Headlines News :
Home » , , » WORKSHOP TEATER TUBUH: MENIMBANG PRODI TUBUH

WORKSHOP TEATER TUBUH: MENIMBANG PRODI TUBUH

Written By LPM DAUNJATI on Selasa, 25 Oktober 2016 | 10.42.00



John Heryanto

Toni Broer dalam Workshop Teater Tubuh. Foto: John Heryanto
Aku membuka tubuhku sampai pada kemungkinan yang paling mustahil” begitulah sebuah teks diucapkan Dindon dalam pertunjukan “Rekontruksi Keterasingan” dari Teater Sae. Teater Sae (1971-1994) oleh beberapa pengamat dan krtikus teater pada zamannya dianggap sebagai: eksponen utama dari teater rujak teks (Yohanes 2000:32-42), teater kolase (Yohanes 2013: 265)  teater eksperimal sejenis bib-bop, namun memiliki pengalaman dan proses yang lebih mendalam (Ahmad 1993: 2-7).  Pada zaman Sae ini, lahir pula teter-teater sejenis di antaranya Teater Kubur, Teater Api dan Teater Payung Hitam. 

Teater tubuh, merupakan sebuah teater yang lahir dari menurunnya pengaruh sastra, yang berbeda dengan teater-teater sebelumnya. dimana teater mengikatkan dirinya pada konvensi yang baku dengan bersandar pada naskah lakon yang mapan. melalui tubuh itulah teater mencoba menemukan bahasanya sendiri dari apa yang ada di atas panggung sebagai: yang penting bukanlah menciptakan sesuatu, membuat sesuatu secara teknis, melainkan sesuatu harus dilahirkan (Booklet Migrasi dari Ruang Tamu-Tetaer Sae). Pada jenis teater tubuh seperti ini, teks teater bisa lahir dari apa saja, mulai dari koran, televisi, sendok, sandal jepit dan segala apa yang dekat, termasuk tubuh itu sendiri. Sebuah eksperimen dalam berbagai hal, ia tetap saja lahir sebagai penolakan terhadap jenis-jenis yang sebelumnya ada. 
Agus R. Sarjono dalam Workshop Teater Tubuh. Foto: John Heryanto

Lantas bagaimanakah teater tubuh yang tidak mapan ini, tiba-tiba harus menjadi baku dengan berdirinya Prodi Teater Tubuh? Apalagi jika membuka Prodi Teater Tubuh dengan alasan bosan semata, sebagai mana yang dinyatakan Fathul A. Husain : “40 tahun, Prodi Teater ini menggeluti naskah  atau drama. kita sudah khatam dan bosan. Untuk itulah kita akan membuka prodi teater tubuh di tahun depan.” Apa jadinya sebuah sekolah berdiri dengan alasan jenuh? Lantas ketika jenuh dengan teater tubuh, mau Prodi apa lagi yang didirikan sebagai pelarian dari jenuh? Apa yang dilakukan Yudi Aryani dalam melakukan “Rekontruksi Bip-Bop” kiranya patut untuk dicontoh. Dari rekontruksi tersebut, Aryani menemukan dua metode tubuh yang dilakukan WS. Rendra di antaranya: Metode Impropisasi atau yang lajimnya disebut Body Movement dan metode gerak indah.

Teater tubuh, tentunya bukan semata masalah ekspresi, sehingga terjebak pada kemandegan. Lantas teater tubuh hanya terus-terusan melakukan pengulangan bentuk dari pertunjukan-pertujukan sebelumnya. Maka kelahiran tubuh mestilah disertai dengan seperangkat diskursus dan metode yang dapat dipelajari oleh siapa pun. Sudahkah Prodi Teater melakukan itu?

Rachman Sabur dalam Workshop Teater Tubuh. Foto: John Heryanto
Dalam wokshop teater tubuh di Studio Teater selama 4 jam dengan menghadirkan Agus. R Sarjono, Toni Broer dan Rachman Sabur dengan moderator Apih Rusman. ketiga pembicara tersebut, membagi teater tubuh ke dalam tiga proses, di antaranya:

Tubuh Koneksi 

Seseorang yang berjalan ke sebuah meja untuk apa? sebuah meja yang sering kita jumpai, meja dengan bentuk segi empat, meja yang telah kita kenal berkali-kali di seumur hidup kita. Meja yang biasa kita gunakan untuk menulis. Begitu juga dengan tubuh ini. tubuh yang telah ada sejak kita lahir. Lantas kapankah kita pertama kali punya tubuh? 

Lewat kedua pertanyaan itulah Toni Broer membangun tubuh dengan jalan ikatan (koneksi) antara kita, tubuh dan yang ada di hadapan. Tubuh tentunya tidak lahir dengan sendirinya, ia ada karena berbagai penanda yang diberikan. Seperangkat identitas yang menjadikan badan berubah menjadi yang kita kenal sebagai tubuh. maka tubuh koneksi ialah tubuh yang membangun ruangnya di atas panggung berdasarkan pengalaman dan ingatan. Sedangkan ingatan itu lahir dari  tubuh yang ditempa latihan atau pendekatan peribadi terhadap objek di hadapannya sehingga keduanya dapat terjalin dan menyatu. Pada tubuh koneksi inilah latihan menjadi sarat utama untuk terjadinya koneksi di atas panggung sebagai seseorang yang menjalani ingatan. 

Tubuh Natural

Tubuh natural yang diamaksudkan Rachman Sabur ialah tubuh sehari-hari yang biasa dilakukan diseluruh aktifitas.  Pada seluruh aktifitas itulah, secara diam-diam tubuh menyimpan kenangan laku sebagai perpustakaan gerak. Maka setiap orang pada dasarnya, memiliki cara bagaimana dirinya menggerakan anggota badanya sendiri.  Tubuh nature ini, mirip dengan tubuh pra-tarinya Sardono di mana setiap orang pada dasarnya memiliki kepekaan dan cara bergerak sehingga gerakan lebih dulu ada ketimbang koreografi. 

Melalui tubuh natur, Rachman Sabur mengajak setiap orang untuk dapat mengenal kembali tentang segala sesuatu yang selama ini dijalani oleh tubuh. Dengan cara itu pula pada akhirnya setiap orang dapat menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Hal ini penting untuk dilakukan sebelum berbagai tekanan. Ia pun mencontohkan tentang proses tubuh Teater Payung Hitam yang  terlanjur berangkat dari distorsi-distorsi tubuh sehingga melupakan tubuh nature-nya yang dibawa setiap orang.  Maka dengan kita kembali pada tubuh sehari-hari inilah, setiap orang dapat menjadikan tubuhnya sebagai apa-apa yang ada.

Tubuh sebagai Puisi

Agus R. Sarjono, melakukan pembacaan terhadap beberapa pertunjukan yang dilakukan oleh Teater Payung Hitam diantaranya, Kaspar, Merah Bolong Putih Doblong, Relief Air Mata, Genjer-Genjer: Lagu yang dikuburkan, dan pertunjukan Semua Sakit Juga produksi Prodi Teater. Dari pembacaan tersebut, Sarjono menyebut tubuh sebagi puisi. 

Pada tubuh puisi, cerita tidak hadir di atas panggung melainkan berada di penonton. Maka tubuh di sana hadir sebagai seperangkat tanda yang sengaja diletakan sebagai upaya untuk membahasakan pertunjukannya. Meski Sarjono mengakui di setiap pertunjukan tubuh sama halnya dengan drama yang memiliki struktur dramtik, cuman ini lebih mengolah pada kedalaman rasa. 

Workshop Tubuh ini, tentunya membawa pemahaman baru, khususnya bagi mahasiswa drama. Namun sayangnya workshop ini terjebak dalam modus komunikasi membuka Prodi Teater Tubuh. Alhasil workshop ini lebih dijejali dengan propaganda pengembangan Prodi Baru. 
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Media Etno | Ronny Sababalat
Copyright © 2011. daunjati online - All Rights Reserved
Template Created by Ronny Sababalat Published by Ronny Sababalat
Proudly powered by Blogger