SEJARAH ESTETIKA: SEJARAH PEMIKIRAN SENI

Asmujo Jono Irianto, Heru Hikayat, Martin Suryajaya, Bambang Q. Anees, dan Chabib Duta Hapsoro
(Foto: MCI/Daunjati)
Bandung, Daunjati, 2016 – Penerbit Gang Kabel, Jakarta, menggelar bedah buku Sejarah Estetika karya penulis Martin Suryajaya di Balé Handap, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Kamis (10/11) sore hari. Pembicara yang kemudian tampil adalah Heru Hikayat (Kurator Seni Rupa), Bambang Q. Anees (Pengajar Religious Studies, UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan moderator Asmujo Jono Irianto (Pengajar Seni Rupa ITB), hadir juga Martin Suryajaya (Editor Jurnal IndoProgress dan lulusan STF Driyakara). Sore itu tampak peserta diskusi cukup antusias, terlihat dari banyaknya peserta yang turut hadir, mulai dari kalangan seniman, dosen, mahasiswa dan penggiat literasi.

Sebelum diskusi dimulai, kopi dan teh menjadi santapan penunjang, mengingat udara di daerah SSAS cukup dingin. Chabib Duta Hapsoro yang bertindak sebagai pembawa acara mengawali prakatanya dengan mengucapkan banyak terima kasih kepada Penerbit Gang Kabel yang bersedia membedah buku terbitannya di SSAS. Tampak sedari awal, moderator Asmujo Jono Irianto sudah duduk di kursi tempat para pembicara yang nantinya akan menyampaikan tanggapannya, terlihat Asmujo menulis di buku kecilnya sambil sesekali menghisap rokoknya. Chabib pun mempersilahkan Heru Hikayat, Bambang Q. Anees dan Martin Suryajaya untuk maju ke depan, duduk di kursi yang telah disediakan. Sunaryo selaku orang yang punya SSAS maju ke depan untuk memberikan sepatah dua patah kata, setelah Chabib mempersilahkannya.

Sunaryo mencoba mengilustrasikan betapa mudahnya jadi seniman di Indonesia, terutama dalam konteks pemikiran dengan ilustrasi studi yang pernah diemban oleh putranya ketika belajar seni rupa (lukis) di Eropa. Putranya Sunaryo begitu kaget ketika menghadapi pertanyaan mentornya di Eropa sana, pertanyaan tersebut terkesan dangkal namun acapkali tidak pernah menjadi bahan diskursus dan permenungan bagi seniman-seniman di Indonesia, misalnya dengan pertanyaan, apa itu garis? Kenapa garis itu mesti demikian?, dan sejumlah pertanyaan remeh-temeh lainnya.   

Sunaryo kemudian mulai menyinggung buku Sejarah Estetika, sebenarnya ia mengapresiasi betul atas lahirnya buku tersbut. Bahwa menulis buku dengan tebal sekira 1000 halaman adalah bukan pekerjaan mudah, dan seorang lelaki kelahiran 1986 ini telah menciptakannya. Sunaryo lantas sedikit berseloroh, 1986 itu SSAS berdiri dan Martin baru lahir ke dunia. Dari hal itu, kemudian Sunaryo menyampaikan usulan ke salah satu manager program SSAS, bahwa SSAS rutin mengadakan semacam kelas fotografi dan film, namun untuk tahun yang akan datang program tersebut ditutup saja dan digantikan dengan program kelas filsafat. Sontak peserta diskusi menyeringai, senyum, entah bahagia, entah apa.

Chabib kemudian menyerahkan acara sepenuhnya pada moderator, Asmujo Jono Irianto. Ia mengawali pengantarnya dari ilustrasi yang disampaikan oleh Sunaryo, di mana betapa gampangnya jadi seniman di Indonesia dengan tanpa memperhitungkan asupan pemikiran yang bisa dipertanggung-jawabkan dan jelas basis referensinya. Setelah itu Asmujo mempersilahkan pada para pembicara untuk menyampaikan tanggapannya atas buku Sejarah Estetika dengan durasi masing-masing sekira lima belas menit-an.

Hei, Pak Asmujo”, belum juga Martin bicara, Sunaryo sudah interupsi, “Itu lihat Martin, merokok juga belum pantas”. Seluruh peserta diskusi riuh-rendah ketawa. Martin seperti biasanya, hanya senyum kecil sambil posisi kepala selalu menunduk.

Martin dan Sejarah Estetika

Martin memulai pembicaraannya dengan apa yang melatari buku Sejarah Estetika terbit—buku Sejarah Estetika ini mula-mula diinisiasi oleh iCan dan Tita Rubi. Awalnya projek penulisan buku Sejarah Estetika ini diniatkan sebagai buku saku dengan empat pembagian menurut rentang historisnya. Namun ketika penulisan selesai dalam rentang waktu satu tahun, selesai ditulis tahun 2014, ternyata kadar sebagai ‘buku saku’ tidak semuanya rata, baik dari jumlah halaman maupun sub bahasan. Terkesan timpang, semisal periode klasik ketebalannya hanya mencapai 120-an halaman sementara yang modern sampai era kontemporer bisa sampai 600-an halaman. Akhirnya melihat kondisi demikian, disatukanlah keempat sub-bahasan tersebut dan hasilnya adalah ini, buku Sejarah Estetika.

Martin mulai menggeladah pengertian atau definisi estetika itu sendiri. Ia mengartikan estetika secara lebih longgar; estetika adalah filsafat kesenian. Seperti yang ditulis dalam pengantarnya di buku Sejarah Estetika bahwa mengartikan ‘estetika adalah filsafat kesenian’ dan ‘estetika tidak lagi diartikan sebagai filsafat keindahan’ didasari oleh dua alasan, pertama; keindahan hanyalah salah satu nilai estetis, padahal menurutnya, ada nilai estetis lain yang juga dibahas dalam estetika, misalnya, kesubliman, kedua; estetika tidak hanya membahas tentang nilai seni, tetapi juga tentang pengalaman estetis, status ontologis karya seni, hubungan antara seni dan masyarakat, dsb.

Kemudian menurut temuannya, estetika berbeda dengan sejarah seni. Estetika lebih bertitik-pusat pada sejarah pemikiran, sementara sejarah seni bertitik-pusat pada sejarah praktik seni. Martin juga melihat bahwasanya, ihwal estetika yang dibukukan di Indonesia ini banyak sekali lompatannya, terutama di wilayah historisnya, tidak terperinci. Lompatan historis tersebut jaraknya terentang jauh sekali, bisa sampai seribu tahun jaraknya dari satu tokoh atau aliran ke tokoh dan aliran yang lainnya. Ia juga mendaku, dengan bersikap rendah hati, bahwasanya, pengerjaan buku Sejarah Estetika ini kerjanya asal telaten. Kebanyakan sumber yang didapat bertolak dari internet, e-book dan di sana semuanya sudah terdokumentasikan dengan baik. Namun dia juga mengalami tantangan, di saat keterbatasan sumber, terutama ihwal Estetika Timur. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan historis, di mana yang kemudian di-kedepankan adalah perdebatan atau diskusi-diskusi pada saat itu sehingga melahirkan satu genre atau aliran. Sebelum memungkas pembicaraan, menulis buku Sejarah Estetika ini adalah upayanya untuk mengklarifikasi perdebatan-perdebatan seni orang-orang lampau hingga ke saat ini—juga ia berharap buku ini ada gunanya dan ada yang tertarik untuk mendiskusikannya—dan bagi Martin perkataan ‘ada gunanya’ bukan upayanya untuk mengklaim bahwa buku tersebut berguna.


Perjumpaan Heru dengan Estetika

Selanjutnya giliran Heru Hikayat yang berbicara. Heru mulai menanggapi buku Sejarah Estetika bertolak dari pengalamannya, Sejarah Estetika menjadi jembatan perjumpaan “aku [Heru] dengan estetika”. Seperti yang ditulis dalam makalahnya, Heru mengenal estetika justru lewat optik modern. Karena pertemuannya dengan estetika ‘terlalu modern’, justru Heru menyarankan cara pembacaan tersebut dikesampingkan dulu untuk bisa masuk pada Sejarah Estetika yang ditulis Martin. Salah satu yang dibahas Heru adalah bagaimana dirinya yang berangkat dari sebuah kota kecil lalu berkuliah di Seni Rupa ITB. Yang tertanam dalam pemahaman Heru ihwal seni rupa hanya pada persoalan gambar-menggambar, dengan pengertian itu juga tidak jauh dari sekadar gambar pemandangan dan potret. Kita bisa melihat bahwa seseorang dibaiat bisa menggambar ketika dia mampu menggambar menyerupai kenyataan. Alih-alih menggambar di depan sawah, misalnya, yang akan dijadikan objek-tiruan di kanvas, Heru malah meniru ‘citraan alam’ itu sendiri, melihat sawah dari lukisan yang ada sawahnya.

Hal lain yang diterangkan Heru adalah bagaimana pertemuannya dengan dosen karismatik, Bu Rita Wagdo, seorang seniwati kelahiran Jerman. Bu Rita selalu menekankan pada anak didiknya agar mereka (para mahasiswanya) harus mempunyai garis sendiri, merah sendiri. Bu Rita menyebutnya sebagai ‘kejahatan’ apabila para mahasiswanya menggunakan warna yang langsung dihasilkan dari tube cat. Dari fenomena tersebut, Heru mendapati dirinya diajarkan bagaimana mengolah warna se-pribadi mungkin. Pilihan lain yang jatuh pada diri Heru adalah dia memilih Seni Murni sebagai basis eksplorasinya ketimbang desain, selain karena pada saat itu pilihannya di seni murni adalah juga pragmatis, karena di seni murni tidak terlalu banyak saingannya.

Menurut Heru, membaca buku Sejarah Estetika adalah menyaksikan lanskap perdebatan estetika (sebagai sains) dan estetikawan (sebagai penggiat estetika) dengan perspektif Eropa-sentris. Seperti juga yang diakui Martin, bahwa pangkal buku Sejarah Estetika yang ditulisnya berangkat dari tradisi filsafat Barat. Martin, menurrut Heru begitu terperinci dalam mengurai setiap bahasan estetika, pembaca seperti diberi sebuah kunci untuk kemudian disuruh membuka pintu (data primer) yang seutuhnya. 

Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, ketika nama Heru Hikayat diterima sebagai mahasiswa FSRD ITB ada benturan ihwal dilarangnya menggambar makhluk hidup dalam hadits. Kondisi pembelahan mulai merangsek ke tubuh Heru, apakah dirinya harus membatalkan kuliah di FSRD ITB. Heru berkonsultasi ke orang-orang yang ia anggap punya pengetahuan lebih dalam wilayah agama, dan jawabannya; itu adalah hadits sahih. Akhirnya kuliah Heru tetap dilanjut sambil mengamini pengertiannya soal menggambar makhluk hidup, selama tidak menjadi pemberhalaan makhluk hidup tersebut, maka tidak apa-apa. Di sela-sela pernyataan itu, Heru menyempatkan diri bertanya ke BQ—bagi Heru karena dirinya adalah umat, sementara BQ adalah ustadz, maka wajib menerangkan hal itu, biar umat tercerahkan.

BQ ketawa. Heru melanjutkan bahasannya.

Merujuk pada esai yang ditulis Heru, sekaligus juga menjadi pemungkas pembicaraannya sebelum masuk ke termin selanjutnya, bahwa; alih-alih memandang seni sebagai cara menghayati semesta, yang pada gilirannya akan membawa kita pada Yang-Ghaib itu, jangan-jangan lebih baik kita meneladani mereka yang telah diberi ‘karomah’?   

Selesai itu, peserta diskusi tepuk tangan, sambil Asmujo menerima microphone dari Heru, lalu bilang, “filosofi sekali, lu, Ru, he he he”. Sementara Bambang Q. Anees memadamkan rokok kreteknya, siap-siap gilirannya bicara.

BQ dan Estetika Sufi

Bambang Q. Anees (BQ) tampak posisi kaki kanan ditumpangkan ke kaki kiri, kepala dilengkapi topi pet dan bagian badan dibungkus jaket kulit hitam, lalu khas suaranya yang berat mulai bicara. Menurutnya, buku Sejarah Estetika laiknya buku telpon, sudah disediakan semuanya. Dari mulai pra-Yunani sampai era kontemporer. Seperti halnya buku telpon, kita bisa mencari nama siapa pun, nomornya, hingga alamatnya, sama halnya dengan buku Sejarah Estetika. Kita perlu yang mana, tinggal lihat daftar isinya dan buka halaman yang ditujunya. Ia menuturkan seperti dipaksa menyerah oleh buku Sejarah Estetika yang ditulis Martin, tapi sekaligus juga diuntungkan; di kampusnya banyak yang turut berkomentar, “wih, tebel banget bukunya”, kita bisa melihat bahwa buku tebal akan mempengaruhi cara orang menilai pada diri kita, lumayan jadi dianggap pinter, ungkap BQ. Karena dipaksa menyerah, Martin sebagai penulis buku Sejarah Estetika memberi banyak bantuan dalam mengantarkan pembacanya, semacam kompensasi, setiap per-bahasan dan sub-bahasan selalu diakhiri dengan ikhtisar. Jadi BQ merasa terbantu dan tuntas membaca juga, ikhtisarnya. Upaya yang menarik adalah bagaimana Martin menarik panjang beberapa istilah yang memang sudah menjadi pemahaman kebanyakan orang. Misalkan istilah katharsis, Martin memilih pemaknaannya tidak lagi ‘pembersihan emosi, pelepasan emosi dan atau pemurnian moral-spiritual’ melainkan memilih makna ‘penjernihan intelektual’. 

BQ mulai memasuki buku Sejarah Estetika dengan tulisan Martin di Jurnal IndoProgress—“Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris”—bahwa menurutnya Estetika Partispatoris adalah muara dari keseluruhan tulisan dalam buku Sejarah Estetika Martin ini. Di satu sisi itu menjadi tawaran menarik, tapi di sisi lain Estetika Partisipatoris mendudukan seniman sebagai organizer, tidak lagi sebagai subjek istimewa. Tendensi tersebut terlihat dari cara Martin membedah keseluruhan konsepsi Sejarah Estetika; ontologi dan epistemologi adalah hal mafhum ketika seorang penulis mengkaji seni, sementara Martin memasukan filsafat sosial sebagai basis kajiannya—ini dimungkinkan adanya tendensi tertentu, seperti yang ditulis Martin sendiri ketika menyimpulkan estetika Plato, ‘disadari atau tidak, kesenian telah mengandung fungsi sosial’.

BQ kemudian banyak mengulas Estetika Sufi, bahwa dalam konsepsi Estetika Sufi, seni dijalankan untuk yang lebih baik, bukan untuk yang lain, tapi untuk diri sendiri. Seperti yang ditulis dalam esainya; karya seni lahir (Estetika Sufi) dari proses pengilhaman setelah seorang pecinta yang berusaha menyucikan dirinya dari selain kekasihnya serta membuka pikiran dan hati seluas-luasnya bagi kebenaran ihwal kekasih sebenar-benarnya. Karya seni merupakan tamsil dari perjalanan dari cinta menuju cinta, sehingga seni dapat dijadikan tangga naik (atau sarana pendakian), bahkan penerbangan menuju alam transendental.

Dalam konsep Estetika Sufi bahwa ‘subjek-istimewa’ masih penting untuk pengejawantahan seni, karena hanya ‘Yang-Istimewa’ yang dapat melihat semua hal itu indah, dan ‘ke-Maha-an’ tuhan jelas. Berkaitan dengan itu, BQ menjawab apa yang ditanyakan oleh Heru di muka, bahwasanya dalam kaidah usul-fiqh memang tidak ada yang menyatakan demikian, tetapi bahwa prosesi menggambar, mematung, itu ada di Estetika Sufi, karena benar adanya, mereka (para sufi) akan melihat pembendaan itu adalah tuhan.

Apa yang disampaikan BQ ihwal Estetika Sufi adalah upayanya sebagai bandingan atas buku Sejarah Estetika yang terang bertolak dari tradisi filsafat Barat. BQ juga menyinggung, bahwa pembahasan Estetika Timur tidak terlalu banyak dikuak, padahal BQ sendiri pernah mengetahui kalau Martin pernah menulis ihwal Ibn-Arrabi dengan Hegel.

Yang Tertangkap Saat Termin Tanya-jawab

Martin menanggapi apa yang disampaikan oleh BQ, kenapa filsafat sosial menjadi basis-analisis dalam buku Sejarah Estetika ini, ini tidak lain karena posisi seniman, masyarakat, selalu diperdebatkan. Kedua hal itu selalu menjadi fundamen-interogasi. Hal yang demikian sudah menjadi simtomatik tertentu. Oleh karenanya, filsafat sosial mempunyai peranan dalam buku Sejarah Estetika ini. Tercermin dalam buku Sejarah Estetika ini, sebelum masuk ke hal perdebatan estetika-nya itu sendiri, maka akan diawali dengan kondisi atau konteks masyarakatnya terlebih dahulu—sehingga lahirnya sebuah pemikiran bisa terbaca secara bertahap. Tidak ujug-ujug.

Martin juga menanggapi, bahwasanya kenapa uraian ihwal Estetika Marxis begitu panjang lebar, ia melihat bahwa hal itu adalah upaya pembongkarannya atas Estetika Marxis tersebut. Sejauh ini, menurutnya, di Indonesia masih belum ada yang melakukan hal demikan. Kemudian ia menjawab pertanyaan, apa yang dimaksud dengan mencipta dalam sastra. Martin menjawab, bahwa mencipta yang dimaksud dalam sastra bisa dilihat dari periode Renaisans, lewat Philip Sidney (penyair dan tentara kerajaan Inggris) dalam bukunya Defense of Poesie—di sana terang sekali, Sidney melakukan penolakan atas asumsi Plato, antara fiksi dan kepalsuan. Sidney membongkarnya, yang sekarang kita kenal dengan istilah ‘fiksi’. Bagi Sidney, semua cabang seni adalah representasional (dari alam), kecuali sastra. Seperti yang ditulis Martin dalam buku Sejarah Estetika, “karena hanya penyair yang menolak ketundukan itu dan bangkit bersama daya kreatifnya, lalu menumbuhkan alam yang lain, yakni dengan membuat kenyataan yang lebih baik dari alam atau dengan mencipta kenyataan baru yang sebelumnya tak ada di alam.. demikianlah, ia berjalan bergandengan tangan dengan alam—tidak direngkuh dalam batasan sempit, tetapi bebas bertindak berdasarkan kecerdasannya sendiri.” (Defense of Poesie 7, 25-34). 

Martin kembali menanggapi apa yang dilontarkan oleh BQ, bahwa tulisan yang di IndoProgress soal “Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris” adalah tulisan terbaru dibandingkan dengan apa yang ada dalam buku Sejarah Estetika ini. Buku Sejarah Estetika sudah selesai tahun 2014, sementara tulisan di IndoProgress tahun 2015. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali, bahwa keseluruhan tulisan yang ada di Sejarah Estetika memuara ke Estetika Partisipatoris. Sedangkan kurangnya bahasan Estetika Timur, selain daripada keterbatasan sumber, Martin juga mengakui bahwa dirinya tidak bisa bahasa Arab. Peserta diskusi ketawa—penulisan buku Sejarah Estetika jelas didasarkan pada pengetahuan yang sudah menjadi kanon, berangkat dari filsafat. Bisa dilihat dari pembabakan yang Martin buat. Apa yang ingin di-kedepankan Martin dalam buku Sejarah Estetika ini salah satunya adalah untuk tetap mendiskuruskan seni—sehingga tidak ada keputusan final ‘kualitas’ karya seni.

Salah seorang penanya yang juga pengajar di salah satu institusi yang ada mata kuliah seni-nya, mengapresiasi buku Sejarah Estetika ini, karena dengan begitu ia bisa membuat bahan ajar dari buku Sejarah Estetika. Yang kemudian menjadi soal adalah, kenapa mahasiswanya, sebutlah di DKV selalu ga mudeng kalau mulai bicara soal-soal filsafat, ke sininya soal estetika. Martin menjawab sekaligus juga mengutarakan pengakuan, bahwasanya dia pun pernah mengajar, sama di DKV, tapi bagian Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU)—waktu itu mengampu mata kuliah logika—ya, problemnya sama, mahasiswa tidak mudeng, terutama soal logika, tidak ingin tahu soal silogisme, dsb. Sampai Martin bikin penganalogian lewat gambar-gambar seni rupa, tetap saja. Hingga akhirnya sampai saat ini Martin belum menemukan metodenya harus bagaimana. Karena belum menemukan, ia tidak lagi ngajar, dan memilih menjadi penulis. Martin ketawa, peserta diskusi pun sama.

Selanjutnya BQ menanggapi hal itu, mau tidak mau, generasi sekarang adalah generasi twitter—generasi yang tidak mempunyai nafas panjang dalam membaca. Sehingga bisa ketebak persepsi-persepsinya. Bagaimana pun, buku selalu mempengaruhi cara persepsi dan seni selalu terkait erat dengan sejarah pemikiran dan sejarah pemikiran akan memberikan banyak persepsi—sehingga praktik dalam seni akan beraneka.

Heru memberikan tanggapan, bahwa buku Sejarah Estetika ini sudah sangat runut. Runut sekali. Akan tetapi masih banyak sekali PR-nya. Seperti disampaikan Martin sendiri, Estetika Timur belum semuanya tergarap, bahkan masih banyak. Kemudian Heru menambahkan, bagaiamana dengan estetika setiap daerah yang ada di Indonesia ini? Masih banyak, bukan?

Menarik ketika BQ melihat marhabaaan. Apakah marhabaan termasuk dalam konsepsi Estetika Partisipatoris? Marhabaan selalu dibaca setiap malam Jumat di desa-desa.  Biasanya kyai hanya membuka forum saja, selebihnya dilakukan secara bersama-sama—motif intonasi suaranya variatif; berteriak, lirih, meratap. BQ juga menyinggung para penyair, bahwa tak ada puisi seabadi marhabaan. Selalu dibacakan, terus-menerus.

Chabib mulai memberi kode ke moderator, Asmujo. Asmujo menutup acara dengan berkelakar, "Ini pasti ga bakalan ada lagi yang nanya, sudah pada takut", ucap Asmujo sambil tak lupa senyum.

Hujan sudah mulai menipis. Bubur ayam sudah siap disantap. Selesai.

[Mohamad Chandra Irfan]

Related

Luar Kampus 6289146138592913383

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item