PELAMPUNG DI BAWAH KURSI ANDA, POLITIK RUANG DAN GERAKAN PERUPA MUDA FILIPINA



John Heryanto

Agung Hujatnikajennong (kurator) bersama dua orang perupa Surrounded by Water mempersentasikan karyanya. Foto: John Heryanto



Bandung, Daunjati, 2016Seniman seringkali mendapatkan pertanyaan dari orang-orang sekitar terkait dengan pekerjaanya atau praktek seni. Apa, bagaimana, kenapa, mengapa dan lain sebagainya. Apakah seniman ketika membuat karya seni itu membuat konsep? Atau konsep itu belakangan asal nyablak saja, yang penting jadi dulu wujudnya? Seabrek pertanyaan akan digulirkan ketika sang seniman membuat karya seni, belum lagi dikejar-kejar deadline. Lantas untuk apa sesungguhnya karya seni itu ada, baik itu bagi seniman maupun penikmatnya?  “What is art for you?”  (Mix media, collages and object dimension variated) dari Geraldine Javier dengan boneka rajutan yang ditempel di tembok serta tumpukan balon dialog tergeletak di meja, menunggu untuk diisi dengan spidol dalam gelas.

Ling Quisumbing. "Waking Hours" Video works. Foto: John Heryanto
Setiap orang yang berada di sini, diajak untuk mencoba merumuskan kembali tentang kehadiran seni. Seketika menjadi sesuatu yang dekat; tempat curhat, yang terlintas dalam benak, dan apa pun itu terserah seorang pengunjung mau menuliskan apa. “What is art for you?” Sebuah migrasi teks di atas dinding Café dekat pintu Galeri (ontologis) kepada yang melihat -Why do we do what we do? Begitulah perjumpaan pertama seorang pengunjung pameran “Pelampung di bawah kursi anda -Life Jaket Under Your Set” berlangsung dari 14 Oktober-6 November 2016 di Selasar Sunaryo Art Space. Terseleggara atas kerjasama Selasar Sunaryo Art Space, Equator Art Project dan Langgeng Art Foundation dengan kurator Tony Godfray dan Agung Hujatnikajennong .

“Pelampung di bawah kursi anda – Life Jaket Under Your Set” mencoba melepaskan jarak antara yang di sana (Filipina) dengan yang di sini (Bandung). Seni hadir disini sebagai manifestasi percaturan budaya Asia Tenggara; perpindahan dan mobilitas ketika sirkulasi kapital mencair dengan pasar terbuka. 

Hadirnya gadget, facebook, youtube, google, instagram, line, twitter, whatsApp, Path, serta berbagai perkembangan teknologi  masa kini telah menghilangkan teritori dalam seni rupa khususnya. Setiap orang dapat bertemu dengan siapa saja, pergi ke mana saja dan kapan saja. Pada titik ini seni rupa maupun Galeri dipertanyakan keberadaanya. 

Kenyataannya, Penerbangan murah (low cost carriers) memungkinkan berbagai residensi dan pameran berskala Asia dapat dengan mudah dilakukan selain internet yang mendorong intensifikasi hubungan pelaku seni itu sendiri. Hal tersebut membawa para pelaku seni pada cara ungkap dan bagaimana seni dapat bertemu, politik ruang.

“Waking Hour” (video works) dari Ling Quisumbing, sebuah benda kecil bercabang sejenis ketapel dari tulang, bergoyang-goyang dengan suara kokok ayam dan keramaian orang-orang di pasar.  Ada yang bergelinding dari realitas yang berjalan, dunia yang asing antara virtual dengan laku sehari-hari. Barangkali begitulah kita menjalani kehidupan. Tak hanya itu saja, dalam pameran ini ada sekitar 30 karya seni rupa dengan berbagai media.

Pengunjung Pameran sedang menikmati karya yang dipamerankan. Foto: John Heryanto
Pameran “Pelampung di Bawah Kursi AndaLife Jaket Under You Seat” dari Surrounded by Water & Friend terdiri 14 perupa dari genersi 1998 ketika iklim seni rupa Filipina belum tercipta hingga ke generasi masa kini. Diantaranya: Jonathan Ching, Mariano Ching, Lena Cobangbang, Luie Cordero, Cristina Dy, Paulo Icasas, Geraldine Javier, Kitty Kaburo, Keiye Miranda, Paul Mondok, Micael J. Munoz, Yasmin Sison, Wire Tuazon, Ling Quisumbing, dan Mac Valdezco.

Surrounded by Water merupakan ruang pameran yang didirikan oleh Wire Tazon bersama beberapa mahasiswanya di Univesity of Philippines – Manila (1998). Ketika galeri-galeri seni rupa yang ada menolak perupa muda yang dianggap ‘nyeleneh’ dalam menciptakan karya. Maka, sejak saat itu hingga kini Surounded by Water menjadi tempat pameran dan berkumpulnya perupa muda Filipina yang haus akan eksplorasi artistik seni rupa yang dimaksudkan untuk pameran di mana saja, apalagi dengan kehadiran pesawat terbang dan internet, di mana jarak menjadi mitos, sebab pergi ke mana pun tinggal duduk dan sampai.

Lewat “Pelampung di Bawah Kursi Anda – Life Jaket Under You Seat” cara  membangun ingatan; antara yang lalu, kini, esok, kemarin, lusa, jauh dan dekat menjadi manifestasi seni rupa kontemporer Filipina.

[Ed: Mohamad Chandra Irfan]

Related

Seni Rupa 1189727795575336946

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item