NGIENG-NGIENG : POLITIK BAHASA DAN SAYA INGIN BERNYANYI



John Heryanto

 Adegan pidato pertama Presiden Seumur Hidup 'Ngieng-Ngieng'. Foto: John Heryanto

Banjir dan longsor yang ditembakan infocus ke panggung hadir bersama derap kaki orang-orang yang berjalan membawa atribut kampaye serta beberapa wartawan sedang meliput. Begitulah ‘Ngieng Ngieng’ mengawali kisahnya di panggung. gimik pertunjukan, membuka jalan penonton untuk menelisik lebih dalam atas apa yang berlangsung dalam kenyataan. Ada apa dengan bencana alam dan pemilu? Rupanya hal itu pula yang menjadikan seorang musisi bernama Wani ditangkap aparat dan dijebloskan ke tahanan karena dianggap telah mencemarkan nama baik Lurah, meng-keritik dan menjelek-jelekan pemerintah. Lagu seperti apakah yang dapat dinyayikan dengan bebas? Pada titik inilah setiap orang harus membiasakan diri dengan bahasa yang berdasarkan kebijakan penguasa. Tiba-tiba bahasa yang biasa digunakan sehari-hari, berubah  menjadi asing. Bagaimana tidak, siapa pun yang hendak bicara. Haruslah  menertibkan kata-katanya terlebih dahulu agar tidak masuk penjara.  Begitu juga dengan seni seperti teater, seni rupa, musik, dan sastra yang tidak sejalan dengan pemerintah maka dinyatakan terlarang. Sungguh mengerikan! 

Adegan pidato Presiden terpilih 'Ngieng Ngieng' . Foto: John Heryanto
“Kita, merdeka! Hanya ada satu kata yang dapat mewakili semua yaitu kemenangan. Saya akan menyayikan sebuah lagu yang saya ciptakan khusus untuk kita semua…” begitulah tokoh Subur Batilega berpidato ketika terpilih menjadi Presiden. kata ’merdeka’ yang sama dengan lagu yang sama yang dilapalkan Subur sejak menjadi lurah, wali kota hingga jadi presiden. ‘merdeka’ seakan hadir setiap lima tahun sekali, setelah pemilu usai. Lantas hari-hari biasa adalah persiapan kampanye untuk priode akan datang. Bagaimana dengan lingkungan, tata ruang, pola hidup dan lain sebagainya? Satwa liar yang tadinya di hutan pindah ke kandang besi di kebun binatang, begitu juga dengan hutan yang berhektar-hektar berubah menjadi hutan lindung atau hutan kota yang jumlah pohonnya terhitung  dengan jari. Begitu juga tata-ruang kota dibangun berdasarkan kepentingan laba bukan kepentingan penghuninya. Peradaban dibangun seperti pula lagu yang dinyanyikan penguasa “jembatan kuning”. Sementara itu seni, yang konon menjadi cermin, bahkan mulut dan matanya masyarakat. Telah  berubah menjadi seni untuk kampanye dan seni untuk para pemenang atau penguasa. Sebagaimana terlihat dalam adegan aksi ‘Fron Pembela Kesenian’ yang melakukan pertunjukan setiap ada panggilan dari  si Tuan. Seni, mati oleh idiologi yang dipikul dan kepentingan pasar.  Pada akhirnya seni hanyalah  kemasan semata.

Adegan pidato pertama walikota terpilih 'Ngieng Ngieng'. Foto: John Heryanto
Pertunjukan ‘Ngieng Ngieng’ dari Koloni Teater berlangsung selama dua hari dari tanggal 28-29 Oktober di Rumentang Siang pada pukul 13.00 dan 19.00 ini, berkisah tentang hasrat akan kekuasaan. Dramaturgi ‘Ngieng Ngieng’ berjalan diantara kecemasan dan keriuhan yang laten. Dimana perasaan dipacu sampai pada pemahaman persepsi melaui lompatan-lompatan dialog. Sedangkan repetisisi menjadi cara Kemal Ferdiansyah dalam menamkan ingatan peristiwa  kepada penontonnya, antara realitas dengan panggung, sama-sama sibuk mempersiapkan pemilu. melalui hal itu pula ‘Ngieng Ngieng’ mengajak penontonnya untuk mempertimbangkan matang-matang mengenai suara yang akan diberikan pada pemilu nanti. Sehingga tidak lantas “Aku ingin bernyanyi” dan kita pun menjadi bisu karenanya.

Related

Teater 3218866380554597911

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item