NGENDOG : SEBUAH PERTUNJUKAN TEATER NUR


CATATAN SUTRADARA
(Dian Ardiansyah/Sutradara Teater Nur)

Gagasan cerita Ngendog ini lahir dari teknik yang biasa kami lakukan di Teater Nur, yaitu membuat pohon permasalahan, lalu pohon masalah itu menghasilkan premis, dan kami mengerjakan cerita via gagasan-gagasan yang dibuat menjadi pohon masalah tersebut. Saya tidak pernah akan menyangka bahwa kumpulan gagasan itu akan menjadi pertunjukan yang kami sajikan ini, akan tetapi bagi saya sebagai sutradara, itulah justru hal yang menarik dari proses-proses yang kami lakukan di Teater Nur. Telah dua kali ini kami melakukan proses produksi yang dimulai dari nir gagasan, artinya, seluruh personil turut andil dalam pembangunan pondasi pertunjukan berupa gagasan awal.

Gagasan ini yang kemudian saya interpretasikan ke dalam bentuk naskah, karena sebelumnya kami hanya baru mendapatkan kerangka plot utama saja dari proses pembuatan pohon masalah. Proses berikutnya adalah mengemas pertunjukan yang kemudian melahirkan subtext lain dalam latihan, seperti misalnya judul “Ngendog” ini dipilih karena memiliki multi arti yang juga akan membantu penonton nantinya untuk memaknai simbol-simbol yang hadir di pertunjukan. Ngendog tidak hanya berarti bertelur dalam arti yang sebenarnya, ia bisa juga berarti mendiami sebuah tempat, dan bisa juga berkonotasi untuk sesuatu yang tidak produktif. Pada kelanjutannya makna-makna tersebut kemudian menghadirkan simbol dan penceritaan yang juga akan menimbulkan tafsir ganda dan konteks riil yang sedang terjadi atau bahkan telah terjadi di masyarakat. Ia berusaha menangkap momen-momen yang mungkin tidak hanya meminta penonton untuk sekedar merenungkannya, akan tetapi juga lebih dari itu, pada tataran aksinya.

Proses ini bukan hanya sekedar latihan teater bagi saya sebagai sutradara, tetapi juga lebih dari itu, kami berusaha menggali hal-hal yang mungkin luput dari latihan teater di sekolah-sekolah selama ini, yaitu pemaknaan. Bukan sekedar memaknai proses kesenian saja, tetapi ada banyak konteks yang bersifat kontemplatif bagi para pemain, makna yang bersifat personal namun berdampak pada ruang sosial mereka. Hal-hal yang cukup sederhana namun punya posisi penting seperti apa itu respek, atau bagaimana menghargai waktu, atau bagaimana memaknai sebuah wacana via pertunjukan teater. Hal-hal seperti ini bagi saya sebagai sutradara jauh lebih menarik dibandingkan proses penggarapan naskah ini sendiri mengingat aktor-aktor yang saya mainkan ini mayoritas duduk di kelas X dan adalah pemain-pemain pemula.

Di dalam naskah ini, sebenarnya banyak sekali permasalahan yang kami “capture” dan ia berseliweran di dalam adegan-adegan dan dialog-dialog para aktor. Kami berangkat dari kritik terhadap fungsi mitologi dalam masyarakat yang terkadang diyakini berelebihan, jauh melebihi kitab suci sehingga muncullah sekte-sekte aneh bin ajaib yang kemudian memiliki otoritasnya walaupun hanya sebatas sepetak tembok, lalu ia berkembang menjadi isu hubungan asmara sejenis yang seolah-olah telah dilegalisir oleh masyarakat kita yang mulai bergeser menjadi liberal, lalu ia bergulir lagi menjadi kritik terhadap masyarakat pemarah yang bermental gangster, dan berkembang menjadi sebuah mitologi baru dari mitologi yang pernah ada. Ya, mungkin kami tidak hanya sekedar menciptakan naskah yang kemudian jadi pertunjukan. Lebih dari itu, kami ingin membuat sebuah mitologi baru. Sebuah mitologi baru yang harapannya tentu saja bukan untuk diyakini sebagai kepercayaan dan penyembahan, akan tetapi mitologi yang kemudian bisa menjadi cermin bagi masyarakat agar melakukan otokritik terhadap apa yang sedang terjadi pada budaya mereka sendiri, baik yang berasal dari masa lampau, maupun yang sedang mereka hadapi di depan mata.


SINOPSIS NGENDOG

Sebuah desa yang bernama Desa Anteh dilanda kebingungan massal karena Kepala Desa mengabarkan kepada warganya bahwa ternyata, tanpa mereka sadari, desa mereka sudah tidak lagi memiliki lelaki. Lelaki terakhir di desa mereka telah pergi seperti para lelaki terdahulu untuk mencari emas ke Gerbang Impian. Padahal mereka semua tahu, tidak ada seorangpun dari lelaki itu yang pernah kembali lagi ke desa setelah pergi ke sana. Disaat kebingungan dan ketakutan itu, mereka semua bersembunyi di rumah-rumah mereka karena takut diserang oleh desa lain. Tetapi tiba-tiba, datanglah seekor ayam betina yaitu Bikang yang merupakan peliharaan Nini Anteh – ia sedang ditugasi Nini Anteh untuk melihat kondisi Desa Anteh, sementara pasangannya Jalu ditugaskan untuk menyampaikan berita kepada lelaki di desa lain untuk datang dan melamar perempuan dari Desa Anteh – ke desa tersebut. Tanpa disangka-sangka justru ia ditangkap dan disembelih, lalu dagingnya dimakan oleh seluruh warga desa karena mereka sudah lama tidak makan daging, termasuk Pitak – tokoh cerita ini – dan ibunya turut memakan daging si Bikang. Setelah memakan daging Bikang, mereka semua mengalami sakit perut yang hebat dan hasrat untuk buang hajat tidak bisa ditahan lagi.

Malam tiba, Pitak dan Ibunya didatangi oleh Bikang didalam mimpi mereka. Bikang menjelaskan bahwa ia sebenarnya bukanlah ayam walaupun ia berwujud ayam. Ia akan mengutuk desa tersebut apabila mereka tidak memenuhi syarat yang ia ajukan. Pitak dan ibunya ketakutan mendengarnya, lalu mereka segera menanyakan syaratnya. Bikang menjelaskan bahwa akan ada seekor ayam jantan yang datang ke desa mereka dan mereka tidak boleh membunuhnya. Pitak dan Ibunya menyanggupi persyaratan tersebut.

Ketika Jalu datang ke desa itu, ia kemudian ditangkap oleh warga, lalu warga memintanya untuk memberikan mereka lelaki. Jalu menyanggupinya, asal ia diperlakukan istimewa di desa itu. Sebenarnya Jalu dan Bikang menyalahi perintah yang telah diberikan. Singkat cerita, Jalu kemudian disembah oleh warga desa dengan panggilan Yang Mulia Ayam Jantan. Tak berapa lama, Nini Anteh mengetahui perilaku Jalu yang telah menyalahi aturan tersebut. Ia kemudian mengutuk Jalu, Jalu kemudian bertelur. Setelah bertelur, Jalu malah memainkan skenario baru untuk mengelabui warga. Ia meminta Pitak untuk memakan telur tersebut dengan janji bahwa Pitak akan hamil dan melahirkan anak lelaki yang mereka tunggu-tunggu.

Bagaimana kemudian nasib Desa Anteh? Apakah kemudian semua akan berjalan mulus? Jawabannya akan ditemukan di dalam pertunjukan berjudul “NGENDOG” ini.

[Mohamad Chandra Irfan]

Related

Teater 524194854811623385

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item