya. Selain itu dapat pula dikatakan bahwa ruang publik merupakan  persepsi kolektif dan imajinasi masyarakat, yaitu tempat di mana mereka bisa berkumpul, berjalan-jalan, berkendara, ataupun berolah-raga. Di tempat itu masyarakat bertemu, berinteraksi dan berpartisipasi dalam kehidupan keseharian dengan modus komunikasi berupa komunal party, kemudian sedikitnya  kita dapat menyebutnya adalah “kota”.

Pembangunan tanpa diimbangi dengan pertimbangan publiknya, maka akan menyebabkan ruang publik terkesan hanya sebagai sisa lahan pembangunan. Pada sisa ruang-ruang publik inilah terjadi perebutan tempat, baik oleh individu atau kelompok yang berkepentingan (baliho, poster , atribut partai, pedagang kaki lima dan ormas). Ihwal kesadaran publik menyoal “ruang” dalam konteks kepemilikan, masih menjadi PR bersama.

Street artist dalam melihat sisa lahan yang tersisa (baca: dinding) selalu dijadikan bahan eksplorasi berupa coretan, goresan, semprotan, tempelan, dan lukisan dengan ragam imaji. Yang menarik pada fenomena street artist adalah, bagaimana senimanya mencoba mendekatkan seni rupa dengan masyarakat,  dengan menempatkan karya yang dapat dinimkmati oleh publik paling awam sekalipun, sehingga pembacaannya tidak memerlukan pendekatan yang berlapis atau dijejaali dengan sekelumit teori-teori yang njelimet. Street artist mencoba mencari alternatif dari ketidakmampuan atau ketumpulan galeri seni dalam memberikan edukasi yang konstruktif kepada masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, dua puluh seniman dihadapkan pada situasi publik yang berbeda, dinding yang disediakan adalah dinding yang berada di kawasan kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yang mayoritas apresiatornya adalah mahasiswa seni. Berbeda dengan kebiasaan seni mural atau grafiti pada umumnya, di mana cakupan apresiatornya adalah masyarakat luas atau publik yang tidak dikondisikan sebelumnya. Kini para ke-dua puluh seniman tersebut dihadapkan pada publik yang lebih sedikit dan tentu memiliki “pemahaman lebih (?)” terhadap seni. Lantas apa yang ingin disampaikan seniman kepada publik kampus, jika secara apresiator adalah mahasiswa yang menekuni seni?

Hal ini menjadi tantangan dua puluh seniman yang terlibat, bagaimana caranya setiap karya yang diciptakan selain estetis juga bisa menjawab kekurangan yang tidak muncul dalam kegiatan mahasiswa. Barangkali akan lebih baik jika fenomena mural di kampus ISBI ini terjadi interaksi antara pengkarya dengan apresiator dikemas dalam bentuk diskusi, agar menambah wawasan di antara keduanya.

Tajuk  yang disajikan dalam kesempatan kali ini mengenai youth culture (budaya kaum muda). Ditinjau secara psikologi, Erik Erikson menerangkan bahwa youth culture adalah salah satu proses di mana kaum muda mencoba menjawab sebuah pertanyaan “siapa aku?”, atau: Parsons (1951) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa ketika orang-orang muda transisi dari ketergantungan pada orang tua untuk otonomi. Dalam keadaan fana ini, ketergantungan pada kelompok sebaya berfungsi sebagai stand-in untuk orang tua.  Kemudian Burlingame menyajikan kembali hipotesis ini pada tahun 1970, bahwa remaja menggantikan orang tua dengan kelompok sebaya, dan bahwa ketergantungan ini pada peer group berkurang sebagai pemuda memasuki usia dewasa dan mengambil peran orang dewasa[1].

Pada akhirnya frasa Into The Wall dipilih sebagai jembatan pertemuan seniman secara pribadi terhadap objek karyanya, pertemuan antar penggiat seni, dan pertemuan seniman dengan publik kampus tentunya. Into The Wall mencoba menjadikan tali-penghubung cara pandang seniman street artist dalam memaknai ruang publik secara luas, dan mahasiswa seni memaknai kampus sebagai ruang pendidikan kolektif—yang diwujudkan dalam bentuk mural.


Agung Eko Sutrisno
[kurator, mahasiswa seni murni ISBI Bandung, 2015, dan wartawan magang LPM Daunjati]


[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Youth_culture   diakses pukul 03.00am 28/10/16.
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger