TITIK HITAM, RUMAH UNTUK KECEMASAN & MANA KEJANTANANMU?



John Heryanto

 
Adegan flash-back "Titik Hitam".Foto: John Heryanto

“…ia begitu murung dan suram tapi di lukisan itu, ia nampak sekali hidup.” Begitulah keheranan pertama seorang dokter keluarga ketika memeriksa  pasien. Sebuah lukisan perempuan di kanvas menjadi  penghubung antara yang tertidur sakit di kamar dengan ruang tamu. Seorang ibu hanya duduk di kursi lantas terheran-heran melihat kedua anak perempuannya tumbuh menjadi orang lain; Hartati sakit ingin mati dan Ayu pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Adang, tidak mengerti kenapa istrinya yang sakit mendadak lupa pada nama suami sendiri sehingga tak sekalipun namanya dipanggil. Rumah coklat dengan interior vintage itu perlahan menjadi asing. Rumah muram seperti ingatan Dokter tentang dongeng kancil pada anak-anaknya dulu di rumah. Begitulah narasi pertama hadir di panggung membawa serentetan pertanyaan tentang rumah dan para penghuninya; apa itu rumah dan apa itu keluarga?


Adegan Pertama "Titik Hitam" Foto: John Heryanto

Pertunjukan “Titik Hitam” (08/11/16) di GK. Sunan Ambu ISBI Bandung, merupakan rangakian Ujian Akhir Gelombang II Prodi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung –minat pemeranan. Adapun peserta Ujian terdiri dari Ai Ineu (Ibu), Andrian (Adang), Rivan (Dokter Gun), Tiara Gerbang (Ayu), Mutia (Hartati) dan Iwan Setiawan (Trisno) sebagai aktor pendukung. 

“Titik Hitam“ merupakan sebuah drama rumah yang berjalan dalam  bayang-bayang nasib.  Apa yang ada dalam rumah, setiap menitnya tak ada yang pernah tahu secara pasti bagaimana semestinya menjalani kehidupan layaknya orang kebanyakan. Seorang ibu hanya tahu bahwa; sang menantu semestinya tidak banyak keluar rumah untuk bekerja lama–lama meninggalkan istri, seorang perempuan mestilah memelihara ‘nama’ dengan tak pergi ke mana saja dengan siapa saja sesuka hati. Bagi seorang dokter yang utama ialah melayani dan memahami keadaan pasien mesti harus sedikit lancang mencampuri urusan pribadi yang sakit, tamparan di pipi dan lain sebagainya. Seorang suami (Adang) mencintai istri dengan bekerja mencari uang maka baginya meninggalkan rumah berbulan-bulan merupakan sebuah kewajaran mencari nafkah. Begitu juga dengan sang istri (Hartati) mencintai suami dengan menjaga  benda-benda (rumah, perhiasan dan perabotan rumah tangga pemberian suami) semata, sedangkan tidur dengan laki-laki lain adalah merupakan hal yang biasa dilakukan oleh perempuan dan laki – laki manapun  sebagai cara menjalani kedewasaan seperti pula Ayu, Trisno dan siapapun. Lantas apa yang dimaksud bahagia? Inilah kiranya yang menjadi soal bersama, ketika tokoh-tokoh hadir membawa caranya sendiri-sendiri dalam merumuskan hidup. 

Adegan 5 dalam "Titik Hitam" Foto: John Heryanto

Kesunyian rupanya memiliki bahasa yang beda dalam menampakannya; tidak hanya menjelma neraka bagi Hartati, masa tua bagi sang Ibu atau Dokter, masa tenang setelah perang revolusi bagi Adang, waktu yang enak untuk Trisno melukis, dan saat-saat gelisah bagi Ayu. Nyatanya kesunyian adalah hidup itu sendiri yang menuntut penyelesaian setiap orang yang terlibat di dalamnya. Kesunyian seketika menjelma misteri dan lorong gelap yang tak ter-apakan dari yang bernama manusia, di situlah sang tokoh hadir membawa jawaban-jawaban dari kesepian sendiri-sendiri melalui laku di panggung. Namun sayangnya sang aktor tertibun narasi  yang dipikul,  sehingga antara aktor dan sang tokoh yang dimainkan menjelma  mahluk asing, yang berjarak dan gagap. Alhasil  panggung tidak memperlihatkan peristiwa dramatik  selain dari pada teks-teks yang terbang  bebas ke mana saja tanpa arah yang pasti. Rupanya sang nasiblah yang paling berkuasa dalam drama “Titik Hitam” yang berlangsung selama 117 menit dan “mana kejantananmu?”

Adegan Terakhir "Titik Hitam" Foto: John Heryanto

Related

Teater 1458172602591320079

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

Recent

Comments

item