MENGINTIP TIGA PERTUNJUKAN BANDUNG PERFORMING ARTS FESTIVAL

Mohamad Chandra Irfan

Salah satu adegan pertunjukan teater "Kelas Kedua" (Foto:MCI/Daunjati)
Bandung Performing Arts Festival (BPAF) menggelar beragam pertunjukan, tujuannya adalah sebagai destinasi wisata. BPAF digagas oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Pertunjukan BPAF selain digelar di UPI Bandung juga digelar di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung, berlangsung tanggal 22 Oktober 2016 menampilkan tiga karya; musik, tari dan teater.

Cello dan Piano: Pola-Tiga-Sunda

Gesekan biola dan bunyi tuts piano mulai menyelinap ke seisi gedung Sunan Ambu. Penonton senyap. Sesekali cello tidak lagi digesek, tapi dipetik. Irama permainan naik-turun. Gestus tubuh pemain cello maupun piano, sesekali hanyut dalam irama permainan. Ada prosesi kebertubuhan yang berkelindan dalam waktu yang sama, dengan imaji ruang yang berbeda. Gesekan cello dan piano dengan basis eksplorasi laras degung dan madenda dalam gaya sunda, mencoba menilik kembali notasi-tradisi ketika dikawinkan dengan alat musik modern-klasik.

Prosesi pengawinan ini bukan hal baru dalam dunia musik. Eksplorasi yang dilakukan oleh komposer E. Dikara DH (UPI Bandung) tersebut, menjadi proyeksi dari realitas yang erat kaitannya dengan penciptaan suasana pola-tiga dalam konsepsi sunda. Gesekan cello dan bunyi tuts piano, kembali lenyap setelah partiture dipindahkan. Kedua pemain saling diam. Menunggu cahaya masuk ke suasana yang lainnya. Partiture sudah berpindah. Tatapan penonton diarahkan kembali pada permainan mereka. Telinga mendapatkan panorama sunda yang lebih tajam. Suaranya seperti membetot ingatan kita pada hijau sawah, sepoi angin dan bau tanah yang khas.

Pada sesi musik yang kedua, Dikara mencoba menawarkan kecapi sebagai hero atas instrumen yang lainnya, semisal gitar dan suling. Paduan kecapi dan juga instrumen yang lainnya menciptakan bunyi yang kontras, di mana permainan memetik dan meniup seperti tidak beraturan namun gendang telinga masih mampu menyerapnya dengan sangat teratur. Keteraturan dalam bunyi tersebut justru mempertebal kecapi sebagai fenomena tradisi yang mempunyai nilai-tawar.

Dua repertoar yang disajikan E. Dikara DH mengangkat kembali nilai-nilai tradisi dengan pendekatan yang lain. Pewujuduan tersebut tercermin dari cara Dikara mengolah laras madenda dengan alat-musik klasik Barat. Barat bukan satu-satunya patron dalam mengolah sebuah karya musik, akan tetapi Barat hanya dijadikan pijakan untuk mengelaborasi tradisi yang amat beragam di Nusantara ini, khususnya sunda.

Konsepsi pola-tiga-sunda yang diangkat oleh Dikara jika dilihat dari ‘pola-tiga’-nya itu sendiri, seperti yang dituturkan Jakob Sumardjo dalam bukunya Estetika Paradoks, “…hidup itu dimungkinkan karena adanya harmoni, dan peristiwa harmoni ini adalah peristiwa yang paradoks; tidak ada yang dimenangkan dan tidak ada yang dikalahkan…”, jika ditautkan dalam repertoar musik yang diusung oleh Dikara, peristiwa musik harmoni-nya kentara terasa, dan paradoksalnya tercermin dari tempo yang dibangun. Telinga penonton disuguhi peristiwa paradoks dan itu adalah harmoni itu sendiri.

Dika sedang memainkan cello (Foto:MCI/Daunjati)
Jagat Suwung : Kritik Eksploitasi Lahan

Seorang manusia berkemeja putih, celana katun, terlihat juga memakai overall terlihat masuk membawa sebuah kompan, berisi bibit. Ia berdiri tepat di tengah panggung. Keluar. Kemudian musik masuk menghentak. Cahaya berubah. Lima orang manusia menggendong tas-kaleng (serupa tempat penyemprotan bibit) di atas kanan bahunya menjulang tinggi corong berwarna biru. Corong tersebut tampak elastis, setiap si pembawa tas-kaleng bergerak, corong tersebut ikut bergerak dengan gerakan leuleus-liat. Kelima penari tersebut masuk dengan posisi kaki dihentak-hentakkan ke lantai panggung (bumi), berputar (siklikisasi waktu), bergumul menatap ke depan. Posisi tetap seperti akan menyerang.

Begitulah koreografer Indra Gandara (UPI Bandung) membawaka. Jagat Suwung yang menarasikan ihwal alam yang sudah kehilangan hijaunya, kehilangan tempat garapnya. Jagat Suwung adalah fenomena yang terjadi di banyak tempat, tidak hanya sunda. Persoalan pengerukan sumber daya alam sudah menjadi pengetahuan bersama, bahwa hal-ihwal tersebut akan tetap dan terus akan ada juga semakin berlipat-ganda. Kapitalislah yang menjadi protagonis dari industrialisasi ini. Mereka setia dengan semboyannya, “mengeksploitasi, menghisap dan mengekspansi”.

Hal tersebut terlihat dari upaya kelima orang tadi (penari) mencoba naik ke atas tangga akan tetapi akhirnya terjatuh lagi. Tidak sampai ke atas. Mereka akhirnya tergeletak lagi dan lagi, berulang-ulang seperti itu. Hingga akhirnya mulut mereka menganga sambil menggigit corong dengan posis ke atas (siap dimasuki air), kehausan. Pemodal tadi datang lagi membawa air. Mengisinya kepada mereka yang kehausan tadi. Perlawanan mereka di tengah belantara yang tidak lagi hijau, berakhir dengan tangan kosong. Jagat Suwung yang bedurasi sekira 45 menitan tersebut adalah manifestasi perlawanan terhadap realitas yang paling dekat dengan tubuh, alam.

Penggunaan medium tangga sebagai benda asosiatif ternyata kurang mempunyai dampak yang kuat, baik sebagai gambar maupun sebagai kosa-imaji. Apakah tangga yang tergantung itu menjadi artikulasi lain yang lebih menohok dari peristiwa sebelumnya? Ternyata sama sekali tidak, justru secara dramatik sama saja, tidak ada penambahan volume dramatik. Kemudian dilihat dari segi dramatik, Indra kurang memerhatikan nanjak-turun dramatik, Jagat Suwung terlalu mempertebal gerakan-gerakan tempo cepat tanpa mempertimbangkan bagian-bagian sublimasi.

Terlepas dari itu, ihwal ekologi ini mesti terus dipropagandakan dan dieksplorasi dalam bentuk tari selanjutnya.

Salah satu adegan tari "Jagat Suwung" (Foto MCI/Daunjati)
Kelas Kedua : Laki-laki yang Terdomestifikasi

Layar putih mulai dipenuhi multimedia Subang tempo dulu hingga bergerak ke Subang masa kini. Semangat perlawanan para buruh dalam menjalankan demonstrasi untuk memenuhi tuntutannya hadir juga di multimedia. Seorang lelaki memakai daster masuk dari arah kiri panggung masuk dengan kaki memakai sepatu roda. Cahaya dibuat tidak terlalu terang. Kerlap-kerlip lampu dari sepatu roda tampak keluar. Ia berjalan memutar, mengitari panggung, sambil membawa gayung. Teriak dengan kalimat yang tidak terlalu jelas. Seperti memegang megaphone.

Asep Kusmana (ISBI Bandung) selaku penulis naskah dan sutradara pertunjukan Kelas Kedua mengangkat fenomena para buruh di daerah Subang. Para buruh laki-laki dipaksa harus menjadi bapak sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Pertunjukan Kelas Kedua ini dibawakan dengan cara monolog tubuh. Hendra Mboth yang menjadi aktornya mencoba menjadi laki-laki yang mengurus segala hal. Mulai dari mengasuh anaknya yang masih bayi, mencuci, masak, sampai berada pada satu titik puncak kekesalan yang terpendam. Mata perempuan yang diwakili oleh gambar-gambar di multimedia menjadi teror tersendiri bagi suami. Seolah setiap geriknya diawasi. Dipenjara oleh ragam kebutuhan domestik.   

Asep Kusmana menerapkan narasi pertunjukannya selain memperkuat posisi tubuh aktor sebagai penyambung komunikasi, dan juga menjadikan multimedia menjadi bahasa kedua yang mempertegas narasi secara keseluruhan. Multimedia yang dicipta oleh Erik Mantri ini menjadi jembatan adegan per-adegan juga sebagai pengusung atmosfer. Ketiga pertunjukan ini, musik, tari dan teater penata cahayanya adalah Aji Sangiaji. 

Asep juga sadar akan distorsi cahaya lewat tubuh, dengan cara menampilkan silhuet berukuran besar. Kemampuan semacam ini menjadi koneksi estetik dalam pertunjukan teater yang ditawarkan Asep Kusmana. Akan tetapi penempatan ruang dalam perspektif Subang dulu dan Subang kini tidak tergambarkan dengan jelas, masih menyisakan samar. Akhirnya pertunjukan Kelas Kedua seperti menjadi antropologi perbandingan; yang lalu dan yang kini. Apakah yang lalu tidak lebih terpuruk dari yang kini, atau sebaliknya?

Related

Teater 787715884600431902

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item