TEATER ESKA : PERTUNJUKAN KHULDI (RABU, 14 DESEMBER 2016)



CATATAN PERTUNJUKAN TEATER ESKA : "KHULDI"

Kekerasan atas nama agama atau keyakinan, atas nama partai atau gagasan politik, atas nama etnis atau suku bangsa, komunitas atau kelompok, atas nama bangsa dan negara, atas nama kebenaran dan keadilan, dan atas nama-nama lainnya, telah kian memfragmentasi kehidupan sosial kita. Tak bisa dipungkiri bahwa hidup itu beragam. Namun sayangnya keragaman itu justru membuat masyarakat terpecah-belah. Orang-orang mencaci dan memaki, menghina dan memusuhi yang lainnya, meliyankan siapa saja yang tak sesuai dengan pendiriannya. Korban telah berjatuhan di bawah kaki atomisme ini. Meninggalkan terauma mendalam, meninggalkan luka yang menganga pada tubuh sosial kita.

Fetisisme, itulah sumber dari petaka ini. Semacam pemujaan berlebih pada objek yang disebabkan oleh kegagalan dalam menjangkau makna atau nilai yang dikandungnya. Orang memuja golongannya dan membenci yang lain. Identitas komunal yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan mulianya telah berubah menjadi tujuan itu sendiri. Orang menjadi buta, tak mampu lagi melihat makna dari segala keragaman. Keragaman pun dipandang sebagai perbedaan, lalu menjadi tujuan kesibukan, bahkan alasan untuk berbuat di luar batas kemanusiaan.

Lalu apa yang sesungguhnya telah hilang dan tersisa dari kenyataan ini, tak lain adalah universalitas dan kekosongan. Kita tak lagi memiliki cara untuk menemukan nilai pengikat apa yang mampu menaungi keterpecah-belahan ini. Sosialitas kita semakin terkotak-kotak tanpa orientasi selain dirinya sendiri, semakin tercerai-berai menjadi partikel-partikel yang sibuk menutupi kekosongan masing-masing, semakin menggilai panggung kontestasi yang dipenuhi korban dan trauma. Maka seperti suatu bangunan yang runtuh, kita kembali tergeletak di antara ‘ketiadaan’ sosial dan pertanyaan besar tentang apa itu masyarakat, bagaikan bongkahan batu yang berserak dan bergerak demi menentukan nasib sendiri.

KHULDI sebagai judul dari pertunjukan ini, merupakan metafor dari kegagalan pemaknaan, pemujaan pada objek, dan keruntuhan sosial tersebut. Sebagaimana kisah Adam dan Hawa, demi adanya dunia maka buah terlarang itu harus ada. Dengan kata lain, di satu sisi keberagaman sebagai khuldi-khuldi adalah hal yang niscaya atau bahkan syarat bagi terbentuknya masyarakat. Namun di sisi lain ia adalah sumber petaka jika kita gagal dalam menyingkap makna atau nilainya. KHULDI adalah sebuah refleksi atas perjalanan nasib sosial kita hari ini.

JADWAL PEMENTASAN
Hari/Tgl : Rabu, 14 Desember 2016
Tempat : GK. Rumentang Siang, Bandung. (Jl. Baranang Siang No. 1, Kebon Pisang, Sumurbandung)
Jam : 19.30 WIB – Selesai

TIM PRODUKSI
PIMPINAN PRODUKSI Muhammad Ramadhan ADMINISTRASI Abdul Ghofur KEUANGAN Rizki Zuriati HUMAS Ahmad Kurniawan DOKUMENTASI Buyung Ispramadi LOGISTIK Annisa Ayu Latifah

TIM KREATIF
SUTRADARA Zuhdi Sang ASTRADA Shohifur Ridho Ilahi TIM NASKAH Ghoz T. E., Jauhara Nadvi Azzadin, Lailul Ilham, Muhammad Saleh STAGE MANAGER Karunia Putra Pamungkas PENATA PANGGUNG Efendi PENATA CAHAYA Habiburrahman Nawawi PENATA MUSIK Labiburrahman PENATA KOSTUM & RIAS Nevy Agustina

[Mohamad Chandra Irfan]


Related

Teater 1386484894419165392

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item